
Siang hari pada awal bulan Agustus, matahari terasa begitu dekat, seolah tinggal beberapa jengkal saja dari ubun-ubun. Untungnya masih ada angin sepoi-sepoi yang ikut lewat, membawa hawa hangat yang justru bikin mengantuk. Jenis cuaca yang pas untuk tidur siang! Tampaknya demikian pula yang dipikirkan seekor kucing putih yang meringkuk di atas pembatas jalan dekat Fakultas Ilmu Administrasi. Ia terlelap, sampai sebuah tangan terulur pelan ke arahnya dan membuatnya terjaga.

Tidak jauh dari situ, tepatnya di Fakultas Ilmu Budaya dekat keran air yang menetes pelan, seekor anak kucing tampak menunduk mencari minum. Di tengah terik siang itu, rupanya yang kehausan tidak hanya spesies manusia saja.
Dua momen kecil ini menjadi pengingat bahwa di sela hiruk-pikuk perkuliahan, ada penghuni lain yang sering luput dari perhatian. Sela-sela perbincangan yang sering diisi cerita mistis soal makhluk halus yang menghuni kampus. Padahal, ‘makhluk halus’ ini justru paling nyata penampakannya. Mustahil menyambangi kampus tanpa berpapasan dengan mereka.
Selama bertahun-tahun, keberadaan kucing-kucing ini nyaris dianggap sebagai bagian dari lanskap UI yang dapat mengurus dirinya sendiri. Padahal, di baliknya ada komunitas mahasiswa yang diam-diam bekerja menjaga kesejahteraan mereka: UI Peduli Hewan, atau yang lebih dikenal dengan UIPH.
Cia (24) mahasiswa Sastra Jepang angkatan 2022 yang tinggal menunggu wisuda adalah ketua UIPH saat ini. Ia baru resmi bergabung sekitar tujuh bulan lalu dan langsung diangkat menjadi ketua. Meski sebelum itu, ia sudah lama bergerak sendiri sebagai relawan lepas, memberi makan kucing liar baik di dalam maupun luar UI dengan dana pribadinya sendiri. "Saya merasa iba ketika melihat kucing sakit, tetapi saya tahu diri bahwa saya tidak bisa membantu dalam bentuk finansial sehingga saya membantu dalam bentuk SDM," katanya.

Sampai kini, UIPH tidak punya anggaran tetap dari institusi, apalagi gaji. Yang mereka punya hanya jadwal feeding bergilir, disusun ulang setiap awal bulan sesuai waktu luang masing-masing anggota, dengan kewajiban minimal satu kali feeding sebulan per orang. Sistem ini sengaja dibuat sederhana supaya bebannya tidak jatuh ke satu-dua orang saja. Maklum, semua yang menjalankannya adalah mahasiswa aktif yang masih mengemban tanggung jawab akademik masing-masing.

Sejumlah kasus yang mereka tangani juga jauh dari ringan, dan salah satu yang paling membekas justru dialami Cia sendiri. Suatu malam, saat ia sedang berada di Pos Layanan Keamanan (PLK), datang laporan ada kucing tertabrak di halte Vokasi. Bersama tim URC PLK UI, ia bergegas ke lokasi dan mendapati kucing itu tergeletak tak berdaya, tetapi masih bernapas seperti menahan sakit. "Kami pun ngebut membawanya ke klinik untuk mendapatkan penanganan," kenangnya. Kucing itu selamat, dan kini hidup lebih aman di lingkungan Vokasi. Untuk menutup biaya klinik di kasus-kasus semacam ini, UIPH mengandalkan donasi dari civitas akademika UI dan sesekali membuka penggalangan dana khusus ketika biayanya melebihi kas rutin mereka. Tidak semua kasus berakhir sebaik cerita di halte Vokasi itu. Tapi ketika kucingnya pulih, semua kecemasan yang menyertai proses itu terasa terbayar.

Namun, di luar tantangan finansial dan keterbatasan SDM, ada satu tantangan lain yang terus berulang tiap tahunnya, yaitu kebiasaan membuang kucing ke wilayah UI. Walaupun sudah tersedia papan-papan peringatan bertuliskan larangan membuang hewan peliharaan yang mulai terpasang di sejumlah titik kampus, seperti di jalan menuju Pusgiwa dan pertigaan Vokasi. Sayangnya, papan peringatan itu belum cukup menghentikan kebiasaan tersebut. "Setiap tahun semakin banyak," kata Cia soal tren pembuangan kucing yang ia amati, dan yang paling sering dibuang justru kucing sakit atau anak kucing tanpa induk.

Di luar semua tantangan itu, relasi antara kucing dan mahasiswa UI sebenarnya tidak berjalan satu arah. Selain membantu mengendalikan populasi hewan kecil seperti tikus di beberapa sudut kampus, kehadiran mereka juga jadi pelarian kecil dari tekanan kuliah. Seperti yang dirasakan Abyan (23), alumni Antropologi Sosial UI angkatan 2021. "Kucing-kucing itu jadi semacam stress relief buat aku waktu itu," katanya, mengingat kebiasaannya berhenti sejenak mengelus kucing di sekitar gedung FISIP di tengah tumpukan data dan draft skripsi yang belum selesai. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh UIPH, cerita Abyan merupakan salah satu cerita dari banyak mahasiswa yang mengakui bahwa momen paling melegakan setelah ujian datang dari hal sesederhana duduk sebentar bersama kucing di kampus.

Tahun ajaran baru akan membawa kita kembali sibuk dengan rutinitas masing-masing. Namun ada baiknya, di sela itu semua, kita sisakan sedikit ruang kesadaran bahwa kampus ini juga rumah bagi teman berbulu kita. Dengan menjaga rumah bersama itu, sekecil apa pun bentuknya, dapat menjadi kerja yang layak kita bagi bersama.
Jika ingin membantu menyediakan makanan atau mendukung biaya pengobatan kucing UI, dukungan dapat disalurkan melalui donasi UIPH. Nomor rekening untuk donasi tersedia di akhir carousel Instagram kami, yuk cek postingan ini!
Fotografer: Aisha Denanti L., Annisa Keya, Ariqah Ayla, Nasywa Sayyidah R.
Teks: Annisa Keya
Penyunting: Naswa Dwidayanti Khairunisa
Design: Tsania Rachma
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Foto