
Erat melekat dengan identitasnya sebagai bagian dari civitas academica Universitas Indonesia (UI), mahasiswa UI pun termeterai sebagai sosok-sosok jenius yang hanya gemar belajar serius. Sayangnya, anggapan itu tidak bernilai seratus. Terlepas dari identitasnya, mahasiswa UI tetaplah manusia-manusia biasa yang membutuhkan jeda di antara aktivitas-aktivitas akademiknya. Hal itu terlihat dari banyaknya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) nonakademik yang melengkapi kehidupan perkuliahan mereka. Lebih dari itu, mereka juga membentuk komunitas-komunitas nonformal lainnya berdasarkan kesamaan akan minat tertentu. Salah satunya adalah UI Bermain.
UI Bermain merupakan suatu komunitas nonformal yang mewadahi para mahasiswa UI untuk berkumpul dan bermain bersama. Ada permainan fisik, seperti petak umpet dan bentengan. Ada juga permainan papan (board game), seperti ular tangga dan monopoli. Berbagai opsi permainan dimainkan sesuai kesepakatan. Sebelum hari berkumpul tiba, anggota UI Bermain berdiskusi untuk menentukan permainan yang hendak dimainkan. Semua anggota bebas mengajukan pilihan permainan selama jumlah pemain yang akan hadir mencukupi untuk melakukan permainan tersebut. Bagi anggota lain yang ingin memainkan permainan serupa atau tidak memiliki usulan lainnya, sangat bebas memilih kelompok bermain sesuai preferensinya masing-masing. Dengan begitu, permainan benar-benar dapat terasa menyenangkan.
Komunitas ini terbentuk dari iseng-iseng seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI bernama Alya. Pada 5 November 2023 lalu, akun @undipmenfess di platform X memposting suatu ajakan kepada sesama mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) untuk melepas kepenatan perkuliahan dengan bermain bersama. Adapun ajakan itu terinspirasi oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang telah lebih dahulu melakukan aktivitas tersebut. Melihat itu, Alya tergelitik untuk mengutip postingan tersebut. Jemarinya pun mengetik ajakan serupa kepada sesama mahasiswa UI lainnya dan mempostingnya di UIfess Peer Club. Tanpa menunggu lama, tanggapan-tanggapan menyenangkan dan jawaban-jawaban yang mengiakan usulan Alya memenuhi kolom komentar postingannya.
“Awalnya, tuh, enggak expect bakal di-reply sama banyak orang, kan. Terus ketika sudah banyak di-reply dan mereka pada excited, enggak enak, dong, kalau aku ghosting, nih. Akhirnya, aku bikin, lah, grup LINE. Aku drop link grupnya di situ (red: postingan X Alya), terus orang-orang pada join gitu aja,” jelas Alya, sang cikal bakal UI Bermain.
“Sebenarnya, waktu itu, aku bingung mau ngapain gitu, tapi aku coba awali dengan sapa, ‘Halo!’, ‘Hai!’, ‘Selamat datang, ya!’. Aku lanjut dengan nanya gitu, ‘Kita mau main … gini-gini-gini. Ini beneran pada mau main?’ (Mereka) pada excited sambutannya, dengan gembira juga, ‘Iya. Mau, mau!’ gitu. Ya, terus, aku ngide bikin polling gitu (biar tahu) pada bisa kapan. Ternyata, pada bisa besok banget! Kalau enggak salah, besok atau dua hari lagi. Setelah itu, aku bikin announcement, kayak BC (red: broadcast)-an gitu. Besoknya, beneran pada datang. Akhirnya, dari situ, (UI Bermain semakin terkenal) dari mulut ke mulut dan dari tweet ke tweet. Sekarang, member UI Bermain sudah ada 490-an orang dari yang sebelumnya hanya 60 orang,” lanjut Alya panjang lebar.
Pertumbuhan anggota yang pesat membuat grup itu kehabisan daya muat. Dengan usulan dan bantuan dari teman-teman UI Bermain lainnya, Alya pun membuat sebuah server baru di Discord sebagai sarana komunikasi tambahan bagi para anggota, terutama anggota baru yang tidak dapat tertampung di grup LINE. Melalui server itu juga, Alya dan anggota UI Bermain lainnya dapat bersama-sama memainkan permainan-permainan digital yang terintegrasi dengan Discord, seperti Stumble Guys, Roblox, dan Among Us.
Seiring dengan pertumbuhan kuantitas anggotanya, UI Bermain juga turut menumbuhkan kualitasnya sehingga tidak sekadar menjadi wadah bermain bagi para anggotanya. Server Discord yang semula hadir hanya sebagai ruang senang-senang, bertambah peran sebagai ruang serbaguna yang bermanfaat bagi anggotanya, tak terkecuali secara akademik. Melalui salah satu lapak di server UI Bermain, setiap anggota bebas menggunakannya untuk aktivitas-aktivitas di luar bermain, mulai dari saling bertukar informasi terkait kegiatan perkuliahan, mengajukan bantuan untuk mengisi kuesioner penelitian, hingga mengundang untuk hadir di acara-acara internal dan eksternal kampus. Dengan demikian, UI Bermain telah turut menjadi wadah yang bermanfaat untuk memperluas jaringan pertemanan dan mempermudah sejumlah kegiatan akademik mahasiswa UI.
Sejalan dengan hukum tabur tuai–benih positif dari tujuan Alya membentuk komunitas UI Bermain tumbuh menjadi hal-hal positif yang bermanfaat bagi anggotanya telah menuai berbagai respons positif, terutama dari sesama teman UI Bermain yang secara langsung merasakan dampaknya. Ada yang mendapatkan ketenangan karena memiliki ruang untuk menyegarkan diri, ada yang merasa nyaman karena mengenal banyak teman baru, bahkan ada yang mengharapkan kenaikan status UI Bermain dari komunitas nonformal menjadi UKM universitas.
“Aku enggak tahu, sih, ini bercanda atau enggak. Jadi, ada yang ngusulin kayak dibikin UKM, tapi sepertinya masih susah, ya. (Walaupun) ada yang nyeletuk, ‘Ya, udah. Ini tinggal kumpulin berkas aja ke Dirmawa (Direktur Kemahasiswaan), jadiin UKM!’ gitu. Cuma, bentar dulu, deh, karena, kan, kita baru berjalan, tuh, kayak-nya baru sebulan setengah. Abis itu, kejeda liburan semester ini (red: semester ganjil 2023/2034). Jadi, kita belum tahu (apakah UI Bermain akan menjadi UKM). Memang banyak yang mengusulkan untuk jadi UKM, tapi sejauh ini, sih, aku pribadi kebayang-nya baru jadi klub nonformal aja, kayak UI Makara Book Club dan sebagainya gitu,” tanggap Alya terhadap usulan tersebut.
Tidak Hanya di Tingkat Universitas, Komunitas Serupa Juga Ada di Tingkat Fakultas dan Program Studi
Melepas kepenatan dari segala kegiatan perkuliahan tidak hanya identik dengan berkumpul dan bermain bersama teman-teman. Banyak aktivitas yang dapat dilakukan berdasarkan kesamaan kegemaran antarmahasiswa. Hal itulah yang melandasi sekumpulan mahasiswa Fakultas Hukum (FH) UI dan Kriminologi UI untuk membentuk komunitas nonakademik lainnya, yaitu Makara Merah Memancing (FH Memancing) dan Kriminologi Memancing (Krimancing).
Mencuplik perkenalan dari akun Instagram-nya, Makara Merah Memancing adalah sebuah kelompok kolektif yang berbagi minat dalam memancing. Pembentukan kelompok tersebut bertujuan untuk berbagi kesenangan dan stimulan dalam memancing. Berbeda dari UI Bermain yang mulanya sekadar coba-coba, Makara Merah Memancing terbentuk atas kesatuan kegemaran dan gagasan dari keempat mahasiswa FHUI Angkatan 2020, yaitu Faiza, Harris, Matthew, dan Ali.
“Awalnya, sih, kita lagi nongkrong habis pulang kuliah, terus kita kepikiran buat ngelakuin suatu kegiatan, yaitu mancing. Terus dari mancing itu, kita kepikiran buat komunitas sekalian aja soalnya, kita mikir-nya, kegiatan mancing ini seru dan bisa jadi ajang ngumpul bareng,” jelas Ali mewakili teman-temannya.
Sejak terbentuk pada November 2023 lalu, Makara Merah Memancing telah melakukan sejumlah aktivitas memancing kecil-kecilan di Kabeda, sebuah kawasan ekowisata di Kukusan yang menyediakan kolam pemancingan. Impresi yang baik dari para pemancing yang pernah meluangkan waktunya di pemancingan Kabeda mungkin menjadi salah satu alasan bagi Makara Merah Memancing untuk menjadikannya sebagai salah satu pilihan kawasan memancing. Ali juga mengungkapkan bahwa Kabeda telah lama mencuri hati mahasiswa UI sepertinya.
“Kita ada ngobrol-ngobrol sama pemilik Kabeda. Ya, pokoknya, dia cerita juga, lah, kalau sebenarnya, dulu, Kabeda emang udah rame sama anak-anak UI. Cuma gara-gara pandemi, (jumlah anak UI yang datang ke Kabeda) udah menurun banget, sampe adanya lagi tren mancing ini.”
Meskipun komunitas ini masih seumur jagung dengan jumlah anggota yang masih mudah dihitung, Makara Merah Memancing telah menjadi rumah yang menyenangkan bagi segenap anggotanya, bahkan menjadi tempat untuk bersilang pendapat terhadap isu-isu terkini. Kebermanfaatan itu jelas seirama dengan perkataan Harry Middleton yang tercantum di laman Instagram Makara Merah Memancing, “Fishing is not an escape from life, but often a deeper immersion into it.” Ya, dengan kata lain, Makara Merah Memancing bukanlah sekadar tempat "melarikan diri" dari kehidupan perkuliahan, tetapi juga sebagai tempat yang menghadirkan pengalaman lebih dalam dinamika kehidupan para anggotanya.
Selain Makara Merah Memancing, komunitas memancing lainnya turut lahir bersama di bulan November 2023, yaitu Kriminologi Memancing. Meskipun lahir bersamaan, komunitas yang lebih dikenal dengan nama Krimancing tersebut bukanlah komunitas tingkat fakultas, melainkan komunitas tingkat departemen. Kendati memiliki ruang lingkup yang lebih sempit, Krimancing memiliki jangkauan anggota yang lebih luas. Selama tiga bulan terakhir ini saja, Krimancing telah berhasil menjaring anggota dari Kriminologi Angkatan 2019–2023, bahkan alumni.
Krimancing merupakan sebuah komunitas yang lahir dari koherensi resolusi tiga orang mahasiswa Kriminologi Angkatan 2022, yaitu Rey, Sancho, dan Bimo. Suatu waktu ketika ada acara kumpul angkatan, salah satu teman mereka mencurahkan keresahannya akan tugas kuliah yang banyak. Rey dan Sancho yang telah lama berkecimpung dalam aktivitas memancing pun mengusulkan untuk mengadakan kegiatan tersebut bersama-sama. Berawal dari saran sederhana itu, kegiatan memancing menjelma menjadi sebuah komunitas bersama.
Untuk mempermudah penentuan lokasi pemancingan, Rey dan teman-temannya menjalankan dua program kerja (proker), yaitu Bersama Mencari Spot (Beras) dan Rekomendasi Tempat Memancing (Reting). Melalui dua proker tersebut, Krimancing telah melontarkan umpan-umpannya di tiga pemancingan yang berbeda, yaitu Situ Mangga Bolong, Setu Babakan, dan Jembatan Teksas. Walaupun baru tiga kali menghabiskan waktu bersama, Krimancing berhasil menangkap tanggapan-tanggapan yang meyakinkan, bahkan beberapa orang yang telah ikut pada kegiatan-kegiatan sebelumnya seringkali mempertanyakan perihal rencana kegiatan di waktu mendatang.
Tertarik Bergabung? Berikut Narahubungnya
UI Bermain, Makara Merah Memancing, dan Krimancing merupakan tiga komunitas nonakademik mutakhir yang berhasil menyihir kehidupan perkuliahan sebagian mahasiswa UI. Melalui kebersamaan yang terbangun dari kesamaan, mereka saling membutuhkan dan saling menyembuhkan. Tanpa mengenal batas asal program studi, fakultas, dan latar belakang lainnya, ketiga komunitas itu membuka pintunya lebar-lebar bagi siapapun yang berkenan datang; entah semata-mata menatap maupun mantap menetap.
Bagi kalian yang ingin bermain bersama teman-teman UI Bermain, kalian dapat langsung bergabung di grup LINE UI Bermain (jika kapasitas anggota masih tersedia) atau bergabung di server Discord UI Bermain. Tanpa persyaratan apapun dan bisa bermain kapanpun sesuai kesepakatan bersama.
Kalau kalian tertarik untuk memancing dengan para mahasiswa FH UI, kalian dapat menghubungi akun Instagram @makaramerahmemancing. Oleh karena komunitas ini melakukan aktivitas memancingnya di Kabeda Kukusan, maka kalian harus menyiapkan uang sekitar Rp15.000 sebagai biaya masuk. Kalian juga harus membawa peralatan memancing sendiri jika tidak ingin merogoh kocek lebih dalam untuk menyewanya. Di sisi lain, kalian dapat menghubungi Rey atau Bimo melalui akun Instagram @krimancing. Krimancing juga menyarankan kalian yang hendak ikut memancing bersama untuk membawa peralatan memancing sendiri.
Teks: Jesica Dominiq M. dan Filda Kamila
Kontributor: Ross Roudhotul
Editor: Khadijah Putri
Foto: UI Bermain, Makara Merah Memancing, dan Krimancing
Pers Suara Mahasiswa UI 2024
Independen, Lugas, dan Berkualitas!