Logo Suma

Resensi: Meninjau Kembali Perjuangan Perempuan Lewat Berpikir Jernih Menuju Langkah Pasti

Redaksi Suara Mahasiswa · 22 Maret 2026
3 menit · - kali dibaca
Resensi: Meninjau Kembali Perjuangan Perempuan
Lewat Berpikir Jernih Menuju Langkah Pasti

Judul Buku: Berpikir Jernih Menuju Langkah Pasti

Pengarang: Abiyyu Arib Mahyiyuddin R

Penerbit: Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia (PRCI)

Genre: Pengembangan Diri

Tahun Terbit: 2025 (Cetakan Pertama)

Jumlah Halaman: 111

ISBN: 978-634-7148-70-4

Abiyyu membuka narasi dengan kisah William James–psikolog terkemuka Harvard yang hampir kehilangan nyawanya akibat depresi berat pada 1869, tetapi berhasil bangkit melalui kekuatan kehendak bebas setelah membaca esai Charles Renouvier. Titik balik James bukan terletak pada bantuan orang lain, melainkan pada satu kesadaran fundamental bahwa kita memiliki kuasa untuk memilih pikiran mana yang akan kita beri ruang dan energi.

Fondasi filosofis ini kemudian dikembangkan ke dalam berbagai tema praktis yang relevan untuk siapa pun, termasuk perempuan. Ada beberapa poin menarik dalam buku ini. Pertama, penulis mengajak pembaca untuk mengenali bahwa pikiran yang terlalu penuh justru membuat kita tidak mampu mengambil keputusan yang baik. Dalam konteks perempuan, ini sangat relevan bahwa perempuan kerap menanggung beban ganda (double burden) antara tuntutan domestik dan profesional yang membebani kapasitas berpikir mereka setiap hari.

Kedua, fokus pada hal yang bisa dikendalikan, sebuah prinsip Stoik yang penulis adaptasi dengan bahasa yang membumi. Bagi perempuan yang hidup dalam sistem yang tidak selalu berpihak kepada mereka, kemampuan memilah antara yang bisa dan tidak bisa dikendalikan adalah kunci bertahan sekaligus berkembang.

Ketiga, jangan percaya sepenuhnya pada pikiranmu. Penulis mengingatkan bahwa pikiran kita sering kali bias, tidak akurat, dan dipengaruhi oleh emosi serta pengalaman masa lalu. Bagi perempuan yang tumbuh dalam budaya yang terus-menerus meragukan kapabilitas mereka, peringatan ini terasa sangat bermakna: bahwa keraguan diri yang kita rasakan belum tentu mencerminkan kenyataan.

Keempat, jangan hidup dengan penyesalan dan terlalu lama menengok ke belakang. Dua bab ini berbicara tentang membebaskan diri dari belenggu masa lalu. Ini sangat bergema dengan perjuangan banyak perempuan yang masih menanggung trauma kekerasan, diskriminasi, atau pilihan-pilihan yang dulu terpaksa mereka ambil karena tidak ada ruang untuk memilih.

Kelima, berpikir melampaui diri sendiri. Inilah puncak dari seluruh perjalanan buku ini. Sebuah ajakan untuk memperluas kesadaran ke arah yang lebih besar dari sekadar kepentingan pribadi, yang sesungguhnya adalah inti dari gerakan solidaritas perempuan global itu sendiri.

Kelebihan paling menonjol dari buku ini adalah keautentikannya. Di era di mana buku pengembangan diri kerap terasa seperti produk pemasaran yang dikemas rapi tanpa jiwa, Berpikir Jernih Menuju Langkah Pasti hadir dengan suara yang terasa manusiawi. Abiyyu tidak berjarak dengan pembacanya. Ia bercerita dari luka dan pengalamannya sendiri dan inilah yang membuat bukunya mudah dirasakan, bukan hanya dipahami.

Gaya penulisan yang sederhana tetapi tidak dangkal juga menjadi nilai tambah yang signifikan. Penulis berhasil merangkum pemikiran-pemikiran besar dari William James, Epictetus, John Dewey, hingga Ralph Waldo Emerson ke dalam bahasa yang bisa dicerna oleh pembaca mana pun. Struktur bab yang pendek dan terfokus memungkinkan buku ini dibaca secara acak sesuai kebutuhan, sebuah keputusan editorial yang cerdas dan sangat fungsional.

Perjuangan perempuan, baik dalam skala individual maupun kolektif, selalu membutuhkan kejernihan pikiran sebagai prasyaratnya. Seorang perempuan yang tahu cara mengelola pikirannya adalah perempuan yang lebih sulit untuk dibungkam, dimanipulasi, atau dipatahkan semangatnya. Dalam pengertian ini, berpikir jernih bukan hanya keterampilan kognitif, melainkan sebuah bentuk perlawanan yang halus namun kuat.

Namun demikian, buku ini tidak lepas dari keterbatasan. Perspektif perempuan hampir tidak hadir secara eksplisit di dalamnya. Narasi personal penulis, meski jujur dan menyentuh, sepenuhnya berpijak pada pengalaman seorang laki-laki muda. Ini adalah celah yang cukup terasa, terutama jika buku ini ingin berbicara kepada audiens yang lebih luas. Selain itu, beberapa bab yang membahas keuangan dan konvensionalitas terasa kurang terhubung secara organik dengan benang merah utama buku, sehingga sedikit mengganggu alur baca secara keseluruhan.

Buku ini paling cocok dinikmati oleh anak muda berusia 18–35 tahun yang sedang mencari pijakan di tengah dunia yang penuh tekanan. Ia sangat relevan bagi perempuan muda yang tengah menemukan suaranya, bagi mahasiswi yang bergulat dengan identitas dan arah hidup, bagi aktivis perempuan yang ingin menjaga kejernihan pikiran di tengah medan perjuangan yang menguras energi, dan bagi siapa saja yang percaya bahwa perubahan dunia dimulai dari perubahan cara kita berpikir.

Hari Perempuan Internasional bukan hanya tentang demonstrasi di jalanan atau resolusi di sidang PBB. Ia juga tentang momen-momen kecil yang terjadi di dalam pikiran seorang perempuan: ketika ia memilih untuk tidak menyalahkan diri sendiri atas ketidakadilan yang dialaminya, ketika ia berani mengambil keputusan meski tidak ada yang mendukungnya, dan ketika ia memilih untuk terus melangkah meski dunia terus mencoba membuatnya berhenti.

Berpikir Jernih Menuju Langkah Pasti adalah buku yang dalam kesederhanaannya, mengingatkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari dalam. Sebelum perempuan bisa mengubah dunia, ia perlu berdamai dengan pikirannya sendiri. Bukan karena dunia sudah adil, melainkan justru karena dunia belum adil dan untuk melawan ketidakadilan itu, dibutuhkan pikiran yang jernih, bukan pikiran yang kacau.

Untuk Abiyyu Arib Mahyiyuddin R, terima kasih telah bercerita dengan jujur. Semoga di karya-karya berikutnya, suara perempuan turut hadir sebagai bagian dari narasi utama karena kisah perjuangan belum pernah lengkap tanpa mereka.

Perempuan yang berpikir jernih adalah perempuan yang merdeka. Dan perempuan yang merdeka adalah kekuatan yang paling ditakuti oleh ketidakadilan.

Penulis : Abiyyu Arib Mahyiyuddin R

Editor : Yolanda Dermawan

Foto : Istimewa

Pers Suara Mahasiswa

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap