
Judul Buku: Malam Seribu Jahanam
Penulis: Intan Paramaditha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jenis Buku: Non Fiksi / Islam
Tahun Terbit: 2023
Jumlah Halaman: 362
Bahasa: Indonesia
“Revolusi selalu dimulai oleh saudara tiri buruk rupa. Entah apa yang mengendap di kepala adik kita, yang tak buruk rupa maupun revolusioner, saat ia melilitkan bom di pinggang dan meledakkan tubuhnya.”
Dari halaman pertama, Intan Paramaditha menyuguhkan kalimat yang menggugah dengan topik yang lama terbungkam dan kerap menghadirkan ketidaknyamanan bagi siapa pun yang mendengarnya. Melalui buku Malam Seribu Jahanam, ia mengusung isu pengeboman bunuh diri yang menewaskan pengunjung gereja, termasuk di dalamnya perkumpulan pengajian waria. Pelakunya adalah Annisa, dara kesayangan Papa yang diramalkan jadi pengantin paling cantik. Pengantin yang memutuskan membunuh dirinya bersama keluarga miliknya, serta orang-orang yang tidak ada kaitannya. Demi Jannah, ia ciptakan Jahanam. Lewat tokoh Annisa, penulis memperlihatkan bagaimana teror dapat lahir dari praktik beragama dengan pola pengasuhan yang keliru, hingga memunculkan tendensi untuk melenyapkan kelompok yang dianggap berbeda.
Kisah tragis ini diperkaya oleh cerita dua dara lainnya: Mutiara dan Maya. Sejak awal, ketiganya mewarisi ramalan sekaligus seakan menjalani kutukan sang nenek, Victoria. Setiap ramalan memuat peran berbeda. Mutiara adalah penjaga; ia merawat yang hidup dan mengantar yang mati. Karena itu, ia tak menikah, hanya menyayangi anaknya yang berbulu hitam, mengeong, dan memakan ikan. Maya, anak kedua, adalah pengelana yang tak pernah sungguh mengenal pulang, melainkan memeluk buku-buku di atas perahu sambil menjelajahi tanah orang lain yang jauh di sana. Sementara Annisa, si bungsu paling cantik dan kesayangan, diramalkan menjadi pengantin. Perbedaan sifat mereka tumbuh dari pola asuh yang keliru—warisan yang kemudian menyeret cerita ke tragedi besar.
Alur bergerak perlahan, menyusuri lorong-lorong paling kelam yang dipenuhi doktrin agama, realisme magis, dan bayang-bayang hantu bersama getir-manis pengalaman hidup ketiga dara. Pembaca diajak menelusuri kembali dongeng gelap tentang pengalaman perempuan: Mutiara menjadikan agama sebagai pelarian dari realitas sosial yang menindas, sementara Maya memilih tak kembali dan menjalin hubungan dengan suami orang. Di sisi lain, kompleksitas perempuan yang interseksional dihadirkan lewat Rosalinda, saudara tiri yang dianggap buruk rupa dan tumbuh bersama komunitas transpuan. Semua kisah itu disampaikan secara personal, seolah-olah pembaca sedang membuka lembaran buku harian mereka.
Membaca novel ini bukan sekadar memasuki dunia para tokohnya, melainkan seperti berusaha menguraikan lilitan benang kusut yang kalut maruk. Tak ada kepastian ke mana cerita akan berlabuh; alurnya rumit dan penuh kejutan. Di setiap bagiannya, penulis membongkar dominasi sistem yang berkuasa, hingga kehidupan ketiga dara itu mencapai puncak kekacauan pada tragedi pengeboman oleh Annisa. Korbannya adalah keluarga Rosalinda. Mulai sejak itu, ia menunaikan revolusi dan menuntut balas atas utang yang belum dibayar lunas. Di sinilah kisah menggambaran sebuah resistensi kepada pembaca.
“Revolusi hanya ada dalam pikiran orang-orang yang tertindas sebab mana ada orang kaya rupawan menginginkan perubahan?” (hal. 64).
Ramalan Nenek Victoria dimetaforakan sebagai ekspektasi gender yang dipasangkan kepada tubuh tiap-tiap perempuan. Namun, ramalan bukanlah takdir nyata yang tak bisa dihentikan, termasuk bagi tiga dara dan saudara tiri buruk rupa. Melalui pendekatan kelompok marginal yang tersisih, Intan Paramaditha menulis dari pinggiran dengan tidak membiarkan luka-luka menjadi terlupa. Membaca novel ini seperti menguliti kekuatan besar dari dogma agama dan patriarki yang saling berkelindan. Kita dipersilakan menengok umat beragama yang kebingungan, dalam spiral keimanan dan juga keinginan untuk mengenyahkan kelompok liyan (the other). Seluruhnya melebur, menjadikan buku ini layak dibaca sewaktu-waktu ketika teman-teman sekalian butuh merenungkan dan menggugat sistem yang menindas lewat pengalaman perempuan.
Penulis : Maya Lestari
Editor : Huwaida Rafifa Yumna
Foto : Istimewa
Pers Suara Mahasiswa
Independen, Lugas, dan Berkualitas