Logo Suma

Menyapu Sisa-Sisa Ketidakpedulian

4 menit · - kali dibaca
Menyapu Sisa-Sisa Ketidakpedulian

Tumpukan piring kotor tergeletak di atas wastafel. Pemiliknya melengos pergi, menyisakan bau tak sedap dari piring yang ditinggalkan berhari-hari. Indra (bukan nama sebenarnya), petugas kebersihan Asrama Universitas Indonesia (UI) di gedung perempuan, akhirnya sukarela mencucikan piring-piring itu. Ajaibnya, pemilik piring datang mengambil setelah piring dicuci.

“Kalau kita [cuci], [piringnya] diambil. Kalau kita diemin, [pemiliknya] diem aja gitu,” ujarnya.

Di balik gedung asrama yang tampak bersih dan nyaman bagi penghuninya, sering kali ada pekerjaan yang luput diperhatikan: membersihkan sisa-sisa ketidakpedulian penghuni setiap hari.

Asrama UI selama ini menampung mahasiswa rantau dengan biaya sewa yang relatif terjangkau dibanding apartemen maupun indekos di sekitar kampus. Fasilitasnya yang memadai membuat asrama kerap disebut sebagai rumah kedua. Namun, bagi para petugas kebersihan, rumah kedua itu juga menyimpan pekerjaan yang tak pernah benar-benar selesai.

Waktu silih berganti, sebagian petugas kebersihan yang bekerja telah melewati belasan tahun. Alasan mereka bertahan beragam, tetapi sebagian bermula dari kebutuhan membantu perekonomian keluarga.

Tiap pekerja bertanggung jawab atas satu gedung, meskipun pembagian itu sempat mengalami beberapa kali rotasi. Total terdapat 13 gedung yang harus dirawat, terdiri atas 7 gedung perempuan dan 6 gedung laki-laki.

Pekerjaan dimulai sejak pukul enam pagi hingga lima sore. Pada hari sabtu, pekerjaan berakhir lebih cepat, yakni pukul dua belas siang, sedangkan pada hari minggu menjadi waktu libur bagi para pekerja.

Erna (bukan nama sebenarnya) bercerita bahwa jumlah petugas kebersihan jauh berkurang dibanding masa sebelum pandemi. Akibatnya, kewalahan kerap tak terhindarkan, terlebih jika ada petugas yang sakit sehingga tugasnya harus dikerjakan petugas lain. Sebelumnya, satu gedung dapat ditangani oleh tiga petugas kebersihan sekaligus.

Di tengah kurangnya tenaga dan waktu, petugas kebersihan acap kali mendapatkan keluhan dari para penghuni, hingga dipanggil oleh penanggung jawab asrama. Komentar yang disampaikan umumnya berkaitan dengan situasi gedung yang dianggap belum cukup bersih.

Padahal, dalam beberapa kasus, petugas yang bekerja di gedung itu sedang tidak masuk, akibatnya pekerjaan itu harus dirangkap oleh petugas dari gedung lain. Keterbatasan itu membuat pekerjaan sulit diselesaikan secara optimal.

Di samping itu, kebiasaan penghuni asrama meninggalkan barang pribadi di fasilitas umum turut menambah beban kerja petugas kebersihan, seperti pakaian yang direndam entah sudah berapa hari tanpa diurus kembali.

Kurangnya kepedulian mahasiswa pada barang sendiri membuat petugas berada di posisi serba salah. “Enggak boleh [dibuang], takut ada yang nyariin,” ungkap Erna.

Dalam kasus lain, sepatu penghuni hilang setelah dijemur tiga bulan dan mengeluhkannya ke Farah (bukan nama sebenarnya), petugas kebersihan lainnya. “Suruh nyari saya. Saya kan nggak tahu sepatu dia di mana,” katanya.

Uniknya, ketika ditanyakan lokasi terakhir sepatu itu dijemur, penghuni itu justru tidak mengingatnya. Lagi-lagi, petugas kebersihan dihadapkan pada kendala yang sebenarnya berada di luar tanggung jawab mereka.

Perkara serupa juga terjadi di gedung laki-laki. Dimas, petugas kebersihan di sana, saban menerima aduan mengenai kondisi kamar mandi. Curahan mulai dari keran rusak hingga lantai yang kembali kotor beberapa saat setelah dibersihkan menjadi hal yang biasa ia hadapi.

“[Saya mengurus] lantai satu sampai lantai empat, lobby, koridor, kamar mandi,” lirihnya.

Pada suatu waktu, Dimas harus menguras kotoran di kloset yang lupa dibilas oleh penggunanya. Baginya, kendala pada kamar mandi bukan semata soal kebersihan gedung, melainkan juga minimnya kesadaran penghuni setelah menggunakan fasilitas bersama.

Di sisi lain, keterbatasan fasilitas kerja turut memperburuk pekerjaan mereka. Dimas mengaku jumlah alat kebersihan dan cairan pembersih sering kali tidak mencukupi sehingga petugas harus saling meminjam peralatan dari area lain.

“Sabun-sabunan kita dapet sebulan sekali, itupun ada batasnya. Misalkan dibatasin dari sananya itu 10 dirigen, ya itu dibagi-bagi rata,” terangnya.

Meski demikian, keluhan para petugas kebersihan pernah ditanyakan oleh Senior Resident (SR) atau pengurus asrama. Namun lama berlalu, keluhan itu akhirnya tidak ditindaklanjuti.

Para petugas kebersihan melihat perubahan perilaku penghuni dari waktu ke waktu. Dahulu, saat pekerja diliburkan, SR bersama penghuni lainnya akan bergotong-royong membenahi gedung asrama. Kebersihan gedung tetap terjaga meski tanpa campur tangan petugas. Bahkan, sempat ada sertifikat penghargaan untuk gedung terbersih. Namun, kini semuanya terasa berbeda dengan mahasiswa yang terkesan menjaga jarak.

Keresahan serupa ternyata juga dialami sebagian penghuni asrama. Salah satunya Adit, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UI yang sudah dua semester tinggal di gedung D2. "Gue liat sendiri sering kali WC warnanya kuning dan bau. Kondisi ini diperparah ketika ember yang seharusnya buat nyiram air malah dipakai penghuni lain buat mencuci pakaian,” ucapnya.

Ia juga menyoroti kebiasaan meninggalkan piring dan sampah setelah makan di kantin asrama yang patut disayangkan. Kantin Asrama UI sendiri menerapkan sistem self-serving dan self-cleaning, yang berarti penghuni harus mengambil dan membereskan peralatan makan sendiri.

"Mayoritas sudah, tapi yang bermasalah ini memang oknum. Mungkin perbandingannya 1 dari 20 orang. Tapi ya itu tadi, kalau 1 orang saja yang begitu, efeknya kena ke semua,” lanjutnya.

Adit mengaku iba melihat petugas kebersihan harus menangani hal-hal yang sebenarnya masih dapat dikendalikan oleh penghuni sendiri. Seharusnya, urusan petugas terbatas dalam menjaga area umum, bukan membereskan sisa penggunaan pribadi penghuni.

"Coba posisikan diri di posisi mereka; lagi ngepel terus dilewati orang sampai kotor lagi, tapi mereka tetap sabar bersihin lagi. Itu sangat berarti kalau kita lihat dari sudut pandang kemanusiaan,” tuturnya.

Tak jauh berbeda, Rafifah, mahasiswi Psikologi UI 2025 yang tinggal di gedung C, turut merasa resah dengan kebiasaan sebagian penghuni yang meninggalkan barang-barang pribadi maupun perlengkapan makan di fasilitas bersama.

"Banyak orang yang menaruh piring bekas makan dalam kondisi belum dicuci, merendam inner pot rice cooker yang masih berisi nasi sampai menimbulkan bau, dan meletakkan alat-alat mandi atau mencuci piring sembarangan di wastafel," jelasnya.

Hambatan itu tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi memengaruhi aktivitas sehari-hari Rafifah selama tinggal di asrama. Ia pernah memilih menggunakan kamar mandi di lantai berbeda sebab merasa tidak nyaman melihat tumpukan piring kotor pada wastafel di lantainya sendiri.

Meski begitu, ia menilai sulit menerapkan sanksi sanksi sosial terhadap pelaku karena penghuni cenderung individualis dan tidak ada identitas yang ditinggalkan selain kekacauan itu sendiri.

Di antara berbagai persoalan itu, para petugas kebersihan tetap datang setiap pagi untuk membersihkan lorong yang sama. Hal ini patut diapresiasi, setidaknya dengan menyapa dan mengakrabkan diri, atau menjaga higienitas gedung hasil kerja mereka.

Terlepas dari berbagai kesulitan yang ada, kebersihan asrama bukan semata tanggung jawab petugas. Mahasiswa memang memiliki hak untuk menyampaikan keluhan sebagai penghuni yang membayar biaya tinggal. Namun, fasilitas bersama tetap memerlukan kesadaran bersama pula.

Barang pribadi adalah tanggung jawab pribadi. Sementara, kerapian ruang komunal hanya dapat terjaga ketika setiap penghuni ikut merawat tempat tinggalnya sendiri.

"Terima kasih banyak untuk kakak-kakak dan ibu-ibu yang sudah bersusah payah membuat asrama selalu dalam keadaan bersih. Maaf kalau masih banyak dari kami yang kurang sadar tentang kebersihan dan kerap membuat pekerjaan kalian menjadi semakin berat,” tutup Rafifah.

Teks: Arinta Kusuma Ramadhani Nurhidayati, Fabio Milanazzuri

Editor: Vania Shaqila Noorjannah

Foto: Istimewa

Desain: Tsania Rachma Faiza

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap

Teks

Arinta Kusuma Ramadhani Nurhidayati, Fabio Milanazzuri

Editor

Vania Shaqila Noorjannah

Desain

Tsania Rachma Faiza