Logo Suma

Resensi: Menyelami Kisah Fransisca Pattipilohy Sebagai Korban Kekerasan Orde Baru

Redaksi Suara Mahasiswa · 22 Maret 2026
4 menit

Judul Buku: Metode Jakarta

Penulis: Vincent Bevins

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal: viii + 416 halaman

ISBN: 978-602-0788-36-8

Cetakan: II, Juni 2023

Buku ini berisi tentang bagaimana propaganda dan pembantaian antikomunis dijalankan di beberapa negara, termasuk Indonesia. Penulisnya, Vincent Bevins sampai menemui 100 narasumber untuk diwawancara sebelum akhirnya menulis karya ini. Salah satu narasumber itu adalah Fransisca Pattipilohy. Ia menjadi saksi atas operasi pemberangusan komunis di Indonesia. Ketika terjadi gejolak 1965–1966, ia sempat ditahan oleh tentara dan dikurung dalam jeruji besi. Lewat kisah Fransisca, penulis banyak menekankan soal kekerasan yang dialami perempuan pada masa kelam tersebut, yang akan mengingatkan pembaca akan perlindungan perempuan yang kerap diabaikan.

Kisah dalam buku ini dimulai dari kehidupan awal Fransiscsa Pattipilohy yang lahir pada 1926. Keluarganya merupakan bangsawan di Ambon yang menganut agama Protestan. Bahasa sehari-hari yang digunakan keluarganya adalah bahasa Belanda dan bahasa daerah asal keluarganya. Ayah Fransisca bekerja sebagai arsitek di Batavia. Itulah sebabnya Fransisca sejak kecil sudah tinggal di Batavia. Karir ayahnya yang sukses sebagai arsitek membuat Fransisca bisa bersekolah di sekolah khusus anak-anak Belanda.

Fransisca merupakan satu-satunya gadis dalam keluarganya. Karena itulah ia sering menghabiskan waktunya sendirian. Ketika di rumah, sering kali waktunya dihabiskan dengan membaca buku di perpustakaan milik ayahnya. Fransisca menyelami buku seperti dongeng-dongeng Grimm, buku-buku tentang koboi dan Indian, serta dongeng Hans Christian Andersen yang ia kira berkisah mengenai tanah airnya. Buku-buku tersebut menjadikannya tumbuh sebagai sosok cerdas dan penuh ingin tahu. Kecerdasannya ini mengantarkannya kepada studinya di Leiden University.

Fransisca dan Pemikiran Kiri

Waktu studi yang dilakoni Fransisca berbenturan dengan waktu saat negara-negara koloni memperebutkan kemerdekaan pada akhir 1940-an. Hal ini menyebabkan ide-ide sosialisme banyak dibahas dalam diskusi atau rapat antara pelajar. Banyak pula organisasi pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air. Dalam banyak organisasi inilah Fransisca bertemu dengan Zain, seorang pelajar asal Indonesia yang kelak menjadi suaminya.

Setelah pernikahan yang sempat tak direstui, Fransisca dan sang suami pulang ke Indonesia. Francisca bekerja sebagai pustakawan—sebuah profesi yang masih sedikit tenaganya. Sedangkan Zain bekerja sebagai jurnalis di Harian Rakjat—sebuah surat kabar yang diterbitkan oleh PKI. Fransisca juga terlibat dalam politik. Setelah satu dekade bekerja sebagai pustakawan, ia mulai menjadi pengajar privat bahasa Inggris bagi beberapa negara seperti Rusia, Hungaria, Vietnam, dan Kuba. Bukan hanya di luar negeri, melainkan juga Indonesia. Pada saat inilah, Fransisca terekspos dengan politik internasional.

Karier yang kerap mempertemukannya dengan isu politik ini mendorong Fransisca untuk menjadi wartawan. Kariernya memuncak pada 1965, tahun pecahnya peristiwa G30S PKI. Saat itu, sebagian besar waktu Fransisca dihabiskan di Aljazair, bekerja untuk mempersiapkan pertemuan Asosiasi Wartawan Asia-Afrika. Akan tetapi, pertemuan ini digagalkan setelah Aljazair Ben Bella, pemimpin revolusioner Aljazair, dikudeta oleh militer. Akhirnya, Fransisca pulang ke Indonesia pada bulan Agustus.

Tak lama begitu sampai di Tanah Kelahiran, pecahlah peristiwa G30S—peristiwa yang hingga hari ini masih dipertanyakan kebenarannya. Setelah peristiwa tersebut, Fransisca masih pergi ke kantor Asosiasi Jurnalis Asia-Afrika. Ia membantu liputan sebuah perjumpaan yang mempertemukan Soekarno dan Njoto untuk memprotes keberadaan pangkalan militer AS di seluruh dunia.

Fransisca mengetahui beberapa penangkapan yang telah terjadi. Beberapa teman kerja, khususnya wartawan, tak muncul di kantornya. Selain itu, Suami Fransisca sudah tak lagi bekerja di Harian Rakjat yang telah dibredel. Tidak ada informasi mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi. Selama dua bulan setelah G30S, ia langsung bergegas pulang ke rumah tiap selesai dari urusan kantornya.

Tibalah pada 13 Desember 1965, pukul empat pagi, terdapat tiga lelaki mengetuk pintu. Mereka membawa Fransisca dan Zain ke pihak kepolisian dengan dalih untuk dimintai keterangan dan segera dikembalikan ke rumah. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Zain dibawa ke ruangan yang berbeda dengan Fransisca. Fransisca diserahkan kepada seorang perwira tentara di ruang interogasi. Perwira itu mengeluarkan pistol dan meletakkannya di meja. Hal ini membuat Fransisca kehilangan arah dan yakin kematian akan menghampirinya.

Interogasi yang berjalan selama beberapa jam berakhir pada penyiksaan yang tak diketahui pasti kapan waktu akhirnya. Meski tak jelas alasan ia ditahan, Fransisca sadar bahwa salah satu alasannya mungkin adalah karena keterlibatan suami dan dirinya pada aktivitas pemikiran kiri. Penderitaan demi penderitaan berlanjut ketika ia malah dibawa ke penjara perempuan. Padahal, saat itu Fransisca memiliki 4 orang anak yang perlu diberi makan. Namun, alasan tersebut tidak digubris oleh para petugas.

Di penjara, ia bertemu dengan tahanan perempuan lain. Salah satunya adalah ibu muda yang sedang hamil 9 bulan—anak pertamanya. Ibu muda itu menaruh rasa hormat kepada Fransisca sebagai perempuan yang lebih tua darinya dan memiliki 4 anak. Ibu muda itu menangis dan menceritakan bahwa suaminya telah dibunuh.

Setelah beberapa bulan, Fransisca bebas dari penjara. Ayahnya menggunakan sejumlah uang untuk pembebasan Fransisca. Ketika ia pulang, rumahnya telah dipenuhi coretan G30S. Putri sulungnya menceritakan bahwa ia dibawa oleh tentara dan dimasukkan ke dalam truk. Ia dibawa ke lapangan merdeka untuk berbaris dan menyanyikan yel-yel, “Turunkan Soekarno”. Putrinya mengetahui bahwa ini merupakan seruan yang ditujukan kepada ibu dan ayahnya.

Berpindah dan Menetap di Belanda

Pada tahun 1968, Fransisca dan keluarganya tiba di Belanda. Ia melihat Eropa Barat jauh lebih makmur daripada negaranya yang baru saja dipimpin oleh Soeharto. Partai-partai kiri di Eropa nasibnya lebih sukses jika dibandingkan luar Eropa. Di sana, Fransisca aktif dalam pembentukan International People’s Tribunal atas kejahatan 1965-1966 di Indonesia. Selain itu, ia juga aktif mengkritisi penelitian Belanda tentang periode sekitar sebelum revolusi kemerdekaan Indonesia. Ia sempat terkena stroke, tetapi tidak menghentikan perjuangannya.

Terdapat alasan kuat mengapa buku ini layak dibaca, terutama bagi mereka yang ingin memahami sisi kelam sejarah yang kerap disederhanakan. Karya ini tidak hanya menguraikan kisah hidup Fransisca Pattipilohy, tetapi juga membuka kasus kekerasan yang terjadi dalam konteks G30S PKI untuk menunjukkan bahwa kisah perempuan juga masuk ke dalam narasi utama. Dalam kerangka yang lebih luas, buku ini turut memperlihatkan dinamika politik internasional lewat karier Fransisca, serta bagaimana runtuhnya gerakan kiri di berbagai tempat turut membentuk tatanan dunia yang kita kenal hari ini.

Meski demikian, buku ini bukanlah bacaan yang ringan. Alur pemaparannya cukup padat dan menuntut pembaca untuk selalu cermat. Salah satu penyebabnya kemungkinan terletak pada proses penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang terkadang menimbulkan kerancuan, misalnya dalam penggunaan kata ganti orang ketiga jamak. Hal ini membuat pembaca perlu memberi perhatian ekstra agar dapat menangkap maksud penulis.

Penulis : Adiel Afliarso

Editor : Huwaida Rafifa Yumna

Foto : Istimewa

Pers Suara Mahasiswa

Independen, Lugas, dan Berkualitas