Menyelami Makna Kartini Melalui Sosok Perempuan di Sekitar UI

Redaksi Suara Mahasiswa · 21 April 2022
8 menit

Senyum Kuswiati (Ati) tetap merekah saat menceritakan perasaan bersalahnya mengenang masa kecil anaknya yang sering ia tinggal karena keharusan untuk menghidupi keluarga kecilnya. Tiga sahabat, Ati, Yuli, dan Pani telah bersahabat akrab bertahun-tahun sejak mereka bekerja di Asrama Universitas Indonesia (UI) sebagai petugas kebersihan. Selain karena pekerjaan, ketiganya merasa dekat dan terikat satu sama lain karena memiliki satu kesamaan, yakni takdir menjadi perempuan. Sebagai perempuan yang sudah berkeluarga, mereka sering berbagi tawa dan air mata. Menertawakan rasa lelah dan kewalahan mereka sebagai perempuan sudah menjadi jurus jitu mereka untuk melewati hari-hari yang berat.

Begitu pula Purwanti, ibu tiga anak yang berjualan di Kantin FISIP UI ini juga mengatakan bahwa meskipun lelah, ia tidak perlu mengeluhkan beban gandanya karena sudah menjadi bagian dari kesehariannya selama berpuluh tahun sebagai perempuan. Tak banyak yang menyadari kesanggupan perempuan untuk menjalani sejumlah peran secara sekaligus sebagai sesuatu yang patut dikagumi dan diapresiasi luar biasa, sebagaimana kita mengagumi kekuatan dan keahlian lainnya. Menyelami kisah mereka, memberikan kita cara baru untuk mendefinisikan ‘kekuatan’. Bahwa kuat bukan hanya tentang kemampuan fisik untuk mengoperasikan alat berat atau membawa puluhan kilo barbel, namun juga tentang emosi yang dapat mengalahkan rasa lelah, amarah, dan penat.

Dewasa ini, seruan berbagi peran dalam urusan rumah tangga memang sudah sering dibahas, namun pada implementasinya peran gender tradisional di mana perempuan dianggap menjadi satu-satunya sosok yang bertanggung jawab atas urusan domestik masih sangat mengakar dalam masyarakat. Alhasil, laki-laki seolah tidak berkewajiban untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Padahal, pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, memasak, dan menyapu sejatinya netral gender alias dapat dilakukan oleh laki-laki. Oleh sebab itu, perempuan akrab dengan kerja multiperan, misalnya pada waktu yang bersamaan menjadi ibu harus mengurus anak dengan baik, menjadi istri harus mengurus rumah dan suami dengan baik, pula menjadi pekerja keras yang harus memenuhi kewajiban profesinya secara profesional. Suka tidak suka, multitasking dituntut menjadi keahlian utama perempuan, karena meskipun sering merasa lelah, pada akhirnya perempuan harus tetap melakukan tugasnya: urusan domestik dan pekerjaan.

Peran Ganda: Definisi Kuat Versi Perempuan
Saat dewasa, perempuan yang menjalani peran ganda pada suatu waktu pasti akan menemui tumpang-tindih atau tabrakan pekerjaan antara urusan domestik dan tuntutan profesi. Peran ganda yang berujung pada lahirnya beban ganda kerap kali dirasakan oleh para perempuan.

Purwanti merupakan salah satu sosok dari sekian banyak perempuan yang harus menjalankan peran gandanya, yakni mengurus pekerjaan domestik dan berprofesi sebagai pedagang. Bagi Purwanti, berangkat pagi dan pulang petang menjadi rutinitasnya setiap hari. Sebelum berangkat berjualan pun ia menyempatkan diri untuk mengurus keluarga, mulai dari masak untuk sahur selama bulan puasa hingga mengurusi pekerjaan rumah. “Setiap hari yang ibu lakukan mah, sesudah sholat subuh kita ke pasar, perjalanan ibu ya berarti ya, abis dari pasar kita berbenah dulu tuh barang dagangan yang buat ke kantin, berdua sama suami,” Ujar Purwanti.

Tak jauh berbeda dengan Purwanti, tiga petugas kebersihan Asrama UI yang akrab dipanggil Ati, Yuli, dan Pani juga dini hari sekali sudah sibuk bersiap-siap mengawali hari.

“Berangkat ke sini sih jadwal kayak biasa ya, kita dateng jam 6, Sebelum kerja juga karena kita perempuan, punya anak, punya keluarga, jadi kita masak dulu buat nyiapin mereka yang ada di rumah, nyuci dulu lah. Jujur aja kita kadang dari jam 3 pagi udah bangun buat nyuci, masak. Kita berangkat hitungannya dari Bojong kan jaraknya jauh, jadi dari rumah aja bisa sudah jam 5 pagi, nyampe sini jam 6 kan harus udah absen. Jadi benar-benar memanfaatkan waktu untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar Ati dan Yuli saling menimpali.

Meskipun pada umumnya rumah menjadi tempat kita melepas penat setelah seharian beraktivitas di luar, bagi Purwanti, Ati, Yuli, dan Pani pulang bukan berarti ‘saatnya istirahat’. Rumah dan UI sama-sama tempat kerja, perbedaannya jika di UI mereka bekerja dengan niat untuk mendapatkan uang, bekerja di rumah niatnya agar keluarga di rumah terurus.

“Pulang kerja kita masih tetap ngurusin lagi yang di rumah, bebenah lagi apa yang belum kepegang gitu. Jadi kalau bulan puasa gini kita udah gak kaget bangun jam 3 karena udah terbiasa dari sebelumnya, udah masak, nyuci, nyiapin buat yang ditinggalin, anak, suami. Belum tentu kan mereka beli karena kalau beli mahal. Kan kita juga yang pada akhirnya harus manage keuangan rumah,” tutur Ati.

Meskipun sudah berusaha agar semuanya dapat dikerjakan dengan baik, terdapat suatu waktu di mana mereka terpaksa merelakan satu hal untuk dikorbankan. Misalnya Ati yang terpaksa meninggalkan anaknya saat masih berusia 3 tahun. Padahal, di umur tersebut, anaknya tentu masih membutuhkan perhatian dan pertolongan penuh dari orang tuanya.

“Tantangannya sih kalau saya sendiri karena meninggalkan tiga anak di rumah yang masih kecil-kecil. Ya Allah sedihnya naudzubillah. Waktu itu belum ada yang momong, pikirannya itu pas kerja terpecah. Itu anak di rumah siapa yang ngurusin, adiknya kalau eek apa abangnya yang bantuin? sekarang anak udah biasa ditinggal emaknya kerja, mereka dewasa sendiri dan abangnya bisa mengayomi adik-adiknya,” ujar Ati.

Tidak hanya Ati, Pani juga menuturkan pengalamannya tentang sulitnya menengahi pekerjaan dan perannya dalam membesarkan anak-anak. “Ketika dia TK, saya kerja ngurusin anak sekolah, TK juga. Jadinya ya ampun, saya ngurusin anak orang, giliran anak sendiri saya nggak ngurusin,” kenang Pani.

Oleh karena itu, setelah pulang bekerja, di sela-sela berbenah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka juga meluangkan waktu untuk mendengarkan ‘laporan harian’ dari keseharian anak mereka saat mereka tengah bekerja. Meskipun disibukkan dengan segala tuntutan pekerjaan di tempat kerja dan pekerjaan rumah tangga di rumah, namun ketiganya masih berusaha keras untuk tetap memberikan perhatian yang cukup bagi anak-anaknya.

“Yang penting permasalahan anak di luaran, waktunya kita sharing, ya sharing. Pokoknya kalau ada apa-apa di sekolah ngomong sama mama gitu,” tutur Yuli. Ati turut menimpali sambil tertawa, “iya pokoknya kalau kita nyampe rumah itu banyak banget laporan, ‘Mama ini adeknya kaya gini, terus tadi ngutang di warung berapa ribu’, ‘Mama tadi adik jatuh,’ gitu.”

“Kita ya jujur aja bersepuluh (staf perempuan petugas kebersihan -red) jarang ada yang pulang kerja ngayap. Pokoknya kalau udah sampe rumah, “bentar ya dek, bang, mama berbenah dulu satu jam” Baru habis itu ngobrol, sekalian makan,” ujar Ati.

Seperti Ati, Yuli, dan Pani, meskipun perempuan, Purwanti juga sempat mengalami masa-masa yang cukup sulit saat pandemi. Ia tidak produktif dalam berjualan karena peraturan pembatasan kegiatan di luar rumah sehingga memaksanya untuk tidak menjalani rutinitas berjualan di kantin. Berhadapan dengan situasi tersebut, Purwanti tidak putus asa dan mencari akal dengan berjualan secara online. Akan tetapi, hal tersebut tidak bertahan lama. Selain itu, kenaikan harga minyak goreng yang baru-baru ini terjadi juga berdampak untuk usaha Purwanti.

“Sebelum pandemi bebas mau apa-apa gitu, kalau ada pandemi kan terbatas. Ibu ngikut PO anak takor jualan online, ibu tapi udah lama libur dulu, soalnya minyak goreng mahal. Soalnya ibu kan jualan jamur crispy, kalau minyak nggak banyak (jamur -red) nggak ngembang, nggak kriuk,” terang Purwanti.

Purwanti tetap merasa memiliki tanggung jawab untuk mencari nafkah agar membantu perekonomian keluarga. Ketika berjualan, ia tetap dibantu oleh suaminya. Akan tetapi, Purwanti adalah tokoh utama dalam proses pengolahan bahan makanan yang akan ia jual, seperti pecel Madiun dan jamur crispy yang menjadi menu andalan kantinnya. Sepulang berjualan, ia juga masih harus memasak untuk keluarga; mengolah masakan dengan menu yang berbeda dengan yang ia jual.

Menjadi Perempuan yang Tangguh dan Mandiri
Menjadi seorang perempuan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Mereka kerap kali dipandang sebagai ‘sosok yang lain’ atau ‘manusia kelas dua’ dalam masyarakat yang masih kental dengan patriarki. Tak jarang perempuan juga dianggap sebagai makhluk yang lemah, tetapi di satu sisi, ironisnya mereka justru dipaksa menjadi tangguh dan mandiri dengan beban ganda yang diletakkan di pundak mereka.

“Capek, lelah, itu yak kita kalau malam ya ‘Ya Allah gini amat hidup ya’ pas mau tidur, ‘sampai kapan’, Tapi inilah seorang perempuan, punya anak, punya tanggung jawab, harus bantu suami karena ngandelin dia mungkin ga cukup. Akhirnya kaya gini, jalani dengan ikhlas. Kita juga sering sharing kapan ya kita pensiun ya,” lanjut Ati membicarakan obrolan masa lalunya dengan Pani dan Yuli.

Baik Purwanti, Ati, Yuli, dan Pani sama-sama mengakui bahwa perempuan memikul tugas yang cukup sulit dan melelahkan. Namun mereka sepakat bahwa hanya ada satu kunci untuk menghadapi kondisi itu, yaitu menikmati dan menjalaninya. “Dibikin berat ya, memang sudah tugas kita kan. Ya, harus semangat karena itu perjuangannya perempuan. Kalau bapak kan hanya mencari nafkah gitu. Semua kebutuhan keluarga kan ke perempuan semua,” ujar Purwanti.

Begitu pula Ati, Yuli, dan Pani, duduk melingkar di bawah tangga asrama gedung C, mereka bercerita bagaimana mereka mengisi hari-hari mereka dengan ‘guyon’ dan berbagi kisah satu sama lain. Mendapatkan lingkungan yang mendukung dan membantu mereka untuk sejenak tidak berpikir mengenai masalah hidup merupakan anugerah sekaligus jalan bagi mereka untuk menyiasati peliknya persoalan hidup.

“Kita dibawa happy aja kalau kerja. Masalah rumah ya di rumah, masalah di sini ya di sini. Kalau kita dapet tekanan dari atasan, teman mendukung. Kita saling membantu. Kalau ada masalah di rumah juga, kita lagi ngumpul gini, kadang-kadang juga curhat,” cerita Ati, Yuli, dan Pani, “akhirnya di situ kami jadikan kesimpulan bahwa hidup aku susah, ternyata ada yang lebih susah lagi hahahaha. Ternyata ‘bukan aku doang’, ternyata aku nggak sendiri. Pokoknya kalau punya temen yang rasa kebersamaannya tinggi, enak,” tutup mereka dengan gelak tawa.

Makna Menjadi Perempuan
Meskipun demikian, makna perempuan bagi perempuan itu sendiri sebenarnya tidaklah seburuk konstruksi sosial dan berbagai macam prasangka yang disematkan kepada perempuan. Bagi Yuli, menjadi perempuan adalah sebuah keindahan tersendiri, bisa merasakan dan memahami berbagai peran dan kesulitan. “Kalau bagi aku, makna menjadi perempuan itu indah. Kalau ibu-ibu bisa menjadi bapak, bisa menjadi ibu-ibu, bisa menjadi teman dan sahabat yang benar-benar mengayomi anaknya, dan dia bisa ngerasain kalau menjadi seorang laki-laki itu bagaimana,” ujar Yuli.

Ati juga mengatakan bahwa keindahan menjadi seorang perempuan tidaklah bisa dirasakan oleh laki-laki. Sebab, perempuan memiliki kodrat yang melekat dari dalam dirinya. Mereka diberikan keistimewaan untuk dapat mengandung, melahirkan, hingga menyusui anak-anaknya. “Melahirkan anak dan mendidiknya menjadi anak-anak yang sukses. Gak seperti bapak-bapak yang ga pernah dia ngerasain lahiran. Dia (bapak-bapak -red) gak pernah ngalamin nyusuin anaknya, nyebokin anaknya gimana. Pokoknya perempuan itu indah dengan segalanya,” tambah Ati.

Selain itu, keindahan itu juga tergambar dari rasa syukur dan bangga di hati Pani. Jerih payahnya sebagai ibu yang juga bekerja sebagai petugas kebersihan berbuah manis karena ia mampu membiayai sekolah anaknya. “Eh iya, walaupun kita cleaning service, tapi alhamdulillah ada yang sampai kuliahin anak. Itu kan suatu kebanggaan ya. Walaupun sebenarnya pakai rumus matematika, nggak nyampe dah gaji segitu, tapi kita menggunakan rumus agama, yang penting ikhlas dan ikhtiar, hahahaha,” celetuk Pani.

Kartini dan Harapan untuk Perempuan
Eksistensi perjuangan Kartini adalah hal yang nyata bagi Purwanti dan tiga sejoli Ati, Yuli, dan Pani. Kesetaraan dan kebebasan, setidaknya adalah dua hal yang menjadi bukti jejak perjuangan Kartini, mulai dari setara untuk mendapatkan pendidikan yang sama seperti laki-laki hingga adanya kebebasan untuk memilih masa depannya sendiri. Menjadi sosok perempuan memang penuh dengan kompleksitas, tetapi itulah yang membuat perempuan menjadi sosok tangguh. Menjejaki perjuangan Kartini, Purwanti mengatakan bahwa sosok Kartini adalah sosok pembebasan bagi perempuan.

“Alhamdulillah kalau tanpa dia kita sebagai wanita mungkin gaakan maju kaya gini ya, kalau tanpa dia mungkin kita masih terkekang ya. Berkat dia juga kita jadi punya kebebasan ya,” ujar Purwanti.

Ia juga berpesan agar perempuan tidak terlalu bergantung kepada laki-laki serta tidak mudah putus asa jika memiliki masalah. Menurutnya cara terbaik untuk mengatasi setiap masalah adalah dengan menghadapi, mengontrol emosi, dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

“Berarti kan perempuan ini memang harus berjuang, mandiri, dan tangguh kaya ibu kita kartini. Jangan terlalu bergantung sama bapak, kalau kita bisa kerja sama kan,” tegas Purwanti.

Tidak jauh berbeda, Ati juga memaparkan bahwa makna perjuangan Kartini lebih daripada sekedar baju kebaya dan konde. Saat dewasa ia sadar bahwa Kartini yang membuat ia dan perempuan lainnya bisa sekolah, mempunyai pengetahuan dan keahlian yang dapat ia gunakan untuk membiayai hidupnya saat ini.

“Tapi semenjak kita kerja, mikirnya ya Allah kalau dulu aku gak sekolah, terus suami gak punya kerjaan, nganggur, aku gak bisa daftar kerja dong,” ujar Ati.

Di akhir perbincangan, Pani mengatakan bahwa Ia pun mengharapkan hal baik bagi perempuan masa kini, seperti beribadah dan menjadi perempuan yang kuat agar tidak diremehkan oleh siapa pun. “Kalau jadi perempuan harus menjaga harga diri, harus strong, jangan mau diremehkan sama siapapun,” tutur Pani.

Ada banyak jiwa Kartini yang dapat kita temukan dalam diri perempuan di sekitar kita. Mereka yang mungkin sering kita lewati saat berkendara. Mereka yang mungkin sering kita abaikan saat terburu-buru dijalan. Atau mereka yang hanya kita jumpai saat kita sedang lapar, ya penjual makanan. Purwanti, Kusmiyati, Yuli, dan Ripani mungkin tidak terlalu dikenal oleh mahasiswa-mahasiswa UI, namun mereka memiliki jiwa Kartini yang melekat dalam keseharian mereka. Mereka memiliki pikiran dan karakter pantang menyerah khas ala Kartini. Menjadi perempuan memang menemui banyak tantangan, karena beban ekspektasi gender yang dibawanya sejak lahir. Namun, hal itu dapat membuat perempuan menjadi sosok yang tangguh dan mandiri sehingga tidak lagi dianggap lemah seperti konstruksi umum yang ada di dalam masyarakat. Perempuan pada masa kini baiknya menjaga perjuangan Kartini, dengan cara menjadi perempuan yang tangguh, mandiri, dan prinsip.

Teks: Aulia Maulida, Della Soe, Dian Amalia Ariani
Kontributor: Ninda Maghfira
Editor: Ninda Maghfira
Ilustrasi: Brilian Kusumanegara dan Amalia Ananda

Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!