
Di dunia perkuliahan, kita semua pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah “kupu-kupu” alias kuliah pulang-kuliah pulang dan “kura-kura” alias kuliah rapat-kuliah rapat. Setiap mahasiswa yang dilabeli dengan istilah-istilah tersebut, memiliki stigmanya masing-masing. Contohnya, mahasiswa kura-kura yang berstigma aktivis, penuh dengan rapat kegiatan, memiliki prestasi akademik yang kacau balau, hingga anggapan bahwa mereka akan lulus lama atau menjadi mahasiswa abadi.
Meski labeling semacam tersebut sudah sangat melekat untuk mahasiswa yang gemar rapat. Namun, untuk sebagai mahasiswa kura-kura, prestasi akademik yang berantakan hingga anggapan lulus lama hanyalah mitos belaka. Dalam artikel ini, Suara Mahasiswa UI akan mengajak pembaca untuk berkenalan dengan mahasiswa kura-kura di UI yang tentunya tetap memiliki prestasi akademik yang cemerlang.
“Mitos-mitos” organisasi
Mengutip dari Jurnal Aktualisasi Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar Menuju Peserta Didik yang Berkarakter, terdapat beberapa manfaat dari kegiatan organisasi di kampus, antara lain melatih kepemimpinan, melatih kemampuan manajemen waktu, memperluas jejaring sosial, mengasah kemampuan sosialisasi, dan melatih kemampuan memecahkan masalah. Atas hal tersebut, banyak mahasiswa menganggap keterlibatan dalam organisasi di kampusnya--baik dalam skala kecil seperti himpunan jurusan maupun skala besar seperti UKM universitas--merupakan kewajiban. Paling tidak, agar tidak tertinggal dengan kawan-kawannya. Pola pikir ini kerap menghasilkan hambatan besar dalam berkarya, yaitu demotivasi.
Demotivasi menjadi salah satu kendala yang banyak dialami oleh mahasiswa kura-kura. Seperti halnya yang dialami Lailatul Khoiriyah, mahasiswa Ilmu Sejarah 2018 sekaligus Presiden UKM UI Achievement Community (UIAC). “Cabut nggak ya dari sini, demotivasi banget nih,” merupakan salah satu ungkapannya, ketika merasa sangat lelah dengan kegiatan organisasi. Laily sendiri mengungkap, sering kali terpikir untuk keluar dari organisasi yang ia ikuti. “Balik lagi ke hati nurani kita, ‘Apa sih yang mau kita capai’, ‘Apa yang mau kita kejar dan dapetin’.”
Menurutnya, bertahan di suatu organisasi harus berdasarkan motivasi dan kekuatan mental. Laily mengungkapkan, bertahan di suatu organisasi seharusnya bukan karena kita merasa tidak enak dengan anggota lainnya “Jadi bukan karena nggak enakan atau gimana, karena mental health is important. Kalau emang secara mental kita udah ngerasa capek banget, ngerasa ‘cukup di sini’, okay just let go,” ujarnya.
Dalam mengatasi demotivasi tersebut, Laily menyampaikan tips untuk menghadapi fase tersebut, yakni refleksi. Melansir dari alodokter.com, refleksi diri adalah bagian dari proses introspeksi diri yang dilakukan dengan cara melihat kembali dan merenungkan berbagai hal yang telah terjadi di dalam hidup, seperti pengalaman, kebiasaan, dan keputusan.
Senada dengan Laily, Akhmad Thufail selaku mahasiswa Biologi FMIPA UI 2018 yang juga aktif di Center for Entrepreneurship Development & Studies (CEDS) UI, juga merasakan hal yang sama. Ia sempat merasakan ingin matil (main tinggal) dari organisasi yang diikutinya. Untuk mengatasinya, ia menekankan bahwa komunikasi antaranggota organisasi sangat penting. “Misalkan kita lagi di posisi yang lagi down, aku tuh bilang (ke teman-teman--red), ‘Punten, ini aku lagi nggak karuan banget, ada masalah ini. Kayaknya aku butuh waktu deh buat tenangin diri’, gitu. Yang penting kita terbuka,” ujarnya.
Akhmad juga menekankan pentingnya kita memiliki tujuan dan alasan kita memilih dan bertahan di organisasi tersebut. “Kalau niatnya masuk organisasi cuma biar, ‘Wah keren’ atau kayak play chain, itu nggak usah berharap lah buat bisa all out di segala bidang,” ujarnya. “Makanya kita perlu luruskan niat dulu, jadi ketika mau belok, kita ingat, tujuan awal kita masuk sini mau ngapain ya?”
Mengatur waktu, kunci keseimbangan kuliah dan organisasi
Di tengah hiruk-pikuk kegiatan organisasi dan akademiknya, Laily sering sekali mendapat pertanyaan mengenai bagaimana memanajemen waktunya. Ia membagikan tips bagaimana cara mengatur waktunya, yakni dengan membagi menjadi 4 kuadran. Kuadran pertama, yakni urgent dan important, yakni kondisi dimana hal tersebut harus didahulukan, yang artinya harus segera dikerjakan. Kuadran kedua, hal penting namun tidak begitu mendesak, yang artinya perlu dijadwalkan. Kuadran ketiga, mendesak tetapi tidak penting, yang artinya delegasikan. Kuadran keempat, hal yang tidak mendesak dan tidak penting, yang artinya dapat ditunda.
Ketika ditanya bagaimana caranya mengatur keseimbangan kuliah dan organisasi, Laily kembali memberikan tiga masukan. Pertama, berani mengambil langkah, berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab untuk menjalaninya. Kedua, perluas zona nyaman. “Kalau misalkan orang-orang bilang, ‘Keluar dari zona nyaman’, mungkin itu bisa bikin kita jadi minder dan nggak percaya diri, karena ngerasa, ‘Ya kita udah nyaman dengan seperti ini’, kenapa kita harus dipaksa keluar dari zona nyaman kita?”. Laily menjelaskan, alih-alih keluar dari zona nyaman, lebih baik kita meluaskan zona nyaman kita, yang berarti ada tantangan yang hendak kita hadapi dan kita tidak meninggalkan zona nyaman kita. Ketiga, kembali lagi pada prinsip “Dont quit what you’ve done”.
Sementara itu, Akhmad juga memberikan tips and trik yang ia terapkan. Pertama, membuat skala prioritas terlebih dahulu. Kedua, jadikan organisasi sebagai tempat berkembang. “Aku bilang ke staf-staf aku di CEDS, ‘Silakan temen-temen itu bikin kesalahan sebanyak-banyaknya. Gapapa, salah nggak akan kumarahin’. Nah, justru dari situ bisa jadi ide yang luar biasa dan misalkan itu ternyata hasilnya kurang itu bisa kita evaluasi,” ujarnya. Ketiga, niat belajar dan ikhlas dalam menjalankan kegiatan.
Teks: Giovanni Alvita
Kontributor: Irvani, Magdalena Natasya
Ilustrasi: Istimewa
Editor: Nada Salsabila
Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkulitas!
Referensi:
Pertiwi, Mustika Cahyaning., Sulistiyawan, Awang., Kaltsum, Ummi Honest. (2015). “Hubungan Organisasi dengan Mahasiswa dalam Menciptakan Leadership”. Publikasi Ilmiah UMS. Surakarta: PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta.