Logo Suma

Menyoroti Peran MWA UI UM: Dari Kampus Merdeka sampai Advokasi Mahasiswa Disabilitas

Redaksi Suara Mahasiswa · 25 November 2021
3 menit · - kali dibaca
Menyoroti Peran MWA UI UM: Dari Kampus Merdeka sampai Advokasi Mahasiswa Disabilitas

Calon tunggal MWA UI UM (Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia Unsur Mahasiswa), Muhammad Taqiyuddin Rosyid, Mahasiswa Antropologi UI angkatan 2018 kembali menjalani rangkaian Pemira, yaitu eksplorasi MWA UI UM rumpun Saintek pada Rabu (24/11). Tidak berbeda dengan eksplorasi sebelumnya, acara kali ini dimulai dengan pembacaan tata tertib, pembacaan CV calon dilanjutkan dengan pemaparan Grand Design,  dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang terbagi kedalam lima sesi.

Ocid, sapaan dari calon tunggal MWA UI UM ini disambut dengan pertanyaan dari Hilmy, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) angkatan 2017. Ia mempertanyakan apa sebenarnya tugas, rencana strategis, dan RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) MWA UI. Ocid mengatakan bahwa tugas MWA UI UM merupakan perwakilan mahasiswa satu-satunya dalam menyampaikan aspirasi dan isu-isu yang disampaikan oleh mahasiswa yang akan diadvokasi di dalam forum MWA UI.

Selain itu, pertanyaan berikutnya dilontarkan oleh Abdurrafi Arief dari Fasilkom perihal penerapan transparansi yang akan dibawa oleh Ocid. Ia juga menanyakan perihal strategi apa yang akan dilakukan oleh Ocid untuk membuat MWA UI UM memiliki pengaruh saat mendiskusikan kebijakan dengan MWA unsur lainnya.

Ocid selanjutnya menjawab pertanyaan tersebut dengan menjelaskan kode etik terkait kerahasiaan rapat yang dimiliki oleh MWA yang seringkali menghambat transparansi dari MWA UI UM. Ocid kemudian menjelaskan akan berusaha untuk mempublikasikan hasil rapat dalam bentuk kajian yang sudah diolah, tetapi tetap berkoordinasi dengan MWA UI lainnya.

“Kita akan berkoordinasi baik secara formal maupun non formal. Kita juga akan berkoalisi dengan MWA UI unsur lainnya,” ucap Ocid menanggapi pertanyaan perihal cara membuat MWA UI UM dapat memiliki pengaruh dalam pengaturan kebijakan.

Saat ditanyakan perihal harapan untuk tiga tahun kedepan, Ocid menyatakan harapannya adalah isu-isu strategis seperti Statuta UI, beasiswa mahasiswa, dan kesehatan mental dapat ditangani dengan baik, dan juga terciptanya peraturan hasil adopsi dari Permendikbud PPKS (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual) menjadi Peraturan Rektor.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Gabriella, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang menanyakan mengapa terdapat anggapan bahwa MWA UI UM tahun ini adalah “Humas Rektorat,” dan bagaimana cara Ocid akan menjangkau FMIPA saat menjadi MWA UI UM.

Menanggapi hal tersebut, Ocid mengatakan bahwasannya anggapan tersebut muncul karena kurang aktifnya publikasi, dan kurangnya pengetahuan perihal MWA memiliki tugas untuk membawa aspirasi mahasiswa ke rektorat. “Apalagi dibilang sebagai humas rektorat itu benar karena ada tugas-tugas yang menjelaskan kepada mahasiswa mengenai hasil rapat,” ucap Ocid.

Lebih lanjut, perihal penjangkauan FMIPA, Ocid berharap akan menjangkau FMIPA lebih jauh termasuk DPM dan BEM FMIPA agar mahasiswa FMIPA dapat merasakan dampak dari MWA UI UM.

Isu mengenai kampus merdeka juga tidak luput dipertanyakan oleh mahasiswa rumpun Saintek. Pertanyaan ini datang dari Ilma Ainur Rohma, Fasilkom. Ia mempertanyakan sejauh mana Ocid mengetahui isu kampus merdeka dan ada atau tidaknya aturan khusus mengenai isu ini.

Ocid mengakui bahwa belum terlalu mengetahui mengenai isu kampus merdeka. Ia hanya tahu bahwa kampus merdeka merupakan kegiatan yang dapat menggantikan SKS, bentuknya seperti magang, IISMA (Indonesian International Student Mobility Awards), dan lain-lain.

Ilma juga mempertanyakan peran apa yang dapat diambil oleh MWA UI UM dalam menangani isu keterlambatan gaji yang dialami sejumlah mahasiswa yang mengikuti program kampus merdeka. Ocid mengatakan bahwa MWA UI UM dapat membantu mengadvokasi isu tersebut kepada pihak rektorat, Dirmawa, dan MWA UI unsur lainnya.

Peran MWA UI UM dalam Advokasi Mahasiswa Disabilitas

Topik baru dan berbeda muncul pada eksplorasi di rumpun Saintek yang belum diangkat di dua rumpun sebelumnya, yakni peran MWA UI UM bagi mahasiswa disabilitas. Hal ini ditanyakan oleh Azalea Anindya dari FMIPA. Azalea mempertanyakan sejauh mana Ocid peduli terhadap mahasiswa UI yang memiliki kebutuhan khusus. Pertanyaan ini muncul dari pengamatannya mengenai kurangnya fasilitas UI bagi mahasiswa disabilitas.

Ocid mengatakan bahwa ia berharap isu fasilitas mahasiswa disabilitas dapat menjadi salah satu enam rekomendasi. “Harapannya akan menjadi salah satu dari enam rekomendasi yang ditandatangani oleh calon rektor dan akan terus kami advokasi mengenai fasilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas,” jawab Ocid.

Azalea kembali mempertanyakan kesungguhan calon tunggal MWA UI ini dengan mempertanyakan apakah ada capaian tertentu untuk mendukung mahasiswa disabilitas. Ocid secara terbuka mengakui bahwa masih belum terlalu awam mengenai hal apa saja yang dibutuhkan bagi mahasiswa disabilitas dan meminta maaf akan kekurangannya. “Saya belum mendalami apa saja yang dibutuhkan, saya minta maaf, harapan saya bisa belajar lebih banyak mengenai hal ini,” jawab Ocid.

Tidak berhenti disana, Azalea bertanya kembali apakah Ocid telah memiliki data mengenai mahasiswa disabilitas di UI. Ocid mengakui bahwa ia belum mempunyai data tersebut. Selain soal disabilitas, pertanyaan dilanjut mengenai isu bullying. Azalea mempertanyakan trategi apa yang akan dilakukan mengenai kasus perundungan atau teror terhadap sesama Civitas Akademika di UI. Ocid mengatakan bahwa jalur perlindungan merupakan tupoksi BEM dan Adkesma.

“Untuk jalur perlindungan merupakan tupoksi teman-teman BEM, nantinya akan mengadvokasi lebih lanjut dan berdiskusi dengan Adkesma karena pada akhirnya merupakan ranah Adkesma,” ujar Ocid.

Di akhir acara, Ocid mengucapkan terima kasih kepada Panitia Pemira IKM UI, IKM UI, dan seluruh partisipan eksplorasi. Ocid menyatakan bahwasannya perjalanan kedepan akan dinamis, namun tujuan utama kita adalah untuk terus mengadvokasi dan memperjuangkan kebutuhan IKM UI. (*)


Teks: Loga Prity Dewi dan Timotius Benjamin Ebenezer

Foto: Timotius Benjamin Ebenezer

Editor: Giovanni Alvita

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap