Logo Suma

Mikrofon Dilarang di Tengah Diskusi, FMR: "Katanya Kampus Progresif!”

Redaksi Suara Mahasiswa · 29 Juni 2026
2 menit · - kali dibaca
Mikrofon Dilarang di Tengah Diskusi, FMR: "Katanya Kampus Progresif!”

Front Muda Revolusioner (FMR) Depok mengadakan diskusi publik bertemakan “Reformasi Jilid Dua atau Revolusi?” pada Sabtu (27/6). Kegiatan yang bertempat di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) ini dimulai pada pukul 14.10 WIB. Selama orasi berlangsung, petugas keamanan sempat beberapa kali mendatangi tempat diskusi.

Lalu, sekitar pukul tiga sore, seorang petugas keamanan kembali datang dan melakukan interupsi di sesi diskusi. Acara sempat terhenti selama beberapa menit. Ketua acara terlihat kembali berkoordinasi dengan petugas keamanan. Kisaran lima menit setelahnya, sesi diskusi pun dilanjutkan tanpa mikrofon.

Berkaitan dengan itu, Husein, salah satu anggota FMR, melayangkan sindiran atas intervensi yang dilakukan petugas keamanan dengan meneriakkan “Katanya kampus progresif!” usai acara. “Yang katanya progresif tapi menolak kita bicara di sini,” sindirnya dalam pidato saat sesi diskusi. Peserta lain pun tampak menyayangkan tindakan itu.

Di awal diskusi, FMR fokus menyoroti persoalan sistem negara yang kapitalis. Ellen selaku pembicara pertama dan anggota FMR mengatakan alasan diperlukannya revolusi daripada reformasi adalah karena banyaknya isu saat ini yang diwadahi oleh sistem kapitalisme:

  1. Lemahnya mata uang rupiah
  2. Intervensi aparat negara yang berlebihan
  3. Maraknya kasus korupsi dan birokrasi yang menggemuk
  4. Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal
  5. Utang negara yang membengkak
  6. Ketidakoptimalan program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Selain itu, ia menyampaikan kritik atas kebijakan presiden yang dinilai hanya menguntungkan pengikutnya. Misal, ikut campurnya aparatur negara dalam program MBG dan penyerahan konsesi tambang kepada pemuka agama. “Narasi Indonesia emas 2045 pasti akan terjadi, tapi di alam mimpi,” kritiknya.

Lebih lanjut, Ellen, salah satu anggota FMR, menilai peristiwa 1998 sebagai revolusi yang gagal dan dibelokkan menjadi reformasi. Hal ini disebabkan sistem kapitalisme yang tidak turut tumbang bersama dengan rezim Soeharto. Ia menggarisbawahi kegagalan reformasi saat ini disebabkan oleh mengakarnya kapitalisme.

“Yang kita perlukan hari ini bukan reformasi jilid dua, tapi yang kita butuhkan hari ini adalah perspektif gagasan revolusioner.”

Terakhir, ia menyerukan revolusi sosialis yang bertujuan untuk mengakhiri sistem ekonomi berbasis profit dan kepemilikan pribadi serta meletakkan kekuasaan kontrol di tangan dewan pekerja. Ellen melalui pidatonya mengajak peserta diskusi untuk bersiap di tengah krisis dengan cara mendidik diri masing-masing dan melawan status quo yang ada.

Diskusi diikuti secara aktif oleh banyak peserta, baik itu anggota FMR sendiri, maupun peserta dari luar. Beberapa peserta bahkan berasal dari kalangan paruh baya. Salah satunya adalah Prita, alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI.

Prita mengimbau para peserta yang didominasi oleh mahasiswa untuk jangan takut menjadi bagian kiri. “Tidak ada teori yang dapat membahas kemiskinan sebaik teori-teori kiri,” ungkapnya. Dalam diskusi, ia turut menegaskan pentingnya revolusi karena gagasan reformasi yang sudah cacat sejak awal tidak akan dapat diperbaiki.

Di samping itu, Johan, peserta lainnya menyampaikan situasi Indonesia saat ini sedang mengalami eskalasi ke arah revolusioner. Menurutnya, makna revolusioner sendiri adalah gerakan yang terarah. Dia juga menekankan perlunya memperjelas arah revolusi agar masyarakat dapat menentukan paradigma yang harus dipilih dan memiliki gambaran konkret soal masa depan.

Setelah hampir dua jam diskusi berlangsung, Karni selaku moderator dan anggota FMR memberikan kesimpulan di akhir kegiatan. Ia membahas soal perlunya faktor objektif dan subjektif dalam konteks revolusioner, serta dibutuhkannya organisasi pemimpin perjuangan rakyat.

Sebagai penutup, ia berpesan agar peserta diskusi dapat mempelajari teori Marxisme yang ada serta kembali membuka buku catatan sejarah perjuangan kelas di Indonesia.

Catatan: Berdasarkan permintaan penyelenggara diskusi, semua nama yang dituliskan bukan nama sebenarnya. Hal ini demi keselamatan pihak terkait.

Teks: Diandra Alia Rizqita

Editor: Naswa Dwidayanti Khairunnisa

Foto: Diandra Alia Rizqita

Desain: Allisya Putri Ramadhani

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap

Teks

Diandra Aila Rizqita

Editor

Naswa Dwidayanti Khairunnisa

Foto

Diandra Aila Rizqita

Desain

Allisya Putri Ramadhani