Logo Suma

Multitasking: Dihindari atau Justru Diperlukan?

Redaksi Suara Mahasiswa · 18 Desember 2021
5 menit

Beberapa minggu lalu, Suara Mahasiswa UI mengangkat artikel tentang free rider, sebagai sebuah fenomena yang kerap terjadi di lingkungan akademik. Tetapi, selain free rider, fenomena yang umumnya juga menimpa mahasiswa adalah multitasking. Bagi mahasiswa yang memiliki berbagai kegiatan sekaligus seperti organisasi, kepanitiaan hingga magang, membuat kita bertanya-tanya, bagaimana sih cara mahasiswa menyelesaikan tugas-tugas yang mereka terima di perkuliahan, lalu tanggung jawab dari organisasi atau UKM, bahkan  mungkin ditambah beban dari lingkungan rumah atau keluarga mereka?

Mungkin multitasking-lah adalah salah satu jawaban yang akan didengar jika bertanya kepada teman-teman mahasiswa/mahasiswa. Namun, sebenarnya, apa itu multitasking? Multitasking adalah kemampuan seseorang untuk melakukan lebih dari satu hal dalam waktu yang sama. Contohnya, ketika kita harus menyelesaikan tugas yang sudah deadline tetapi dalam waktu yang sama kita juga harus menjaga adik kita. Di saat itulah kita sedang melakukan apa yang disebut dengan multitasking.

Multitasking ini merupakan hal yang tak jarang dilakukan oleh para mahasiswa, terutama dalam masa yang serba online ini, dimana ruang gerak kita tidak dibatasi oleh aturan atau dipantau oleh orang lain. Kita bisa saja dengan bebas menjalani kelas di zoom sekaligus mengerjakan tugas untuk mata kuliah lain, atau bahkan kelas sembari menonton film-film di Netflix karena bosan. Fenomena multitasking ini semakin marak dan wajar dilakukan oleh mahasiswa/mahasiswi saat ini, karena dianggap lebih produktif. Apakah benar?

Cerita dari Mereka yang Pro dan Kontra dengan Multitasking

Bagi sebagian orang, mungkin multitasking dirasa sangat penting dan mereka perlukan, bahkan tak jarang multitasking dianggap membantu mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka secara bersamaan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Fanny dari FMIPA 2020, “Multitasking udah jadi keseharianku, but multitasking is not for everyone, itu memang skill yang harus diasah dan nggak bisa sembarangan dilakuin gitu.”

Selaras dengan Fanny, Sam dari Fakultas Teknik UI 2020, “Sebenarnya penting atau enggaknya multitasking itu tergantung sih.  Contoh, rapat-rapat yang sebenarnya lu ngga terlalu involve, bahasannya bisa di notulensi, itu gak terlalu penting kan buat lu dengerin dari awal sampai akhir, cukup job lu aja, itu menurutku gapapa multitasking.”

Lebih lanjut, saking seringnya multitasking, Sam sampai menemukan cara tersendiri untuk dapat mengerjakan segalanya dengan multitasking. “Kita bisa double device atau triple device, adalah dengan cara nyelesain bagian kita dulu, abis selesai bagian kita, biasanya kan aku bareng temen, nanti aku kayak liat notul atau nanya temen aja setelah bagian aku. Soalnya biasanya bidangnya kan kerja sendiri-sendiri, gak perlu terlalu tau untuk bidang lain. Jadi konsepnya gak usah terlalu peduli sama bidang-bidang lain yaaa,” ujar Sam.

Berbeda dengan Fanny dan Sam, Wanda FH 2021 mengatakan, ia tidak bisa dan tidak menyukai multitasking. Bagi Wanda, multitasking justru malah membuat seluruh pekerjaannya menjadi berantakan. Alasannya, ia sangat mudah terdistract oleh hal-hal kecil, misalnya saja jika ia belajar sambil mendengarkan musik, ia malah lebih fokus ke musik tersebut daripada tugas-tugasnya.

Multitasking: Lebih Banyak Dampak Buruk atau Baik?

Meski sering melakukan multitasking, Sam mengakui ada dampak buruk yang ia rasakan. Misalnya, dari sisi psikologis, ia merasa emosinya kerap kali menjadi bercampur aduk. “Misalkan di satu sisi gue lagi ngerjain tugas, pasti stress banget kan tuh, terus nanti harus multitasking sama ini kan, jadi kalo lagi ngobrol di rapat, harusnya kan lebih have fun gitu loh menurut gue, biar kayak idenya nyampe, karena rata-rata bagian gua di kreatif ya,” ujarnya. Tak hanya di situ, multitasking kerap membuatnya merasakan ‘otak mampet’ yang hasilnya Sam kurang aktif saat sesi brainstorming, padahal seharusnya sesi itu menjadi sesi tukar pendapat dan ide-ide. “Pokoknya yang paling salah dari keseringan multitasking itu adalah lu memaksa diri lu buat kerja terus, dan lu normalisasi,” tutur Sam.

Menurut Fanny, melakukan multitasking pun dapat mempengaruhi kesehatan mentalnya, tetapi hal ini dilakukan demi mencapai academic achievement dan keberhasilan dalam berorganisasi. Melakukan 4 rapat dalam 1 waktu membuat Fanny kewalahan menjaga moodnya tetap stabil, “Pasti ada waktu-waktu stress, waktu-waktu frustasi, waktu-waktu kayak putus asa gitu. Ya ampun ini susah banget fokus kesemuanya”. Namun, hal ini ia siasati dengan cara menjadwalkan waktu untuk beristirahat atau sekedar me time atau family time.

Multitasking berlebih dapat menurunkan performa area otak pada area yang berkaitan dengan fungsi kognitif, motivasi, dan emosi. lalu dapat mengurangi kemampuan daya ingat otak yang hasilnya menjadi lebih mudah lupa. Dalam riset yang dilakukan oleh Clifford Nass, profesor komunikasi dari Stanford University mengatakan, seseorang yang terbiasa memproses berbagai informasi, terutama dalam bentuk elektronik dan dalam waktu yang bersamaan, cenderung tidak dapat memperhatikan, mengontrol ingatannya, dan mengganti tugas dari satu ke tugas lainnya, sebaik mereka yang lebih memilih untuk menyelesaikan tugas dalam satu waktu. Dilansir dari Kompas, kebiasaan multitasking saat menggunakan barang elektronik dapat menimbulkan stres kronis, dan mengalami gejala depresi dan meningkatkan risiko gangguan kecemasan sosial.

Meskipun multitasking membawa beberapa dampak negatif, tidak serta merta melakukan multitasking itu buruk. Menurut ilmuwan dari Chinese University of Hongkong mengatakan bahwa orang yang multitasking lebih terlatih dalam menggunakan otak dan indera yang membuat mereka lebih cepat dan sigap dalam menyerap informasi. Lalu, dapat membuat pekerjaan menjadi lebih cepat selesai karena dikerjakan dalam satu waktu, sehingga waktu tidak terbuang sia-sia.

Menurut Fanny, multitasking saat mengerjakan tugas dapat terselesaikan dengan baik itu tergantung mood dan seberapa hectic keadaan saat itu, “Misalnya, cuman double meet, itu sambil ngerjain tugas, masih bisa dikerjakan dengan kualitas yang baik. Soalnya rata-rata nilai aku sih, ya di atas 85 kalo ngerjain tugas sambil rapat gitu,” tutur Fanny. Namun, untuk kelas kuliah tidak dapat ditolerir, jadi Fanny tidak mengambil double job saat jam kelasnya berlangsung demi menjaga fokusnya. “Multitasking is a very important. Apalagi kalo mau punya me time, jadi harus ada waktu untuk bisa cram a lot of things di satu waktu.” tambah Fanny.

Multitasking: Yes or No?

Lalu apakah kita boleh multitasking? Jawabannya adalah boleh, tetapi ada batasnya. Tidak dianjurkan untuk menerapkan multitasking dalam jangka waktu yang lama mengingat dampak buruk yang mengintai kita. Batasi mengerjakan atau membagi fokus maksimal untuk dua hal saja, dan berikan jeda setelah melakukan multitasking. Dengan melakukan jeda, fokus otak tidak terus-menerus terpecah dan memicu stres.

Saat multitasking dalam mengerjakan tugas, kita pun tidak boleh berekspektasi tinggi, “Jadi ada dua parameter gitu. Kalau ngerjain tugas, ujungnya tuh ada dua. Ujung pertama itu menuju perfect, ujung kedua yang penting selesai. Biasanya tugas-tugas yang multitasking itu tugas-tugas yang penting selesai, jadi gua ngga mengharapkan lebih gitu loh,” tutur Sam.

Menurut Wanda, karena sudah pernah ‘mencoba’ untuk multitasking dan sudah mengetahui batasan dirinya, kedepannya ia akan membatasi diri sesuai dengan kemampuannya,  “Kalau emang ini udah ngga bisa mending ditolak aja gitu, kalau ada tawaran organisasi. Fokus aja ke satu hal dan ngehasilin hal yang terbaik di hal tersebut, daripada harus masuk ke beberapa hal dan ngga menghasilkan apapun, dan malah bisa membuat aku dianggap buruk juga oleh orang lain karena aku ngga ada kontribusinya, kan malah ngga baik.”

Lalu bagaimana apabila kita tidak bisa multitasking, tetapi kewalahan dalam mengerjakan segala deadline? “Menurut aku time management sih yang penting, kayak focus on one thing at one time, tapi harus semangat kerjanya jangan sampe ngaret-ngaret atau procrastinate,” ungkap Fanny.

Teks: Magdalena Natasya, Allya Shafira
Kontributor : Afifa Ayu, Irvani Imbiri, Rachelyn Maharani
Ilustrasi: Adelia Febriyanti
Editor: Giovanni Alvita

Pers Suara Mahasiswa UI
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Referensi:

Afifah, M. (2020). Manfaat dan Mudarat Multitasking bagi Kesehatan Mental. https://health.kompas.com/read/2020/09/27/193300868/manfaat-dan-mudarat-multitasking-bagi-kesehatan-mental?page=all. (Diakses pada 12/12/2021)


Anonim. (2018). Riset: Multitasking Bisa Bikin Otak Kurang Fokus. https://litbang.kemendagri.go.id/website/riset-multitasking-bisa-bikin-otak-kurang-fokus/. (Diakses pada 12/12/2021)

Psychology Today. (2016). 10 Real Risks of Multitasking, to Mind and Body. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-squeaky-wheel/201606/10-real-risks-multitasking-mind-and-body.  (Diakses pada 12/12/2021)


Verywell Mind. (2021). How Multitasking Affects Productivity and Brain Health. https://www.verywellmind.com/multitasking-2795003#:~:text=Multitasking%20takes%20a%20serious%20toll,effective%20approach%20for%20several%20reasons. (Diakses pada 12/12/2021)