Logo Suma

New Semester, New Me: Maba Vs Mahir

Redaksi Suara Mahasiswa · 24 Februari 2026
3 menit

Minggu pertama kuliah kerap datang dengan perasaan campur aduk. Deretan kursi menuntaskan mudiknya. Target baru pun merindu untuk disusun ulang. Di dunia maya, mantra “New Semester, New Me” kembali digembar-gemborkan. Seruan yang semula kelakar beralih menjadi sarana refleksi diri untuk merajut ambisi baru

Dalam kajian psikologis, kondisi ini disebut manifestasi dari Belajar Berdasar Regulasi Diri (Self-Regulated Learning). Mahasiswa secara aktif menetapkan tujuan belajar, memantau, dan mengontrol kognisi mereka (Tekeng & Alsa, 2016). Dengan begitu, proses ini dimaknai sebagai pembelajaran seumur hidup.

Anly, mahasiswa tahun pertama Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), menapaki semester baru sebagai ruang untuk menata ulang diri. Ia mulai dengan mengatur ritme tugas dan memberanikan diri lebih aktif di kelas. Baginya, setiap awal semester adalah kesempatan untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang kerap menghambat langkah.

Sebagai seorang perantau dari Kalimantan Timur, gegar budaya tak terelakkan. Perbedaan kultur dan ritme hidup menjadi tantangan awal yang harus ia hadapi dalam atmosfer UI yang kompetitif. Ketidaktahuannya tentang dunia perkuliahan sempat ia tutupi dengan ekspektasi yang dibangun dari cerita orang lain. Perlahan,  jika tak diurai menjadi langkah-langkah kecil, harapan itu menumpuk menjadi beban batin.

“Dulu aku membayangkan kuliah itu lebih santai dan fleksibel. Datang ke kelas, diskusi, main, tugas masih bisa diatur. Tapi ternyata kebebasan saat kuliah, berarti tanggung jawab ada di diri sendiri. Nggak ada yang ajarin buat paham materi, sedangkan deadline selalu barengan dengan standar yang tinggi,” ujarnya.

Selepas semester pertama, makna bebas bagi Anly berubah. Pilihan untuk memilih kegiatan non-akademik beriringan dengan risiko kehilangan fokus. Pertanyaan pun muncul berulang. Haruskan Anly memusatkan diri pada akademik, atau menyibukan diri di organisasi? Dilema itu menjadi bagian dari proses belajar. Bukan sekedar memilih, tetapi mengenali batas dan menimbang kesanggupan diri.

Di tengah kebingungan tersebut, Danau Kenangan menjadi tempat Anly untuk meredam riuh kepala. Dibarengi dengan hal-hal sederhana yang ia gemari, seperti menggambar, menulis, mendengarkan musik, hingga menyelesaikan tugas. Rumitnya badai dalam pikiran perlahan luruh, seiring sejuknya angin yang berembus.

Seiring waktu, Anly belajar realita perkuliahan tak selalu sehalus kapas. Ia harus berlatihan meninggalkan kesalahan rutin, mengenali tujuan, dan menakar kesanggupan. Di benaknya perlahan tertanam bahwa IPK bukan segalanya. Namun, perkembangan pribadi juga suatu perolehan.

Gejolak yang Anly alami berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar psikologis berupa otonomi. Ketika mahasiswa merasa memiliki pilihan dan kemauan sendiri, mereka cenderung termotivasi secara intrinsik untuk mengatur dirinya sendiri (Tekeng & Alsa, 2016). Dari sanalah, Anly mengasah kebutuhannya dengan memilih antara fokus akademik atau organisasi, sembari menanggalkan kebiasaan buruk (error habit).

Di sisi lain, bagi Yoga, mahasiswa akhir Fakultas Teknik (FT) UI, frasa "New Semester, New Me" adalah evaluasi berkelanjutan, bukan letupan pembaruan sesaat. “Setiap semester pasti ada yang aku evaluasi. Selalu ada metode baru yang aku coba, entah itu metode belajar yang baru, cara time management yang berbeda, atau urutan urgensi yang aku susun ulang. Apalagi karena kelasnya juga baru, jadi semuanya memang perlu diatur lagi setiap semesternya,” ungkapnya.

Fluktuasi yang dialami mahasiswa tingkat akhir pun terasa berbeda dibandingkan dengan mahasiswa baru seperti Anly. Di semester sebelumnya, Yoga mampu mengemban 23 SKS sekaligus menjalani tiga magang, kepanitiaan, dan organisasi. Namun di semester akhir, justru kebingungan hadir lebih dominan. Perhatiannya tertuju pada penelitian skripsi, sementara gambaran garis akhir belum sepenuhnya terbentuk. Kondisi ini menuntut Yoga lebih mandiri dalam menyusun ritme hidupnya.

“Kalau dibandingkan dengan sekarang, rasanya semester lalu lebih terfokus. Semester tua tidak sepadat sebelumnya, dan lebih banyak ruang untuk refleksi serta menyusun ulang prioritas," katanya.

Menurut Yoga, kematangan mahasiswa tingkat akhir tercermin dari cara menata hidup agar tetap selaras dengan tantangan yang silih berganti. Pandangan ini sejalan dengan pendapat Tekeng dan Alsa (2016), yang menyebutkan regulasi diri tinggi tidak belajar secara mekanis. Strategi mereka harus terus dimodifikasi berdasarkan pengalaman sebelumnya (forethought phase).

Perjalanan Yoga dan Anly sama-sama diwarnai rasa rendah diri dan kecenderungan membandingkan diri. Yoga yang merasa tertinggal saat target seperti student exchange atau juara lomba belum tercapai, sementara teman-temannya telah lebih dulu berhasil. Kegamangan serupa turut dirasakan oleh Anly, hingga pikiran itu menyeretnya pada keputusasaan dan sikap keras terhadap diri sendiri.

Dari proses itulah Anly menarik rem. Bukan untuk berhenti bergerak, melainkan agar tak terjebak pada perlombaan semu. “Intinya jangan lomba untuk sibuknya saja, tetapi tahu batas diri. Cukupkan kalau memang sudah terlalu penuh," tekadnya.

Sementara Anly penuh pertimbangan, Yoga menyarankan mahasiswa tahun pertama untuk terus mengeksplorasi diri di awal perkuliahan. Mencoba berbagai kegiatan, mengenali minat dan bakat, tanpa kehilangan kesadaran akan tujuan akhir. Setiap fase perkuliahan memiliki tantangan tersendiri, sehingga tak adil jika disandingkan dalam satu ukuran keberhasilan yang sama.

“Kalau dari pengalamanku waktu jadi mahasiswa baru, mungkin kesalahanku dulu itu kurang eksplor. Kurang mengenal kegiatan-kegiatan yang ada di kampus, dan kurang memaksimalkan privilege sebagai mahasiswa UI, terutama di semester 1.” Akunya

Pada akhirnya, semester baru tidak sepenuhnya perihal menjelma sebagai sosok yang sepenuhnya berbeda. Bagi sebagian orang, ia adalah ruang pencarian, Bagi yang lain, sebagai tempat bercermin ulang. Namun, keduanya bertemu pada satu keyakinan bahwa setiap langkah di awal semester sekecil apapun adalah bagian dari perjalanan untuk menuju versi yang lebih baik.

Referensi

Tekeng, S. N. Y., & Alsa, A. (2016). Peranan Kepuasan Kebutuhan Dasar Psikologis dan Orientasi Tujuan Mastery Approach terhadap Belajar Berdasar Regulasi Diri. Jurnal Psikologi, 43(2), 85-106.

Adinda, R. (2023, June 30). Self awareness: kesadaran diri dalam memahami kemampuan diri. Best Seller Gramedia. https://www.gramedia.com/best-seller/self-awareness-kesadaran-diri/

Teks: 'Izza Billah dan Reika Fitriani

Editor: Zulianikha Salsabila Putri

Desain: Raissa Salsabila Azalia  

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!