
Aksi yang bertajuk “Ramai-Ramai Lempar Botol Pipis ke Kementerian Komunikasi dan Informatika” yang sebelumnya diunggah pada laman instagram milik Blok Politik Pelajar (BPP) mendapat banyak sorotan dari publik karena menggunakan pendekatan yang lumayan tidak lazim dilakukan, yakni adanya pelemparan kotoran manusia (red: air pipis) dan okupasi ruang publik sebagai garis besar aksi yang akan diinisiasi oleh Blok Politik Pelajar. Belakangan diketahui juga bahwa Blok Politik Pelajar merupakan gerakan yang lahir atas respon dari aksi Reformasi Dikorupsi menolak RKUHP pada 2019 silam. Blok Politik Pelajar menyerukan aksi massa pada hari Senin, 1 Agustus 2022 pukul 14.00 WIB di depan Gedung Kominfo, Jakarta Pusat sebagai respons terhadap kebijakan pemblokiran ruang digital oleh Kominfo.
Sebelumnya, sempat muncul group di platform sosial media Facebook yang menginisiasi gerakan di ruang digital melalui unggahan pengguna Facebook bernama Anichka. Gerakan yang diinisiasi dengan tajuk yang identik dengan Blok Politik Pelajar ini berhasil menarik banyak perhatian dari pengguna sosial media Facebook. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh Suara Mahasiswa terhadap laman Facebook tersebut, para calon aksi massa pelemparan botol pipis ke Gedung Kominfo didominasi dari kalangan “gamers” dan pelajar yang mengalami kegundahan akibat terdampak oleh pemblokiran ruang digital yang dilakukan oleh Kominfo ini.
Pada Senin (1/8/2022), melalui rilis pers dan tanggapan terhadap rilisan Aliansi Koalisi Advokasi Permenkominfo 5/2020 yang dikeluarkan Blok Politik Pelajar sebagai inisiator aksi pelemparan botol pipis memutuskan untuk mengurungkan rencana aksi bertepatan dengan dua jam sebelum dilaksanakannya aksi di depan Gedung Kominfo. Salah satu alasan yang mendasari pembatalan tersebut adalah Blok Politik Pelajar akan menghargai proses advokasi yang dilakukan oleh Aliansi Koalisi Advokasi Permenkominfo. Alasan lainnya berhubungan dengan pandangan Koalisi (NGO) yang menyebutkan bahwa aksi-aksi ini, termasuk tagar #BlokirKominfo, merupakan gerakan yang bernafas berlawanan dengan upaya advokasi Aliansi Koalisi Advokasi Permenkominfo Kemudian, adanya keenganan dari pihak Blok Politik Pelajar untuk nantinya dijadikan sebagai kambing hitam oleh NGO/LSM terhadap kegagalan advokasi di kemudian hari.
Menurut informasi yang Suara Mahasiswa dapatkan terdapat penolakan aksi pelemparan botol pipis yang dilakukan oleh beberapa NGO terkemuka, seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), dan Safenet sebagai pihak yang paling menunjukan ketidaksetujuannya terhadap aksi hari ini. Dengan demikian, Blok Politik Pelajar akhirnya memutuskan untuk menghargai proses advokasi tersebut dan menghindari tudingan lainnya sebagai penyulut kegagalan advokasi dengan mengurungkan ajakan aksinya kemarin.
Berkaitan dengan hal tersebut, unggahan media Blok Politik Pelajar mengenai ajakan aksi massa ini telah dihapus. Bahkan, akun pengguna Facebook Anichka yang menginisiasi unggahan di sosial media Facebook mengenai aksi pelemparan botol pipis sudah tidak bisa ditemukan pada pencarian di Facebook.
Pada pukul 15.30 WIB, melalui rilisan terbarunya di instagram Blok Politik Pelajar tetap melancarkan aksi simbolik sebagai bentuk pertanggungjawaban dengan datang ke lokasi serta melakukan aksi penyiraman air pipis. Menurut BPP, air pipis yang disiramkan tepat di depan Gedung Kominfo merupakan tanda bahwa Kominfo lebih pantas dijadikan sebagai tempat pembuangan feses daripada menjadi lembaga negara yang mengurusi persoalan ruang digital dan hak-hak publik masyarakat sipil dalam menikmati kebebasan dalam mengakses segala bentuk informasi dan hiburan.
Teks : Muhammad Akhtar, Nadiyah Fairuz Zahirah
Editor : Syifa Nadia
Foto: Blok Politik Pelajar
Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor