Online Dating di Kala Pandemi, Apa Kata Mereka?

Redaksi Suara Mahasiswa · 15 Februari 2021
5 menit

Online dating menjadi alternatif bagi orang yang ingin menjalin hubungan di era pandemi Covid-19, kondisi tersebut mengharuskan orang untuk melakukan social distancing dan melakukan segala aktivitas di rumah. Salah satu bagian penting agar online dating berjalan dengan lancar adalah tersedianya beragam dating apps yang dengan mudah dapat diunduh dan diakses.

Sumates pasti pernah dengar kan beberapa dating apps yang sering muncul entah itu di Instagram atau iklan YouTube. Yup, ada banyak sekali dating apps yang tersedia seperti Tinder, Bumble, OkCupid, Match, Hinge dan masih banyak lagi.

Selama setahun diterpa pandemi, pengguna dating apps meningkat. Dilansir dari Businessinsider.com, Match Group, perusahaan induk untuk 45 merek dating apps termasuk Tinder, Hinge, OkCupid dan Match, melaporkan bahwa pada kuartal ketiga bulan November 2021 terjadi pertumbuhan pendapatan dan peningkatan pelanggan. Seperti Tinder yang menjadi aplikasi dengan pendapatan kotor tertinggi dalam kategori Gaya Hidup di 100 negara, Tinder juga telah meningkatkan pendapatan langsung dari nol pada tahun 2014 menjadi hampir $1,4 miliar di tahun 2021.

Perkembangan dating apps secara global berawal dari rilisnya aplikasi Tinder pada tahun 2012 yang semula hanya tersedia di iPhone. Perubahan besar terjadi pada tahun berikutnya ketika Tinder dapat diunduh oleh ponsel Android. Aplikasi ini kemudian diunduh oleh lebih dari 70% smartphone di seluruh dunia.

Berdasarkan survei tentang dating apps yang dilakukan oleh Rakuten Insight pada September 2020, menemukan bahwa sekitar 30% responden Indonesia menggunakan dating apps dan sekitar 58% responden menyatakan bahwa mereka menggunakan Tinder.

Seiring berjalannya waktu, dating apps mengalami perkembangan dan peningkatan permintaan sehingga mulai bermunculan berbagai dating apps yang menawarkan fitur-fitur yang tak kalah menarik seperti layanan bertukar foto dan video. Fenomena penggunaan dating apps di masa pandemi tentunya menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Beberapa cerita dibagikan oleh beberapa Sumates yang bersedia diwawancarai oleh tim redaksi Suma UI untuk berbagi pengalaman mereka dalam menggunakan dating apps di masa pandemi.

Penggunaan Dating Apps di Masa Pandemi

Menggunakan dating apps menjadi alternatif dalam menghabiskan waktu di rumah. Elang, salah satu pengguna Tinder dan Bumble pertama kali mengunduh aplikasi ini pada akhir 2018 dan masih menggunakan hingga saat ini walaupun intensitasnya tidak terlalu sering. Menurutnya, dating apps menjadi hiburan yang menyenangkan karena dapat bertemu dengan berbagai tipe orang dan menjadi alternatif untuk mencari pasangan.

Hal yang berbeda disampaikan oleh Dinda, mahasiswi dari salah satu universitas swasta di Jakarta. Berawal dari iseng untuk mengisi waktu luang dan menambah notifikasi, saat ini ia mengakui bahwa bermain dating apps dapat menambah networking-nya, terlebih dirinya merupakan angkatan 2020 yang sejak awal perkuliahan menggunakan pembelajaran daring.

Dinda menambahkan bahwa saat menggunakan dating apps, ia menemui banyak orang yang justru bukan untuk mencari pasangan melainkan teman diskusi. “Banyak orang di dating apps yang bisa diajak deep conversation karena ga semua orang nyari buat relationship. Enaknya ada dating apps bisa tau hidup orang lain terutama masa pandemi saat ini,” tutur Dinda. Melalui pertemanan daring ini, dirinya mendapat perspektif baru mengenai kehidupan dan orang-orang disekitarnya.

Uniknya, sejak bergabung pada April 2020, Dinda mendapatkan kesempatan untuk mencoba layanan travel untuk berkeliling dunia secara daring sehingga dapat bertemu orang-orang lintas negara melalui Tinder. Dengan fitur menarik yang dapat digunakan, Dinda menyayangkan beberapa orang yang berpikiran bahwa pengguna dating apps merupakan orang yang putus asa dengan kehidupan romantisnya padahal dating apps bisa menjadi salah satu hiburan yang menarik.

Dating apps ternyata juga digunakan untuk kepentingan kerjasama bisnis seperti yang dilakukan oleh Caca dari Universitas Brawijaya. “Nyari temen baru aja. kadang tuh kalo hoki, bisa jadi partner beneficial. misalnya jadi bisnis bareng. Tau parfum HMNS ga? itu founder-nya ketemu di Tinder!” Jawab Caca ketika ditanya mengenai alasannya bermain dating apps.

Namun, masih terdapat teman-teman yang hingga saat ini tidak mengunduh dan belum pernah menggunakan dating apps lho, Sumates. Seperti Ruth Margaretha, mahasiswa jurusan Sastra Prancis ini mengakui dirinya tidak tertarik untuk mengikuti tren karena tidak memiliki minat berkenalan dengan orang yang ia rasa asing, “Identitasnya ga jelas dan ga meyakinkan, rawan penipuan juga. Maunya yang pasti-pasti aja,” Ujar Ruth.

Perbedaan Interaksi di Dating Apps

Situs dan dating apps memberi pengguna kumpulan besar calon prospektif, dan beberapa di antaranya menggunakan algoritma untuk memberi saran pasangan yang lebih cocok dengan pengguna. Aplikasi daring sangat memudahkan untuk berinteraksi secara tidak langsung melalui chat, telpon atau video call. Sehingga, terdapat perbedaan interaksi di dalamnya terutama terkait dengan hubungan yang dibangun di dalamnya.

Menurut Lathifah Hanum, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, secara psikologis, hubungan yang dibangun secara langsung dan yang melalui dating apps dimana kedua belah pihak belum pernah bertemu sama sekali pastinya akan berbeda. Pertemuan langsung membuat kita dapat melihat langsung seperti apa pasangan atau calon pasangan kita. Hanum menambahkan observasi terhadap tingkah laku bisa dilakukan jika bertemu secara luring, sehingga akhirnya kita bisa memastikan apakah orang tersebut memang layak menjadi pasangan kita atau tidak.

“Mereka yang bertemu di dating apps dan tidak pernah melakukan pertemuan langsung di dunia nyata, tentunya hanya bisa melakukan observasi ini dari teks ataupun suara yang terbatas pada alat komunikasi yang tersedia,” Ujar Hanum. Keadaan seperti inilah yang akan membuat pengguna dating apps cenderung membentuk satu bayangan tersendiri mengenai calon pasangannya. Hanum juga menambahkan bahwa hal ini juga beresiko menimbulkan kekecewaan apabila tidak sesuai ekspektasi.

Namun disisi lain, dating apps menurut beberapa orang membuatnya lebih terbuka yang mana memudahkan untuk berinteraksi dengan banyak orang tanpa takut dinilai. Selain itu, dating apps juga dirasa memudahkan penggunanya untuk memutuskan hubungan apabila sudah tidak tertarik. Seperti yang dialami Elang, “Seru sih, kan you never know orang yang lo temuin. Kadang orangnya seru banget, kadang ya gak jelas. Kadang ya di-ghosting. Pernah ketemuan, tukeran medsos, terus dia kaya ilang gitu dari peradaban. Mungkin udah ga main medsos atau mungkin bosen aja ama gue kali,” ceritanya.

Suka Duka Menggunakan Dating Apps di Masa Pandemi

Menggunakan dating apps tentu tak luput dari resiko, contohnya tidak menutup kemungkinan akan menyulitkan jika love language tidak sejalan dengan keadaan social distancing saat ini. “Kalo love language lo itu quality time atau physical touch mending jangan, susah juga ketemuannya. Daripada ketemu orang random malah kena Covid-19 mending menikmati ngejomblo gak sih,” Ujar Elang.

Duka menggunakan dating apps juga dialami Dinda. Ia di-stalking oleh stranger dari aplikasi dating apps, hal tersebut membuatnya harus menonaktifkan akun Instagramnya untuk beberapa minggu. Hal inilah yang harus diantisipasi oleh pengguna karena dalam perkembangannya terdapat orang-orang yang menggunakan apps secara tidak bertanggung jawab. “Penyalahgunaan penggunaan apps ini yang perlu kita waspadai, karena pada akhirnya kesepian kita tidak teratasi tapi malah menambah permasalahan baru,” Jawab Hanum.

Dalam pemberian afeksi pun demikian. Hanum menambahkan, pada dating apps, pengguna seringkali membayangkan bahwa pasangan kita menyatakan sayang dan perhatiannya dengan cara yang kita inginkan. Berbeda dengan pasangan yang bisa langsung kita temui, kita bisa melihat langsung seperti apa sikapnya, tingkah lakunya, dan rasa sayangnya.

Tips and Trick Menggunakan Dating Apps dengan Aman

Agar dapat menggunakan dating apps dengan aman, tentunya dibutuhkan rasa tanggung jawab ya, Sumates. Beberapa tips and trick disarankan agar dapat beradaptasi di dating apps. “di-ghosting itu bagian dari risiko, kayak 80% of the time lo bakal somehow ends up mager banget buat bales chat atau sebaliknya dia bakal bosen chattingan sama lo. Jadi gak perlu taro ekspektasi tinggi juga,” Tegas Elang.

Caca juga menyarankan agar pengguna dating apps dapat berhati-hati dan jangan mudah percaya dengan orang yang baru dikenal di dating apps. Selain itu, Caca juga menyampaikan bahwa dating apps menjadi sarana hiburan yang seru tapi tetap harus mengatur waktu agar tidak mengabaikan teman dan keluarga yang juga butuh perhatian dari kita.

Jadi, apakah Sumates tertarik menggunakan dating apps di masa pandemi?

Penulis: Faizah Diena Hanifa
Foto: Istimewa
Editor: Giovanni Alvita

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Referensi

Business Insider. (2021). How Tinder and Hinge owner Match Group grew to dominate the country's online dating market — but let Bumble get away. Retrieved from https://www.businessinsider.com/what-is-match-group-history-of-tinder-parent-company-2021-1?r=US&IR=T#now-as-the-pandemic-continues-to-keep-much-of-the-world-locked-down-singles-are-flocking-to-dating-apps-helping-fuel-the-growth-of-both-bumble-and-match-groups-suite-of-apps-17

The Conversation. (2020). The downsides of dating apps, and how to overcome them. Retrieved from https://theconversation.com/the-downsides-of-dating-apps-and-how-to-overcome-them-131997

The Atlantic. (2018). The Five Years That Changed Dating. Retrieved from https://www.theatlantic.com/family/archive/2018/12/tinder-changed-dating/578698/