
Lembaga Pers Suara Mahasiswa (Suma) Universitas Indonesia menggelar Pameran Foto Nostagraph dengan tajuk “Bernostalgia Lewat Lensa” selama tiga hari, dari tanggal 4—6 November 2022, di Galeri Foto & Jurnalistik Antara (GFJA), Jakarta Pusat. Melalui pameran fotografi beserta rangkaian pelatihan dan talkshow di dalamnya, Suma UI mengajak mahasiswa, pemerhati pers, dan penikmati fotografi untuk berkunjung kembali ke nuansa merah demonstran Indonesia pada detik-detik penurunan Soeharto.
Rekam jejak peristiwa di era tersebut tidak hanya disajikan melalui foto-foto memorial, setumpuk artikel lawas tentang momen-momen tersebut, yang dimuat dalam buletin dan majalah Suara Mahasiswa UI ikut dipajang. Berbagai sudut pandang dan pembahasan dimuat menjadi rangkaian cerita dan saksi hidup semangat reformasi yang begitu menggelora.
“... Bagaimana mungkin aparat keamanan bisa menjadi begitu sadis? Bagaimana mungkin mereka menembak langsung ke kepala mahasiswa? Bukankah itu melanggar semua apa yang didoktrinkan kepada mereka sebagai pelindung rakyat…”, dikutip dari salah satu artikel Gerbatama Suma UI tentang tragedi mahasiswa Trisakti yang ditembak oleh aparat keamaan negara saat demonstrasi.
Dalam pengadaan karyanya, pameran ini melibatkan puluhan foto dan reportase cetak dari kalangan mahasiswa anggota Suma UI maupun alumni Suma UI. Hasilnya, ada lebih dari 50 fotografi dengan ragam suasana yang terpajang di ruangan galeri. Puluhan karya ini dikuratori oleh Malahayati, Alumni Suma UI & Kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara.
Almas Satria Bimantara, Project Officer Pameran Foto Suma UI, dalam sambutannya di Galeri Foto & Jurnalistik Antara, mengatakan bahwa latar belakang diusungnya tajuk pameran ini berangkat dari keinginan untuk menggambarkan pengaruh pers dalam menggerakan masyarakat. Pers bukan lembaga pasif yang hanya memberitakan peristiwa, namun terlibat aktif dalam memberdayakan masyarakat agar berani menyuarakan hak-haknya.
"Mahasiswa dari masa ke masa telah banyak melakukan perubahan dalam aktivitas mereka sendiri maupun pengaruh terhadap bangsa. Karya-karya dalam pameran ini menggambarkan runtuhnya orde baru tercermin dan dimulainya kebebasan mahasiswa..." tutur Almas.
"Periode-periode tersebut merupakan penanda penting dari corak kehidupan mahasiswa yang dipenuhi dengan dinamisitas. Kendati demikian, belum banyak sorotan yang mengarah pada kehidupan mahasiswa dari masa ke masa. Padahal, dokumentasi tentang hal tersebut dapat menjadi pembelajaran sejarah yang berarti," lanjut Almas memaparkan keresahan yang melatarbelakangi diselenggarakannya pameran.
Pameran ini dibuka dengan Sesi Sharing bersama Alumni tentang “Mahasiswa dari Masa ke Masa” dengan Wien Muldian, salah satu alumni Suma UI angkatan ke-3 yang saat itu ikut turun meliput bersama awak redaksi Suma UI. Tidak hanya memamerkan foto dan artikel memoris, pameran ini juga menyelenggarakan sesi Pelatihan Video Editing dan acara Talkshow di hari Sabtu (5/11).
Sejalan dengan makna tajuk pameran, Talkshow ini mengangkat topik “Peran Pers dalam Civic Empowerment” dengan dua pembicara, yakni Astari Yanuarti selaku Co-Founder dari Relawan Edukasi Antihoaks Indonesia dan Satgas Gerakan Literasi Kemendikbud dan Ika Ningtyas selaku Sekretaris Jenderal AJI.

Bincang interaktif ini membahas berbagai signifikansi pers dari masa ke masa, tantangan pers di era digital yang dapat menggerus kualitas produk pers karena dituntut beradu dengan kecepatan informasi.
“Pers yang kritis dan independen adalah darah demokrasi. Pers dapat membentuk masyarakat yang merawat demokrasi. Hal ini belum dapat terpenuhi di era Orde Baru karena saat itu pers dibawah tekanan kekuasaan, sehingga tidak dapat memberitakan isu-isu yang ada secara bebas,” ujar Ika Ningtyas.
Tidak hanya membahas perusahaan pers, diskusi ini juga menyinggung tentang konten-konten pers yang melanggar etik jurnalistik serta perlindungan hukum terhadap pers mahasiswa yang belum dapat diwujudkan Dewan Pers hingga saat ini.
“Kita dari AJI juga mendorong Dewan Pers untuk lebih menyeleksi pers yang terdaftar dari segi kualitas konten, bukan hal-hal yang bersifat administratif seperti kantor, dan lain-lain,” terang Ika.
Salah seorang pengunjung menuturkan bahwa sesi Talkshow ini membuka banyak sudut pandang baru terhadap peran pers terhadap masyakarat.
“Talkshownya mengandung banyak ilmu, membuat gue banyak belajar hal baru dan membuka sudut pandang baru tentang dunia pers,” ujar Nabana Nargia, Mahasiswa Program Bisnis Kreatif Vokasi UI.
Di samping keindahan gambarnya, terdapat pula kritik dari pengunjung yang perlu dipertimbangkan penyelenggara pameran. Menurut Valensia, Universitas Indraprasta PGRI, kendati karya-karya fotografi yang dipamerkan bagus dan menarik, namun kurasinya belum lengkap.
“Pameran dan diskusi ini menarik ya, kita diajak bernostalgia, luar biasa, ya. Sayangnya, belum ada tahun dan tidak semua foto mempunyai deskripsi jadi kita yang awam masih cukup bingung, ini tahun apa dan momen apa ini,” tutur Valensia.
Teks: Dian Amalia, Intan Shabira
Editor: Syifa Nadia
Foto: Anggara Alvin S.
Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor