Logo Suma

Parade 16 HAKtP Ajak Semua Kalangan Lawan Patriarki di Era Digital

Redaksi Suara Mahasiswa · 28 November 2023
4 menit

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM FH) Universitas Indonesia (UI) 2023 mewarnai kawasan Car Free Day (CFD) dengan parade dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKtP) (26/11). Membawa tema “Footprints of Hope: Step Up, Speak Out!”, Parade 16 HAKtP BEM FH UI 2023 mengajak masyarakat sekitar untuk ikut menyuarakan penghapusan budaya patriarki dan melawan kekerasan terhadap perempuan.

Parade dimulai dari titik kumpul yaitu Patung Jenderal Sudirman, memutari Bundaran HI, dan kembali lagi ke area Patung Jenderal Sudirman. Sebelum parade dimulai, terdapat orator yang memberikan orasi ihwal isu patriarki dan kekerasan terhadap perempuan dan juga penjelasan mengenai 16 HAKtP. Panitia juga mengajak seluruh masyarakat yang sedang menikmati CFD untuk menandatangani spanduk yang dibentangkan di jalan sebagai bentuk dukungan terhadap isu yang dibawa dalam 16 HAKtP.

Parade disambut dengan antusias oleh beragam kalangan pengunjung CFD, mulai dari orang tua hingga anak-anak yang turut ikut menandatangani spanduk dan bahkan juga ikut berjalan bersama massa aksi dalam parade.

Kekerasan Terhadap Perempuan di Era Digital

Vice Project Officer (VPO) dari acara 16HAKtP, Devani, menyebutkan tema dari acara 16HAKtP tahun ini adalah “Melepas Belenggu Patriarki dalam Media Digital”. Menurutnya digitalisasi yang semakin erat dengan kehidupan masyarakat memberikan celah kekerasan terhadap perempuan dengan rupa yang semakin beragam seperti hate comment, revenge porn, maupun bentuk kekerasan lainnya dalam platform digital atau media sosial seperti X, Instagram, dan lain sebagainya.

Devani sendiri merasa bahwa permasalahan yang dialami perempuan Indonesia dirasa masih awam diketahui oleh masyarakat luas. “Walau kita sudah melihat beberapa affirmative action yang ada di publik, misalnya di KRL (tempat duduk prioritas kepada ibu hamil dan ibu membawa anak) dan di tempat kerja tapi nggak menutup kemungkinan dari masih banyaknya perempuan yang susah ngapa-ngapain dan memikul beban yang berat sebelah dibanding laki-laki,” sambungnya.

Melalui gerakan ini Devani berharap dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu budaya patriarki maupun kekerasan terhadap perempuan. “Saya ingin meningkatkan ruang aman dalam bermedia sosial dan ingin menimbulkan awareness untuk masyarakat bahwa isu perempuan ini juga penting untuk diperjuangkan seperti isu-isu lainnya,” jelasnya. Ia juga menuturkan bahwa parade ini merupakan parade pertama 16 HAKtP yang dilaksanakan oleh BEM FH UI 2023 di area CFD.  

Perempuan dan Stigmatisasi Gender

Sejalan dengan tujuan parade ini yang ingin mensosialisasikan isu kekerasan terhadap perempuan, acara ini menarik minat bagi para perempuan untuk ikut bersuara, tak terkecuali bagi Tias, Alina, dan Farah, mahasiswa FH UI, yang turut memeriahkan jalannya parade pagi ini.

Tias tertarik untuk ikut parade ini karena niatnya yang ingin menyuarakan keresahan dan kekhawatiran yang dialami kaum perempuan khususnya mengenai stigma gender. Menurutnya dengan ikut hadir dalam parade tersebut menunjukan bahwa perjuangan melawan patriarki dan kekerasan terhadap perempuan bukan perjuangan individu, melainkan perjuangan bersama. Tias juga menjelaskan bahwa kebusukan budaya patriarki tidak hanya berdampak kepada perempuan, tetapi juga kepada laki-laki. Menurutnya masyarakat masih belum melek terhadap dampak budaya patriarki terhadap laki-laki.

Tak jauh berbeda dengan Tias, Alina berpulang pada pengalamannya di Kalimantan, daerah asalnya. Ia menuturkan bahwa di Kalimantan masih banyak orang-orang yang tidak paham tentang pentingnya kesetaraan gender. “Sehingga, pada akhirnya perempuan-perempuan terutama yang seumuran aku (di Kalimantan), mereka gak mendapat hak mereka untuk melanjutkan pendidikan, mereka gak di-support sama family-nya. At the end of the day, mereka kayak yaudah stay at home atau bahkan ada yang dipaksa menikah dan aku pun melihat pada akhirnya ketika mereka menikah, most of them, sekarang tuh diselingkuhi dan lain sebagainya,” ungkap Alina.

Senada dengan Tias dan Alina, akar keprihatinan Farah juga berasal dari isu patriarki khususnya yang dialami perempuan dalam era digital. Menurutnya masalah kekerasan terhadap perempuan pada era digital tidak hanya datang dari media sosial, namun banyak film dan lagu yang juga turut andil dalam mengkampanyekan budaya patriarki. Sehingga dengan ikut berpartisipasi dalam rangkaian 16HAKtP, ia berharap dapat membantu memberantas budaya patriarki yang masih menjamur saat ini.

Alina menambahkan bahwa untuk lepas dari jeratan budaya patriarki tidak berpatok dalam bingkai stigma perempuan bekerja di meja kantor. Menurutnya tidak ada kata salah apapun pilihan perempuan baik itu jauh dari bingkai stigma tersebut. “Tapi it’s about perempuan punya hak untuk melakukan apapun yang dia mau. Kalau mereka mau bekerja di rumah, kalau mereka mau melakukan hal-hal yang menurut stigma gender itu harusnya dilakukan sama perempuan aja, It’s okay, it doesn’t matter, karena everyone has they’re own right untuk melakukan apapun yang mereka mau dan itu adalah hak dasar mereka sebagai manusia yang harus didukung dan kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk memperjuangkan hal itu sih,” pungkas Alina.

Inklusivitas Melawan Patriarki

Tidak hanya perempuan, kalangan laki-laki pun turut meramaikan parade ini, salah satunya adalah Sathir, anggota BEM FH UI 2023. Kepeduliannya terhadap isu kekerasan terhadap perempuan maupun budaya patriarki menumbuhkan keinginannya agar budaya patriarki segera dihentikan begitu juga dengan kekerasan terhadap perempuan harus dihilangkan. “Masih kurang aware orang-orang dan menganggap kalau misalkan ini (isu perempuan dan patriarki) tabu ya,” ungkap Sathir.

Pendapat Sathir senada dengan Tias yang juga menganggap bahwa budaya patriarki merugikan laki-laki. “(Dampak) positifnya (kesadaran akan busuknya budaya patriarki) juga bukan cuma (untuk) perempuan, laki-laki juga ada. Patriarki ini kan berdampak pada laki-laki juga ya, (misalnya dengan) adanya toxic masculinity itu sendiri ya. Dampaknya pasti akan besar. Melihat perkembangan sekarang, perempuan jadi berani speak up, laki-laki juga jadi gak semena-mena terhadap perempuan,” tuturnya.

Melihat bahwa kesadaran akan hak-hak perempuan mulai timbul dan banyak dibicarakan pada abad ke-21 ini, Sathir merasa bahwa ada masa depan yang positif bagi perempuan Indonesia. “Yang ingin saya sampaikan, patriarki harus segera di-stop segera mungkin. Kekerasan terhadap perempuan itu juga harus dihilangkan. Budaya meninggikan laki-laki di atas perempuan itu juga harus dihilangkan, karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama,” pungkas Sathir.

Teks: Ghozi Akhsan F., Aulia Arsa A.

Foto: Aulia Arsa A.

Editor: M. Rifaldy Zelan

Pers Suara Mahasiswa UI 2023

Independen, Lugas, dan Berkualitas!