Logo Suma

Parade Hantu Gelar Jepang UI, Euforia dalam Warna Baru Lepas Pandemi

Redaksi Suara Mahasiswa · 12 September 2022
3 menit

Pagelaran Jepang yang diusung oleh Himpunan Mahasiswa Jepang (HIMAJA) Universitas Indonesia (UI) kembali dilaksanakan secara luring di AEON Mall, Tanjung Barat, dari hari Jumat (26/8) sampai dengan Minggu (28/8). Gelar Jepang (GJ) UI di umurnya yang ke-28 ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena pelaksanaannya di luar lingkungan UI. Acara ini mengusung tema Hyakki Yakou yang terinspirasi dari Parade Yokai atau para hantu dari Jepang dan terbuka untuk umum, tidak hanya untuk mahasiswa saja.

Setelah sempat vakum dan dilaksanakan lagi secara daring pada tahun 2021, GJUI yang ke-28 pada tahun ini dilaksanakan secara hybrid atau xxx. “Kita ngilangin Livestream diganti hybrid, ini bisa dilihat dari bentuk lomba yang dilaksanakan secara online, dilanjutkan dengan beberapa lomba yang ketika semifinal dilaksanakan On the Spot, jadi hybrid-nya bisa diartikan seperti itu.” terang Baihaqi Genta Fadhlonsyah, ketua pelaksana GJUI 28.

Mengenai tempat pelaksanaan sendiri, Genta dengan pengurus lainnya sempat mengalami permasalahan dalam hal tersebut. Acara yang terbilang selalu menarik jumlah massa yang banyak, menyebabkan GJUI yang ke-28 ini tidak bisa dilaksanakan di lingkungan Universitas Indonesia seperti tahun-tahun awalnya.

“UI sendiri kan lingkungan pendidikan ya, kan nanti nggak mungkin kalo misalnya tiba-tiba ada klaster baru. Ini sudah ada SOP-nya mengenai batas-batas pengunjungnya, protokol-protokol kesehatannya, jadi kita sudah ada panduannya disini (AEON Mall).” terang Fitri Herviani Putri, koordinator acara GJUI. Selain itu, menurut penuturan Genta, saat itu AEON Mall sedang membuka kesempatan untuk kolaborasi acara dengan mahasiswa, tentu saja mereka tidak menyia-nyiakan ini.

Hari pertama acara dibuka dengan cukup meriah dengan beberapa penampilan. Seperti penampilan alat musik tradisional Jepang Koto, bedah film, hingga seminar Seiyuu. Para pengunjung juga terlihat mulai memadati panggung dan booth tempat pernak-pernik khas Jepang diperjual belikan. Terlebih setelah pelaksanaannya secara daring pada tahun lalu, euforia yang dirasakan pun semakin bergairah. “Sumpah seru banget, sih. Banyak yang minta foto terus juga ketemu banyak cosplayer-cosplayer unik. Banyak yang cakep juga.” ungkap Loraine, salah satu cosplayer yang menghadiri GJUI ke-28.

“Setelah korona kemarin nggak ada event-event, mudah-mudahan semakin marak lagi, kalau dilihat dari segi bisnis, biar ramai dan seru-seruan lagi. Kayaknya juga udah pada kangen buat acara, baik event Jepang maupun event seru yang lain.” terang Ciputra, pemilik booth Yotaku Shop. Selain para penggemar anime atau budaya Jepang, acara ini juga terbuka untuk umum. Hal itu bisa dilihat dari adanya Obake Yashiki atau wahana berhantu yang dibuka untuk umum. “Gua juga ngadain giveaway ticket juga buat pengunjung disini, sekitar beberapa puluh tiket. Jadi, pengunjung umum yang melihat bisa ikut.” imbuh Genta.

Sementara itu, beberapa kendala juga kerap dialami para panitia penyelenggara GJUI ini. Salah satunya adalah transisi acara dari daring ke luring. Setiap tahunnya, GJUI dipegang oleh angkatan mahasiswa sastra Jepang yang berbeda, untuk tahun ini angkatan 2019 menjadi penanggung jawab acaranya. Fitri Herviani Putri, koordinator acara menyatakan bahwa angkatannya harus menghadapi tantangan yang besar, yakni mengadakan acara GJUI secara luring, meskipun di tahun sebelumnya acara diadakan secara daring.

“Karena GJUI 26, kan, sempat ditiadakan, kemudian GJUI 27 diadakan secara online, lalu tiba-tiba saat angkatan aku yang ngurus GJUI 28 tahun ini, acaranya harus offline … ditambah kita setiap rapat itu harus rapat online tidak bisa selalu offline. Harus koordinasi dengan banyak kepala tapi diadakan secara online,” ungkap Via.

Selain itu, pencarian tempat untuk menyelenggarakan GJUI ke-28 juga menjadi kendala. Genta mengungkapkan bahwa pada awalnya, panitia ingin tetap mengadakan acara di lingkungan kampus UI. Namun, hal tersebut tidak bisa dilakukan karena masalah perizinan. Panitia GJUI ke-28 pun mencari jalan lain, seperti melakukan survei ke pihak Felfest UI, tetapi tidak membuahkan hasil karena kapasitas Felfest UI yang terbatas. Meskipun masalah pencarian tempat acara sudah selesai, kendala tidak sampai di situ. Jam operasional Mall yang sistematis dan tidak fleksibel membuat banyak booth yang belum siap untuk buka, jadi pengunjung harus menunggu sebelum akhirnya semua booth siap dikunjungi. Harapan Genta sebagai ketua pelaksana GJUI ke-28 adalah acara yang mengangkat tema dari negara matahari terbit itu dapat dinikmati oleh siapa saja, tidak hanya untuk orang-orang yang memang menyukai segala hal yang berbau Jepang, namun juga orang-orang yang ingin mengerti tentang budaya negara Jepang.

“Gua pengen yang baru juga bisa ngerti, bisa nyemplung ke acara ini, makanya bedanya di tahun lalu itu semua venue semua mata acara di satu tempat, sedangkan yang ini gua pisahin yang Obake dan seminar itu di bawah, di lantai 2. Jadi, orang umum bisa masuk ke Obake,” tutup Genta.

Teks: Intan Eliyun, Khadijah Putri
Editor: Dian Amalia Ariani
Foto: Afrida Ulfa, Farhan Nuzhadiva

Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!