
Kamis (25/11), pukul 18.20 WIB, dengan diselenggarakannya eksplorasi hari pertama terhadap Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2022, Bayu Satria Utomo, Ilmu Politik 2018 dan Arinny Shafira Khairunisa, Kedokteran Gigi 2018 dimulai pula ajang kontestasi demokrasi tingkat universitas yang sarat akan gengsi dan adu orasi.
Eksplorasi kali ini dikawal langsung oleh empat orang panelis yang namanya sudah tidak asing lagi di kancah pergerakan mahasiswa UI, yakni Leon Alvinda Putra selaku Ketua BEM UI 2021 (FEB, 2017), Ginanjar Ariyasuta Eka selaku Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI 2021 (FMIPA, 2017) , Isye Shintya Rahmawati selaku Koordinator Bidang Minat Bakat BEM UI 2020 (FIA, 2016), dan Muhammad Hida Lazuardi selaku Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM UI 2019 (FH, 2016).
Bayu-Arinny dalam pemaparan grand design-nya membagi isu yang akan mereka angkat ke dalam tiga tingkatan, yakni tingkat UI, tingkat nasional, dan tingkat internasional. Beberapa diantaranya adalah isu kekerasan seksual di dalam dan diluar kampus, Statuta UI, dan SDGs (Sustainable Development Goals). Menurut pasangan calon, pembagian tiga tingkat isu ini bertujuan agar ketiganya dapat dibedakan dengan jelas ruang lingkup programnya.
Dihadapan para panelis, Bayu-Arinny mencoba meyakinkan para calon pemilihnya dengan melemparkan argumentasi mengenai inovasi dan kolaborasi yang coba ditawarkan melalui program kerja mereka yang bertajuk UI SDGs Summit dan Gerakan Tanam Bakau BEM Vokasi UI x BEM UI.
Dalam sesi tanya jawab, para panelis sempat mempertanyakan Gerakan Tanam Bakau BEM Vokasi x BEM UI ini, sebab dinilai akan timbul resiko kecemburuan dari BEM fakultas lain. Selain itu, pemaparan Bayu tentang adanya dialog untuk membahas program Tanam Bakau dengan salah satu paslon ketua dan wakil ketua BEM Vokasi UI dinilai sangat riskan oleh panelis. Sebab, tahun ini terdapat dua Cakabem untuk Vokasi, namun Bayu-Arinny hanya membahas program dengan salah satu cakabem. Kekhawatiran muncul apabila pemenang pemira di Vokasi adalah paslon yang lainnya. Kekhawatiran ini dapat dijawab oleh Bayu-Arinny. Bayu-Arinny menjelaskan, akan berkomunikasi lebih lanjut dengan paslon BEM Vokasi yang terpilih.
Selain itu, salah satu isu yang beberapa kali diangkat dan dipertanyakan oleh para panelis pada eksplorasi hari pertama ini adalah isu mengenai lingkungan. Menjawab isu tersebut, Bayu dan Arinny mengatakan, kajian tentang lingkungan akan terfokus pada masalah UU EBT (Energi Baru dan Terbarukan), krisis iklim dari pencemaran udara, COP 26 yang belum optimal, dan environmental sustainability.
UU Cipta Kerja, Inovasi yang Akan Dibawa dan Pengakuan Tidak Berafiliasi dengan Parpol
Pertanyaan yang datang bertubi-tubi di paruh pertama sesi tanya jawab membuat atmosfer di dalam acara eksplorasi pada malam itu sedikit menegang. Ginanjar Ariyasuta Eka selaku panelis yang mendapatkan kesempatan pertama untuk memulai sesi tanya jawab dan bertanya mengenai pengawalan aturan turunan UU Cipta Kerja serta sudahkan Bayu-Arinnya membaca berita terbaru mengenai UU Cipta Kerja.
Bayu-Arinny menjawab “Judicial Review-nya sudah ditolak” Ginanjar dengan maksud ingin mengoreksi kemudian menambahkan “Coba baca-baca dahulu, kalau kalian menjawab seperti itu, tampaknya kalian belum membaca sama sekali.”
Pada awal sesi kedua Bayu-Arinny kembali mendapatkan pertanyaan dari Ginanjar Ariyasuta Eka perihal inovasi yang akan mereka bawa ke dalam proses pengawalan isu di BEM UI 2022.
Bayu-Arinny menjawab “Di Akprop (Aksi dan Propaganda) kita akan mengembangkan kembali digital activism yang tahun ini sudah cukup berhasil di isu king of lip service, evaluasi dua tahun dan rapor merah perlu ditingkatkan lagi di bidang-bidang lainnya seperti sosmas dan sosling”
Ketika mendapat tanggapan yang sedikit masam dari panelis, Bayu-Arinny kemudian menambahkan salah satu inovasinya, yakni terkait mahasiswa disabilitas.
“Ada satu lagi isu yang akan kita angkat di tahun ini, yaitu isu disabilitas. Bahwa isu disabilitas menjadi concern yang ingin kami lihat lagi mengenai persebaran, fasilitas dan pendampingan yang sudah ada dan merupakan salah satu nilai turunan dari nilai inklusif yang kami bawa” Ujar Bayu-Arinny.
Sesi kedua kembali memanas ketika Isye Shintya Rahmawati selaku panelis menanyakan apakah Bayu-Arinny maju atas kemauannya sendiri atau ada “bekingan” yang menginstruksikan untuk maju.
Bayu-Arinny kemudian menjawab “Kalau saya, secara pribadi atas kemauan sendiri melihat situasi dari isu di UI dan sistem di PEMIRA UI yang sudah sampai pada tahap ketiga pengambilan berkas, namun belum ada yang mendaftarkan dirinya sehingga saya merasa terpanggil dan membulatkan tekad untuk maju”
Masalah Indikator Keberhasilan yang Masih Abu-Abu
Pada sesi tambahan tanya jawab terakhir, panelis mempertanyakan indikator keberhasilan dalam mengawal isu serta sistem yang sudah disiapkan oleh calon ketua dan wakil ketua BEM UI 2022. Mengenai hal ini, Bayu berpendapat bahwa suatu isu bisa dikatakan berhasil ketika melihat output gerakan dari isu tersebut.
Pendapat Bayu dibantah oleh Leon, salah satu panelis yang bertanya mengenai hal ini. Leon memaparkan, jika indikator keberhasilan suatu isu dinilai dari output, maka akan sangat jarang sekali isu yang berhasil dibawa oleh BEM UI.
“Jangan mengkerdilkan perjuangan yang sudah belasan tahun hanya karena (indikator keberhasilannya) output,” Leon menambahkan. Mengenai hal ini, Leon lebih setuju jika indikator keberhasilan dinilai dari proses dan progres.
Panelis lain, Isye Shintya Rahmawati, menyayangkan ketidakpastian paslon dalam menjelaskan bagaimana sistem dan mekanisme yang akan dijalankan di BEM UI 2022. Isye berpendapat, seharusnya semua hal yang disayangkan tersebut sudah ada dari awal, mulai dari sistem, indikator keberhasilan, bahkan hingga sistem keuangan. Jangan sampai nantinya sistem dan parameter keberhasilan diubah di pertengahan.
“Ini (sistem dan parameter keberhasilan) sudah harus ada di awal. Karena tujuan dan indikator keberhasilan yang ada itu sudah tetap, tidak boleh diubah sampai selesai,” Kata Isye menegaskan mengenai pentingnya sistem dan indikator keberhasilan yang dirancang di awal.
(*)
Teks : Muhammad Akhtar Jabbaran, Salma Rihhadatul Aisy
Foto : Muhammad Akhtar Jabbaran
Editor : Giovanni Alvita
Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, Berkualitas
Kontributor