Pemira FMIPA UI: Kritik Tajam Kepada Sang Calon Tunggal

Redaksi Suara Mahasiswa · 15 Desember 2021
5 menit

Satu per satu fakultas di Universitas Indonesia (UI) telah menemukan siapa yang berhasil menerima tongkat estafet kepemimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)-nya. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) pun menjadi salah satunya. Pada Sabtu (11/12), Pemilihan Raya Ikatan Keluarga Mahasiswa FMIPA UI (Pemira FMIPA UI) mengumumkan Abdurrahman Ihsan dan Adrianus Pramudya H (Ican-Pram) terpilih menjadi Ketua dan Wakil Ketua BEM FMIPA UI 2022. Hasil pemungutan suara menunjukkan bahwa Ican-Pram sebagai calon tunggal berhasil mengalahkan kotak kosong dengan raihan 1168 suara (76,0%), sedangkan IKM FMIPA UI yang memilih kotak kosong ada sebanyak 368 suara (24,0%).

Grand Design yang Kurang Matang
Menjadi satu-satunya calon ketua dan wakil ketua BEM FMIPA UI untuk periode selanjutnya, membuat Ican-Pram tentu disandingkan dengan kesempurnaan. Ican-Pram pun mengetahui hal tersebut, sehingga berusaha semaksimal mungkin dalam memaparkan grand design-nya. Namun, tampaknya usaha yang dilakukan mereka saat itu masih belum maksimal. Pada saat eksplorasi berlangsung, grand design yang mereka paparkan justru menjadi hal yang dikritisi oleh beberapa IKM FMIPA UI. Hal ini terjadi karena kurangnya quality control yang dilakukan oleh paslon Ican-Pram, sehingga grand design yang dibuat dianggap memiliki berbagai masalah, baik dari segi formil maupun materiil.

Kritikan tajam salah satunya datang dari Ginting (bukan nama sebenarnya). Ginting menyebutkan bahwa ia cukup kecewa dengan pemaparan saat eksplorasi, lantaran paslon Ican-Pram setiap mendapatkan pertanyaan mengenai hasil grand design-nya, sering menjawab dengan kata mungkin atau hanya memberitahukan hasil tukar wawasan mereka dengan orang lain. Selain itu, paslon Ican-Pram kerap kali tidak hafal dengan visi dan misi yang dibawakan. Tidak ada jawaban yang pasti membuat peserta berakhir meragukan niat, kesiapan, serta pengetahuan paslon Ican-Pram ketika mencalonkan diri menjadi ketua dan wakil ketua BEM FMIPA UI 2022.

Hal lain yang menjadi sorotan adalah hasil dari grand design yang terbilang cukup buruk. “Mungkin bisa dibilang dari semua GD di tingkat FMIPA dari tingkat himpunan sampai tingkat BEM FMIPA, ini GD paling buruk, sih,” jelas Ginting. Hal ini lantaran dari segi penulisan hingga isi substansi ditemukan adanya berbagai kesalahan. Pemakaian PUEBI yang masih berantakan serta adanya penulisan substansi yang diulang-ulang memperlihatkan bahwa paslon Ican-Pram kurang memiliki quality control terhadap hasil grand design-nya. Salah satunya tercermin pada kalimat pengantar dalam grand design, yang mana dalam paragraf satu dan paragraf dua berisikan kalimat yang sama persis. Hal ini terlihat pula pada pemaparan Budaya Organisasi, di mana pada poin Physiological Needs dan Safety Needs juga memiliki substansi yang sama persis seperti hanya disalin dan ditempel saja. Adanya berbagai kesalahan yang cukup fatal karena kekeliruan pada isi substansi, membuat Ginting semakin tajam bertanya mengenai kesiapan serta niat dari paslon Ican-Pram. “Gua di sini menggarisbawahi, ini orang niat gak sih buat maju. Kalo dia gak niat calon tunggal nih, yaudahlah ya gak usah dipaksain juga,” jelasnya lagi.

Ginting diketahui bukan satu-satunya peserta eksplorasi yang memberikan kritikan tajam. Hal ini terlihat dengan munculnya sebuah akun di Instagram yang juga ditunjukkan untuk paslon Ican-Pram. Akun @dummyfo2mipa diketahui mengunggah tiga foto yang ditunjukkan secara jelas untuk paslon Ican-Pram akan kesalahan fatal mereka dalam pembentukan grand design. Isi unggahan tersebut berupa kritikan pada rendahnya quality control yang dimiliki oleh paslon Ican-Pram. Melalui unggahan ini, diketahui bahwa pemilik akun meragukan kualitas yang dimiliki paslon Ican-Pram untuk mengemban kepengurusan BEM FMIPA UI 2022 karena grand design-nya saja sudah terlihat tidak memiliki kesiapan yang matang. Akun yang diikuti oleh 8 pengguna Instagram ini mengajak IKM FMIPA UI untuk memilih kotak kosong pada Pemira FMIPA UI 2021 daripada memilih pemimpin yang masih kurang persiapan. Meski begitu, paslon Ican-Pram tidak masalah dengan adanya akun ini, mereka terbuka terhadap kritikan dan langsung merevisi grand design miliknya. Pada akhirnya, paslon Ican-Pram berhasil mengalahkan kotak kosong dengan perolehan suara yang cukup jauh.

Isu Strategis, Isu Warisan
Tidak berhenti sampai di situ, isu strategis yang dibawakan oleh Ican-Pram dalam grand design-nya turut patut diperhatikan. Pasalnya, Ican-Pram hanya membawa dua isu strategis, yakni Pencemaran Udara dan Energi Baru Terbarukan (EBT). Ican-Pram mengaku bahwa mereka tetap membawa kedua isu tersebut karena tuntutannya belum tercapai. “Kita simpulkan kedua isu strategis ini masih harus dibawa dan dikawal ke depannya karena FMIPA selalu punya identitas mengawal isu lingkungan,” jelas Ican. Langkah yang akan ditempuh untuk kedua isu adalah sebagaimana tahun-tahun sebelumnya pula, yakni melalui kajian, audiensi, dan aksi.

Mengomentari hal tersebut, salah satu IKM FMIPA UI, Dwi Tamara, was-was kajian yang baru tersebut akan menutupi kajian-kajian yang telah dibuat sebelumnya; yang juga masih relevan. “Kalau mereka mau buat kajian bagus banget cuma khawatirnya dua kajian ini akan jadi ketutup. Lebih baik memperjuangkan aja kajian yang udah dibuat,” jelas Dwi. Setali tiga uang, Ginting juga berpendapat bahwa kajian dari tahun 2021 sudah sangat cukup dan adanya kajian baru akan menjadi kurang signifikan. Ginting bertanya-tanya, “Kan gua iseng-iseng baca kajiannya yang 2021 sekarang, gua kayaknya udah cukup untuk ditulis kajiannya, kayak gua liat dari judulnya juga kek sama-sama aja, paling isinya aja (yang berbeda -red). Nanti dia nangkep apa dong istilahnya dari situ,” ia menambahkan, “Nah, kalau misalnya isu deforestasi kan belum pernah disentuh tapi belum pernah diangkat juga, gitu sih.”

Terkait kembali diangkatnya isu strategis yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya oleh Ican-Pram, Dwi menjelaskan bahwa memang sudah seharusnya isu yang telah diperjuangkan sejak lama dan tuntutannya tidak kunjung diwujudkan untuk tetap dikawal. “Sebenarnya emang ada banyak isu yang bisa dibawa oleh BEM FMIPA UI, tapi mungkin karena ini sudah jadi isu strategis yang jangka panjang, udah dua tahun dibawa, jadi sayang aja kalau misalkan tidak dilanjutkan,” papar Dwi. Dalam wawancara dengan Suma UI, Ican-Pram mewacanakan mengangkat beberapa isu lain yang, sayangnya, tidak mereka masukkan ke dalam grand design, antara lain ibu kota baru, deforestasi, dan zona pesisir. Memang masih diwacanakan, namun hal ini menunjukkan bahwa pemimpin BEM FMIPA UI tahun 2022 masih memikirkan kemungkinan isu strategis lain, tidak hanya akan mengangkat isu “warisan” dari kepengurusan sebelumnya. Namun demikian, konkretisasinya oleh Ican-Pram perlu untuk terus diperhatikan ke depannya.

Isu Strategis BEM FMIPA: Apakah Harus Selalu Isu Lingkungan?
Dari paparan sebelumnya, dapat dipahami bahwa BEM FMIPA UI kerap kali membawakan isu lingkungan sebagai isu strategisnya dari tahun ke tahun. Bahkan, Ican di awal menyebut bahwa pengawalan isu lingkungan telah menjadi suatu identitas dari BEM FMIPA UI. Adapun isu sosial politik lain, seperti kekerasan seksual, pun dimasukkan sebagai isu eksternal dan dipegang oleh Departemen Kajian dan Aksi Strategis. Akan tetapi, bagaimana dengan isu lain, seperti isu internal dari FMIPA UI itu sendiri? Tidak perlu melihat terlalu jauh. Sudah enam tahun berlalu sejak Akseyna, mahasiswa FMIPA UI, ditemukan tidak bernyawa di Danau Kenanga UI. Hingga kini, kasus ini masih “terkubur” dan tidak kunjung terungkap.

Beberapa bulan lalu, akun bernama Peduli Akseyna memulai petisi berjudul, “Sudah 6 Tahun, Segera Ungkap Pembunuh Putra Kami Akseyna!” dan mengirimkannya ke beberapa pihak, salah duanya adalah Rektor UI, Ari Kuncoro, dan Dekan FMIPA UI. Dari deskripsi petisi tersebut, akun ini mengungkap bahwa keluarga dari Akseyna berjuang sendiri bagi keadilan untuk Akseyna. Pihak UI menolak ketika dimintai bantuan oleh pihak keluarga dan hanya melemparkan kasus ini pihak kepolisian. Pihak kepolisian pun tidak berbuat banyak. Dilihat dari media sosial BEM FMIPA UI, unggahan terakhir untuk mendukung penyelesaian Akseyna adalah pada tahun 2015, yakni pada tahun kasus Akseyna terjadi. Namun, kini tidak pernah terdengar lagi. Fakta ini tentu sangat disayangkan, sebab, kasus Akseyna tidak patut untuk dilupakan, terlebih dari sesama IKM FMIPA UI sendiri. Lantas, fungsionaris BEM FMIPA UI 2022, sudikah kalian keluar dari “zona nyaman” dan membantu keluarga Akseyna mencari keadilan?


Teks: Hawa Muharmaeka, Ninda Maghfira
Foto: Ninda Maghfira
Editor: Giovanni Alvita

Pers Suara Mahasiswa UI
Independen, Lugas, dan Berkualitas!