Logo Suma

Perempuan Bergerak Menagih Hak dalam Tiga Babak

Redaksi Suara Mahasiswa · 9 Maret 2026
2 menit

Ribuan perempuan dari berbagai organisasi masyarakat sipil, komunitas, serta jaringan mahasiswa hadiri perayaan International Women's Day (IWD). Perayaan ini diselenggarakan oleh Aliansi Perempuan Indonesia (API) pada Minggu (08/03) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Kegiatan bertajuk “Panggung Perempuan: Perempuan Bersatu Melawan Penghancuran Atas Tubuh” ini menjadi ruang konsolidasi gerakan perempuan untuk menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan negara yang dinilai belum berpihak pada perlindungan dan pemenuhan hak perempuan.

Sejak pukul 11.00 WIB, acara ini sudah diramaikan oleh kehadiran berbagai elemen masyarakat dan organisasi perempuan yang tergabung dalam API, aktivis pembela HAM, mantan tahanan politik, mahasiswa hingga masyarakat umum.

Melalui kegiatan ini, API menekankan pentingnya solidaritas gerakan perempuan di tengah meningkatnya berbagai persoalan yang berdampak langsung pada kehidupan, seperti kekerasan berbasis gender, kerentanan pekerja perempuan, hingga eksploitasi ruang hidup akibat proyek pembangunan.

Panggung Seni dan Suara Komunitas Perempuan

Rangkaian kegiatan dikemas dalam bentuk panggung ekspresi perempuan yang menghadirkan berbagai penampilan seni dan orasi dari komunitas perempuan. Acara ini menghadirkan sebuah aksi simbolik sebagai bentuk solidaritas gerakan perempuan terhadap korban kekerasan dan diskriminasi.

Spanduk yang memuat seruan terkait perjuangan hak-hak perempuan pun terlihat membentang di sepanjang selasar. Aksi ini tidak hanya ditujukan sebagai dukungan bagi para korban, tetapi juga menjadi simbol dalam memperingati hari perempuan.

Acara pun dibuka dengan penampilan tari Kembang-Kembang Kemayoran. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan stand-up comedy dari komika perempuan, penampilan musik, serta sesi orasi yang dikemas dalam tiga babak yang membahas berbagai tema persoalan yang dihadapi perempuan di Indonesia.

Menjelang penutupan, panitia menghadirkan sesi tausiah sebagai refleksi bersama. Mengingat kegiatan berlangsung pada bulan Ramadhan, tausiah tersebut menjadi ruang perenungan mengenai nilai-nilai keadilan, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia, termasuk perempuan.

Hak atas Tubuh, Stigma, dan Kekerasan Berlapis

Dalam diskusi tiga babak, berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan dan kelompok rentan terkait hak atas tubuh, kesehatan reproduksi, serta kekerasan berbasis gender turut disoroti.

Salah satu narasumber, Ika, menekankan bahwa pembahasan mengenai aborsi di Indonesia sering kali direduksi menjadi persoalan moral semata. “Aborsi seharusnya dipahami sebagai bagian dari layanan kesehatan reproduksi,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa layanan tersebut berada dalam spektrum yang sama dengan kontrasepsi, pemeriksaan kehamilan, hingga persalinan yang aman.

Lebih lanjut, Ika juga menyoroti pentingnya pengakuan terhadap otonomi tubuh. Menurutnya, setiap orang berhak menentukan apa yang terjadi pada tubuhnya, termasuk dalam mengambil keputusan terkait kehamilan. Ketika akses terhadap layanan kesehatan reproduksi dibatasi atau dikriminalisasi, perempuan sering kali terpaksa mencari jalan secara sembunyi-sembunyi yang justru meningkatkan risiko kesehatan.

Selain itu, diskusi tersebut turut menyinggung pengalaman kelompok rentan yang menghadapi kekerasan berlapis. Perempuan dengan disabilitas mental kerap mengalami praktik pemasungan, kekerasan fisik, hingga penempatan di institusi tanpa persetujuan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap hak-hak dasar perempuan masih jauh dari memadai.

Diskusi tersebut dilanjutkan dengan menyoroti diskriminasi yang dialami kelompok dengan identitas gender dan seksualitas yang beragam. Stigma sosial dan sejumlah kebijakan yang membatasi ruang hidup mereka dinilai berdampak pada terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan serta perlindungan hukum.

Dalam sesi tanggapan diskusi tanya jawab, peserta dari berbagai komunitas pun menyampaikan pengalaman mereka mengenai konflik tanah dan marginalisasi yang dialami perempuan di berbagai daerah. Mereka menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak terpisah dari perjuangan mempertahankan tanah, lingkungan, serta hak hidup yang layak bagi generasi mendatang.

Peringatan International Women’s Day tahun ini pun ditutup dengan seruan solidaritas bagi seluruh gerakan perempuan untuk terus memperjuangkan keadilan, kesetaraan, serta pengakuan terhadap hak atas tubuh, ruang hidup, dan martabat perempuan.

Teks: Tufani Aprilia, Zalfa Izzah Kamila

Editor: Alya Putri Granita

Foto: Tufani Aprilia

Desain: Tri Rahma

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!