Logo Suma

Perempuan yang Mendobrak Tembok Maskulinitas

Redaksi Suara Mahasiswa · 29 November 2025
10 menit

Filsuf politik bernama Thomas Carlyle menuturkan bahwa takdir sejati seorang perempuan adalah memimpin tanpa suara di bawah perlindungan pria. Keyakinan yang menggambarkan sosok ini sebagai sosok yang harus tunduk pada siluet laki-laki. Namun dibalik keheningan itu, muncul nyanyian yang menolak untuk bungkam. Di abad ke-19, aktivis hak pilih seperti Anne Knight dan Leigh Smith menuntut hak pilih: menulis, berpetisi, dan berdiri di parlemen untuk didengar.

Kini gema perjuangan itu kembali terulang. Meski dikemas dalam tampilan yang lebih sopan, ruang politik masih terasa menyiksa bagi kaum hawa. Bedanya, kali ini bukan lagi di parlemen Inggris, melainkan kampus—sebuah ruang yang konon menjadi rumah demokrasi, tetapi masih merupakan napas kultur maskulin.

Sejak Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (SM UI) berdiri pada tahun 1992 hingga berubah nama menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), tak satu pun tokoh perempuan berhasil menduduki kursi ketua. Dari Chandra M. Hamzah hingga kepengurusan BEM 2025—yang terinspirasi dualisme kepemimpinan antara Zayyid Sulthan Rahman (versi IKM UI) dan Agus Setiawan (versi rektorat)—selalu menjadi milik kaum hegemonik. Baru pada periode 2024, nama Defani Shafa Maharani tercatat sebagai Ketua BEM UI. Namun ia menempati posisi itu bukan karena dipilih melalui Pemilihan Raya (Pemira), melainkan karena menggantikan dua ketua sebelumnya.

NAMA

WAKTU MENJABAT

Chandra M. Hamzah 

1992-1993

Zulkifimansyah

1994-1995

Kammaruddin 

1995-1996

Selamat Nurdin 

1996-1997

Rama Pratama

1997-1998

Bachtiar Firdaus 

1998-1999

Taufik Riyadi 

2000-2001

Wisnu Sunandar 

2001-2002

Rico Marbun 

2002-2003

Achmad Nur Hidayat 

2003-2004

Gari Primananda 

2004-2005

Azman Muammar 

2005-2006

Ahmad Fathul Bahri 

2006-2007

Muhammad Tri Andika 

2007

Edwin Nofsan Naufan 

2008

Trie Setietmoko

2009

Imaduddin Abdillah 

2010

Maman Abdurrakhman 

2011

Faldo Maldini 

2012

Ali Abdillah 

2013

Ivan Riansa 

2014

Andi Aulia Rahman

2015

Arya Adiansyah

2016

Muhammad Syaeful Mujab

2017

Zaadit Taqwa

2018

Manik Marganamahendra

2019

Fajar Adiugroho

2020

Leon Alvinda Putra

2021

Bayu Satria Utomo 

2022

Melki Sedek Huang 

2023

Verrel Uziel digantikan oleh Iqbal Cheisa Wiguna lalu digantikan oleh Defani Shafa Maharani 

2024

Zayyid Sulthan Rahman (versi IKM UI)

 dan Agus Setiawan (versi rektorat)

2025

Daftar Ketua Senat Mahasiswa (1992-1998) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (1998-2025).

Saat pengumuman resmi melalui akun Instagram @bemui_official, Defani disambut dengan komentar bernada seksis, “Mukanya kok kurang sangar?”. Empat kata yang cukup mencerminkan betapa bias gender bekerja. Bahwa jabatan masih diukur dari gestur keras, nada suara tinggi, dan raut garang yang secara konstruksi sosial dilekatkan pada lelaki.

Kendati suasana dalam internal terbilang cukup cair, cobaan justru datang dari luar dinding kampus. "Aku juga pernah mendapatkan kata-kata yang berisi dari salah satu pendahuluan, tapi tidak apa-apa. Aku tidak menganggap itu sebagai hal-hal yang membuat aku nge- down, tapi hal-hal tersebut justru mendorong aku untuk semakin cepat bahwa oh gue bisa seperti itu," ungkap Defani saat diwawancarai melalui Zoom Meeting pada (3/11).

Saat serah terima jabatan, Defani berjanji pada dirinya sendiri untuk menunaikan tiga hal. Ia ingin mengembalikan arah sosial politik lalu pembersihan keuangan, serta menghidupkan kembali internalisasi BEM UI. Namun dalam prosesnya, ia harus bekerja keras di tengah arah BEM UI yang sudah tidak stabil lagi. Ia harus mencari kembali orang-orang yang memang kompeten di bidang aksi dan propaganda, serta menyelesaikan kerja sama dengan para Ketua BEM Fakultas lainnya.

Tidak hanya itu, Defani juga harus menyelesaikan beberapa program kerja yang memiliki banyak kendala terkait keuangan. Situasi ini membuat suasananya, apalagi ketika ia tak datang melihat adanya jalan akhir bagi kepengurusan 2024. Namun, Defani tak menampik ada rasa takut yang sempat mengaku sebelum ia dikukuhkan. "Jujur, ada sedikit [rasa] takut karena memang kan aku gak bisa berkaca ke siapa-siapa nih. Apalagi, terutama seorang perempuan untuk menjadi seorang pemimpin, mungkin sebuah organisasi mahasiswa yang bisa dibilang terbesar di Indonesia seperti itu. Terus karena hanya ada Kak Shifa [Wakabem UI 2023], aku juga sering melakukan konsultasi ke Kak Shifa lalu juga beberapa PI [Pengurus Inti] lainnya," kenangnya.  

Kendati demikian, rasa bangga perlahan mengalahkan kecemasan itu. Defani memiliki rasa berani karena mampu mendobrak posisi tertinggi di organisasi itu. "Aku merasa cukup bangga untuk bisa mendobrak stigma-stigma itu, dan kalau masuk politik itu kan banyak banget sikut-sigmanya. Jadi, aku merasa jadi orang yang berani saat itu."

Meski hanya bertahan sekitar tiga minggu sebelum demisioner resmi BEM UI 2024, Defani tetap berhasil memimpin dua aksi besar. Periode kepengurusan yang singkat tersebut tidak menghalanginya untuk memiliki visi besar. Ia ingin membuktikan bahwa mereka juga mampu menjadi pelopor, bukan sekadar meraih gelar, tapi juga mendapat rasa hormat dari anggota. Pengalaman itu tetap terasa hingga saat ini; meskipun ia tidak lagi memegang jabatan resmi, hubungan baik dengan para anggota dan Badan Pengurus Harian (BPH) tetap terjaga, serta komunikasi di antara mereka masih berlangsung secara aktif.

Baginya, keberhasilan menuntaskan kepengurusan bukan berarti ruang politik kampus telah sepenuhnya aman bagi tokoh-tokoh muda ini. “Iklim politik di UI itu belum cukup ramah gender . Belum cukup inklusif untuk perempuan merasa aman di dalamnya, karena saya sendiri juga merasakan hal-hal yang tidak nyaman saat terjun langsung ke politik kampus,” ujarnya.

Di sisi lain, Shifa Anindya Hartono tahu benar bagaimana rasanya memimpin di tengah badai, tanpa pernah ingin disebut sebagai nakhoda. Publik sempat mengira menjadi Ketua BEM UI 2023, namun ia tak pernah mengakui hal tersebut. Baginya, jabatan itu tak pernah benar-benar diserahterimakan, ia lebih menganggap dirinya sebagai Pelaksana Tugas (PLT).

Sebelum badai itu datang, Shifa sudah lebih dulu menghadapi medan perang saat masa kampanye. Ia harus menghadapi stereotip ganda hingga selama ia bertahan. “Pas jadi Wakabem pun, waktu itu kondisinya aku benar-benar pas isu apa kalau nggak salah, itu benar-benar yang dikatain lonte, pelacur [lewat media sosialnya]. Itu segitunya, kalau perempuan pasti kayak gitu. Kalau cowok paling dikomen 'ah, kabemmu maha-sewa,” ceritanya.

Ia juga menilai ketika isu mulai 'digoreng', ujaran kepada perempuan berkali-kali lipat lebih kasar daripada yang diterima oleh laki-laki. Sosok-sosok ini sering dialihkan dengan isu-isu pribadi, diblokir, atau menjadi sasaran kampanye hitam yang intens. Bahkan ketika muncul tuduhan atau fitnah, mereka yang berada di posisi itu cenderung dinilai salah atau dianggap “dibayar” untuk melakukan sesuatu.

Tantangan itu semakin berlipat ketika satu rekan yang sangat ia percaya, terjerat sebuah kasus. Shifa pun harus berada di titik persimpangan yang berat antara tanggung jawab institusional dan empati terhadap korban. Saat Surat Keputusan (SK) internal diumumkan, sorotan kembali ke Shifa. Namanya muncul di atas tanda tangan SK, memicu tudingan bahwa ia hendak melakukan kudeta. Padahal, tujuan Shifa sederhana: memberikan korban ruang aman dan memastikan pelaku tidak kembali bergerak di ruang publik.

Namun itu bukan satu-satunya ujian, Shifa juga harus menghadapi stereotip lain yang melekat pada posisinya sebagai wakil ketua. “Wakil ketua BEM nggak kelihatan, wakil ketua BEM nggak kerja. Atau karena aku dari BEM fakultas, aku bukan BEM UI, aku nggak ngerti BEM UI. Bisa nggak sih orang ini jadi wakil ketua BEM UI?” katanya. Shifa memilih menjawabnya bukan dengan bicara, tapi dengan hadir. "Tupoksi ku waktu itu untuk internal, dan aku ingin hadir untuk internal. Pada akhirnya aku bisa membuktikan kepada anak-anakku bahwa aku bisa memantaskan diri menjadi pemimpin mereka."

Datang dari latar belakang yang berbeda membuat Defani dan Shifa bertemu di satu titik yang sama. Bahwa sebenarnya posisi Ketua BEM UI bukan sekadar soal kapasitas, tetapi juga sebuah medan pertempuran yang tidak mudah bagi perempuan.

Perjalanan Defani yang dimulai dari ketertarikan untuk belajar lebih luas pada teknologi membuatnya berpindah dari staf, menjadi BPH, hingga akhirnya mengepalai Kantor Komunikasi dan Informasi (KKI). Namun justru ketika ia berada di ruang yang lebih tinggi, ia melihat sendiri bagaimana ekspektasi, tekanan, dan cara orang memandang pemimpin perempuan jauh lebih menguras tenaga daripada pekerjaan struktural itu sendiri. Kapasitasnya ada, tapi ia tahu harga sosialnya tidak adil.

Sementara bagi Shifa, alasan itu muncul dengan cara lain. Ia memang bukan orang yang memprioritaskan jabatan, namun ketidaktertarikannya bukan hanya masalah preferensi pribadi. Ia menyaksikan langsung bagaimana perempuan yang bersuara lantang atau bergerak di politik kampus dengan cepat menjadi sasaran serangan seksis, fitnah personal, dan komentar tubuh. Sesuatu yang tidak dialami kandidat laki-laki. Jika jabatan tertinggi membawa risiko yang lebih besar hanya karena seseorang lahir sebagai perempuan, maka wajar bila keinginan itu meredup.

Di titik inilah jawaban keduanya bertemu: mereka tidak maju bukan karena mereka kurang mampu, tetapi karena medan kepemimpinan di kampus masih timpang, keras, dan tidak memberikan ruang aman bagi perempuan untuk sekadar menjadi diri sendiri.

Tak Pernah Ada Perempuan di Kursi Tertinggi UI

NAMA

WAKTU MENJABAT

Pandji Soerachman Tjokrodisoerjo 

11 Januari 1950—Maret 1951

Raden Soepomo

5 April 1951—15 April 1954

Bahader Johan

23 Desember 1954-23 Februari 1958

Raden Soedjono Djoened Poesponegoro

Maret 1958—Maret 1962

Teuku Muhammad Sjarif Thajeb

1962—1964

Raden Mas Soemantri Brodjonegoro

1964—April 1973

Slamet Iman Santoso 

April 1973—5 Desember 1973

Mahar Mardjono 

5 Desember 1973—15 Januari 1982

Nugroho Notosusanto 

5 Januari 1982—3 Juni 1985

WAFJ Tumbelaka 

3 Juni 1985—15 Januari 1986

Sujudi

15 Januari 1986—15 Januari 1994

Muhammad Kamil Tadjudin 

15 Januari 1994—15 Januari 1998

Asman Boedisantoso Ranakusuma

15 Januari 1998—28 Februari 2002

Usman Chatib

28 Februari 2002—14 Agustus 2007

Gumilar Rusliwa 

14 Agustus 2007—14 Agustus 2012

Djoko Santoso

14 Agustus 2012—17 Mei 2013

Muhammad Anis 

17 Mei 2013—2 Oktober 2014

Bambang Wibawarta 

2 Oktober 2014—4 Desember 2014

Muhammad Anis

4 Desember 2014—4 Desember 2019

Ari Kuncoro 

4 Desember 2019—4 Desember 2024

Heri Hermansyah

4 Desember 2024—petahana

Daftar Rektor UI dari masa ke masa.

Sumber: Daftar Rektor Universitas Indonesia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tapak tangan perempuan kerap dipandang kurang layak sebagai pengemudi andal. Pandangan itu tidak hanya tampak di tubuh BEM UI, tetapi juga merambat ke ranah rektorat dan dekanat—takhta universitas tertinggi. Sejarah menyiratkan bahwa sejak tahun 1950 hingga saat ini, kursi rektorat selalu diduduki oleh laki-laki.

Kenyataan pahit yang digambarkan oleh Mamik Sri Supatmi, Dosen Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (FISIP) UI, yang menyiratkan bahwa apa yang terjadi dalam susunan BEM UI adalah cerminan dari kentalnya maskulinitas di kampus. Tragisnya, dominasi laki-laki tetap kokoh di tengah banyaknya perempuan muda yang lantang bersuara.

"Resistensi para perempuan muda itu luar biasa.Tetapi, yang dilawan adalah tembok tebal patriarkal yang mengakar. Faktanya mereka kan hebat, tapi nggak diberi ruang kan? Nggak dipilih kan?" saat diwawancarai di Gedung Nusantara, FISIP UI pada (20/11). Ia juga menuturkan bahwa perempuan masih dianggap liyan—tidak sepenuh, sehebat, seutuh, dan sekeren laki-laki. “Padahal kalau mau diadu secara personal, menurut aku kalau belajar di kriminologi, aku banyak [melihat] anak-anak perempuan yang lebih hebat.”

Masalah lainnya terjadi pada banyaknya perempuan muda yang berpotensi memilih tak maju bukan karena bimbang, melainkan karena lelah. "Mungkin ada teman-teman perempuan yang punya potensi bagus, tapi dia mungkin, memang salah satu faktor yang dia malas untuk atau enggan dia mencalonkan diri adalah karena malas berdiskusi dengan para patriarki itu. Yang mungkin akan menghajar dirinya, menonjolkan dirinya, kredibilitas dia sebagai perempuan baik-baik atau tidak. Nah, itu tidak bisa dialami oleh teman laki-laki. Jadi, serangannya bisa berlipat-lipat," jelas Mamik.

Ia juga menuturkan bahwa keengganan perempuan untuk maju tak seharusnya dibiarkan menjadi alasan stagnasi. Sebaliknya, mereka harus saling menopang, membangun solidaritas, mempererat persaudaraan, dan memperkuat potensi perempuan-perempuan demi menciptakan dunia yang lebih adil.

Menurut Mamik, mengatasi permasalahan ini tidak cukup mengandalkan regulasi. Namun yang lebih penting adalah perubahan cara pandang—terutama tentang bagaimana kita berperilaku, memandang diri sendiri, dan membangun hubungan yang setara dengan orang lain. Ia mendorong agar regulasi BEM UI secara eksplisit meneguhkan norma kesetaraan, seperti menjauhi perilaku seksisme, diskriminasi, intoleransi, serta menghormati tubuh setiap orang tanpa kecuali. “Juga menjadi satu persyaratan dari kandidat calon atau mekanisme-mekanisme misalnya kayak debat atau apa yang pasti tidak boleh ada ini, ada itu,” ujarnya.

Dalam konteks yang lebih luas, regulasi pendidikan tinggi di Indonesia juga belum banyak memberikan ruang kebijakan yang afirmatif bagi perempuan. Misalnya dalam Permenristekdikti Nomor 17 Tahun 2019 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Pemimpin Perguruan Tinggi Negeri, yang menyisakan persoalan mendasar karena sama sekali tidak memuat ketentuan mengenai kebijakan khusus sementara (affirmative action) bagi perempuan. Ketiadaan instrumen afirmatif ini membuat aturan tersebut berjalan dalam kondisi struktural yang sejak awal tidak setara karena perempuan cenderung memiliki akses yang lebih terbatas terhadap jabatan manajerial yang dipersyaratkan. Akibatnya, regulasi yang seharusnya membuka jalan bagi kompetisi yang adil justru berpotensi mereproduksi ketimpangan representasi perempuan dalam kepemimpinan perguruan tinggi.

Representasi pribadi perempuan tidak hanya muncul dari pengalaman pribadi atau analisis akademis. Di struktur internal BEM UI sendiri, dinamika ini juga diakui oleh para aktor laki-laki yang berada di sektor strategis. Menurut Diallo Hujanbiru, Kepala Departemen Kajian Strategis (Kastrat) BEM UI, minimnya representasi perempuan di sektor strategis seperti Sosial Politik (Sospol) harus dibaca bukan hanya dari angka, tetapi dari bagaimana sistem bekerja. Di Kastrat, memang terdapat satu BPH dan tiga staf perempuan. Secara kasat mata perempuan memang ada, namun masih jauh dari kata setara sebab tidak mencapai 50 persen.

Dio melihat akar permasalahannya bukan pada keberanian atau minat perempuan, melainkan akses yang timpang. Banyak perempuan yang sebenarnya memiliki potensi strategi, namun tidak mempunyai ruang untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Mulai dari pemahaman politik, kebijakan, kultur sospol, hingga kemampuan berhadapan dengan struktur kekuasaan dan pengalaman organisasi di BEM.

“Gue beberapa kali ngomong dengan teman-teman perempuan yang ada kok kepikiran ke sana [menjadi Ketua BEM UI], tapi ya tadi mereka merasa tidak memiliki akses yang sama, gitu,” terangnya. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan erat dengan cara masyarakat memandang strategi dunia sebagai ruang maskulin. Bahkan di luar BEM UI, ia masih mendengar pandangan usang seperti anggapan bahwa perempuan tidak layak menjadi pembatas saat aksi. "Padahal sebenarnya bukan masalah gender atau seksualitas. Kalau kamu mampu menahan goncangan dan tarik-tarikan, ya lu bisa jadi border . Itu yang harus direkonstruksi, agar pandangan bahwa sospol adalah ranah laki-laki bisa hilang."

Sebagai salah satu langkah awal, Departemen Sospol BEM UI membatasi jam malam dalam setiap kegiatan. Kebijakan ini diambil karena banyak orang tua yang memiliki rasa takut akan kejahatan yang lebih tinggi terhadap anak perempuan, sehingga turut membatasi ruang gerak mereka. “Kami berusaha mengakomodasi agar mereka juga nyaman.Biar tahun-tahun mendatang itu bisa menambah lebih banyak representasi,” lanjutnya.

Ia juga mengkritik praktik tokenisme yang masih sering ia temui di lingkungan UI. Menurutnya, tidak jarang perempuan dijadikan wakil hanya untuk memenuhi tuntutan zaman, misalnya demi terlihat progresif atau responsif terhadap isu kesetaraan. Representasi perempuan kemudian hanya sekedar menjadi simbol, bukan berdasarkan kompetensi atau karena mereka dianggap mampu mengartikulasikan isu-isu gender dan feminisme.

Sebagai penekanannya, Dio mengingatkan bahwa representasi perjuangan perempuan tidak boleh berhenti hanya sekedar menghadirkan sosok perempuan di tampuk kepemimpinan. Menurutnya, yang terpenting adalah memastikan bahwa nilai-nilai feminisme, emansipasi, dan kesetaraan benar-benar diberikan oleh siapa pun yang maju—baik perempuan maupun laki-laki. "Jangan sampai kita memaksa untuk ada perempuan yang maju, tapi ternyata dia adalah sosok yang sangat maskulin gitu ya. Sosok sosok yang justru mereduksi semangat feminisme dari perempuan-perempuan lain begitu," tuturnya.

Pada kebijakan tataran, Kastrat dan Advokasi-Propaganda (Akpro) BEM UI telah memasukkan isu gender dan seksualitas sebagai bagian dari Grand Design mereka. Salah satu fokusnya adalah representasi politik perempuan, termasuk dalam konteks nasional. Meski demikian, Dio mengakui bahwa produk tulisan terkait isu tersebut belum banyak muncul akhir-akhir ini karena berbagai kendala kriteria dan prioritas isu yang bersinggungan. Meski begitu, komitmen untuk mendorong strategi ruang yang lebih ramah perempuan tetap menjadi agenda penting.

Kisah Defani dan Shifa menegaskan bahwa perempuan selalu terkungkung dalam tembok yang sama, entah itu patriarki kampus, atau ketimpangan gender yang terselubung dalam budaya organisasi. Selain menembus batas-batas itu, mereka juga dituntut menuntaskan masalah yang ditinggalkan kepemimpinan sebelumnya. Namun, yang menjadi pertanyaan: mengapa perempuan selalu diminta merapikan kekacauan yang ditinggalkan pria?

Kepemimpinan mereka sering kali tidak terlihat, namun nyata dalam menciptakan ruang yang lebih adil, inklusif, dan responsif. Kisah mereka mengingatkan bahwa perubahan tidak mudah, namun keberanian menembus tembok lama mampu menyalakan bara bagi generasi berikutnya. ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌

Teks: Dela Srilestari

Editor: Chika Ayu

Ilustrasi: Meylani Angie Manggalatung

Pers Suara Mahasiswa UI 2025

Mandiri, Lugas, dan Berkualitas!


Tulisan ini merupakan hasil Fellowship Per Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Jakarta (AJIJAK). ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌