
Jakarta, 25 November 2023 - Pekan terakhir November 2023 berhasil ditutup manis oleh gelaran "Pesta Pinggiran" oleh Project Multatuli di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 25-26 November. Pesta yang berlangsung selama dua hari ini merupakan upaya menghadirkan ruang bagi masyarakat yang terpinggirkan dalam menyuarakan demokrasi yang lebih inklusif, menciptakan dunia yang lebih layak dan ideal bagi semua kalangan. Bertepatan dengan momen elektoral pemilu 2024, Pesta Pinggiran diinisiasi sebagai tandingan Pemilihan Umum (Pemilu) yang seringkali dianggap sebagai pesta rakyat, namun realitanya sudah jauh panggang dari api, hampir tidak sama sekali mendekati kepentingan rakyat.
“Pemilu selalu dibilangnya pesta rakyat, tapi kok kayaknya bukan pestanya kita lagi, udah jadi pesta elit. Semakin ke sini, agenda politik lima tahunan itu semakin jauh membicarakan kepentingan rakyat pinggiran. Makanya muncul ide, yuk kita orang-orang dari pinggiran, kumpul-kumpul, kita rebut ruang demokrasi kita,” tutur Evi Mariani, Pemimpin Redaksi Project Multatuli dalam Pesta Pinggiran.
“Dunia harus diubah, nggak kumpul-kumpul bergerak aja sih, namanya juga pesta kita senang-senang juga di sini,” lanjutnya.
Menyajikan serangkaian acara yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat pinggiran untuk bersuara, Pesta Pinggiran bukan sekedar pesta tetapi juga pesan satir kepada pemerintah yang dikemas dalam bentuk hiburan dan perayaan.
Dengan tema "Berkumpul, Bergerak, Bersuara," Pesta Pinggiran menawarkan berbagai kegiatan menarik. Acara pertama adalah "Layar Pinggiran," di mana pengunjung diajak menonton film dokumenter yang menggambarkan realitas demokrasi, pelanggaran HAM, ketertindasan kelas, dan gender. Film-film ini dipilih oleh Permata Adinda, pemenang piagam Tenete Pong Masak FFI 2023, Permata Adinda. Ia memilih film-film yang akan memberikan gambaran mengenai kehidupan sehari-hari korban ketidakadilan negara.
Mulai dari “My Grandmother is a Bird” kisah menyentuh tentang seorang penyintas 1998, hingga film "Teguh" yang mengisahkan seorang polisi yang menuntut diskriminasi karena orientasi seksualnya. Semua pemutaran diarahkan untuk merangsang refleksi dan membayangkan masa depan yang lebih inklusif jika kita berani marah dan melawan ketidakadilan.
Selain itu, tersedia pula lokakarya pinggiran yang menawarkan sesi edukatif dan kreatif. Dari "Memahami Perjanjian Kerja" bersama Sindikasi hingga sesi "Belajar Menanam" bersama Kebun Kumara, peserta diajak untuk aktif berkontribusi dalam mewujudkan perubahan positif untuk diri sendiri. Peserta dapat belajar menanam, membuat handycraft, hingga meracik minuman fruit wine organik.
Hari kedua terdapat pula Pameran dan Lokakarya Foto Jurnalistik "Setara Bercerita" menjadi ajang bagi masyarakat pinggiran untuk mengekspresikan kisah-kisah mereka dengan menggunakan lensa kamera.
"Project Multatuli membuat berbagai rangkaian acara agar semua orang dapat memilih sesuai minat dan kegemarannya masing-masing, untuk semua kalangan, semua kelas, dan identitas," tutur Evi kepada reporter Suara Mahasiswa UI pada Sabtu (25/11)
Pasar Pinggiran juga turut meramaikan dengan berbagai kedai dan warung yang menjual buku, tanaman hias, pangan, handcraft, kain adat, hingga fruit wine. Panggung hiburan di area taman tengah menampilkan musisi ternama seperti Endah N Rhesa, Silampukau, Morgue Vanguard, hingga karya lagu "Ibu-Ibu Melawan Rentenir" oleh Mother Bank. Semua musisi yang ditampilkan pun memiliki karya yang selaras dalam menyuarakan keresahan terhadap ketidakadilan oligarki.
Menuju puncak, sesi Bincang Pinggiran hadir bertajuk “Dunia Kita Hari Ini: Hidup Terkadang Dipenuhi Orang-Orang Menyebalkan" mengajak Syarif Maulana dari Kelas Isolasi, Mawar Kresna, Redaktur Project M, Eva Bande, Aktivis Tani dan Perempuan, Margianta Founder Emancipate Indonesia, serta Fathimah Fildzah dari Indoprogress untuk memantik dialog yang menelisik permasalahan-permasalahan di ‘pinggir’.
“Sistem politik kita dikepung oleh partai-partai elitis dan dikuasai oleh oligarki. Resiliensi kita adalah membuat mitigasi risiko, misalnya dalam hal kebebasan ekspresi yang makin menyempit, saat ini dunia media sosial kita hanya berjarak berapa senti dari penjara," ujar Margianta, Founder Emancipate Indonesia.
Pesta Pinggiran bukan hanya sekadar pesta, tetapi juga bentuk protes dan perlawanan terhadap ketidakadilan. "Mari terus bersama-sama jadi menyebalkan bagi sistem dan struktur kuasa yang menindas, yang eksploitatif!" seru Fathimah Fildzah Izzati dari Indoprogress menutup Bincang Pinggiran.
Dengan antusiasme, Anggita, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta yang menghadiri Pesta Pinggiran, mengungkapkan, "Seru banget bisa ketemu teman-teman, jadi titik kumpulnya kita-kita yang pinggiran nih untuk bersolidaritas dan mendiskusikan isu-isu penting seperti kelas, gender, lingkungan, dan lain sebagainya."
Pesta Pinggiran memperlihatkan bahwa rakyat pinggiran tidak hanya menjadi penonton dalam perhelatan politik, tetapi juga pelaku yang aktif dalam membentuk agenda kesejahteraan dan keadilan sosial.
Pesta Pinggiran masih berlangsung hingga hari ini di Taman Ismail Marzuki, datang dan ramaikan acaranya, ya!
Teks: Dian Amalia Ariani
Editor: Kamila Meilina
Foto: Felix Jody Kinarwan
Pers Suara Mahasiswa UI 2023
Independen, Lugas, Berkualitas!