Logo Suma

Pikiran dan Perjalanan: Rekam Kalut Perjalanan Hidup Manusia

Redaksi Suara Mahasiswa · 21 Agustus 2020
2 menit · - kali dibaca
Pikiran dan Perjalanan: Rekam Kalut Perjalanan Hidup Manusia

By Hani Nastiti

Nama Album: Pikiran dan Perjalanan
Artis: Barasuara
Genre: Indie Rock
Label: Darlin
Tanggal Rilis: 8 Maret 2019

Para penikmat musik independen tentunya tidak asing dengan Barasuara. Band beraliran musik rock ini beranggotakan Iga Massardi (vokal/gitar), Puti Chitara (vokal), Asteriska Widiantini (vokal), Gerald Situmorang (bass), Marco Steffiano (drum), dan Tj Kusuma (gitar). Barasuara meraih kesuksesan melalui album debut Taifun pada 2015. Setahun berikutnya, mereka berhasil mengantongi sejumlah ajang penghargaan musik, diantaranya Indonesian Choice Awards, Anugerah Musik Indonesia, dan Rolling Stone Editors’ Choice Awards. Barasuara kembali menyuarakan karyanya melalui album bertajuk Pikiran dan Perjalanan pada Maret 2019 lalu. Melalui album ini, Barasuara kembali meraih penghargaan melalui ajang Anugerah Musik Indonesia 2019.

Musik adalah sebuah pesan dan Barasuara adalah perantaranya. Pikiran dan Perjalanan merekam suatu gambaran perihal pikiran kalut manusia yang terus melaju untuk tetap bertahan hidup. Melalui sembilan lagu di album Pikiran dan Perjalanan, Barasuara berusaha menyampaikan tentang perasaan, kekecewaan, kebahagiaan, ekspektasi, keresahan, dan ketidakstabilan kondisi mental manusia. Bahkan, artwork dari sampul album barunya ini cukup eksplisit dalam menggambarkan keseluruhan isi Pikiran dan Perjalanan. Pilihan bunga teratai, hijau, dan merah muda merepresentasikan sebuah lambang pencerahan, keyakinan, harapan, dan emosi dalam perjalanan hidup manusia. Kemasan perasaan dan harapan dalam Pikiran dan Perjalanan disajikan sebagai bentuk pembelajaran dan pendewasaan melalui lirik yang personal.

Dimulai dari track pertama, yakni “Seribu Racun”, dibuka oleh pukulan drum Marco yang bersemangat. Lagu ini menyampaikan keresahan, depresi, dan melawan pikiran beracun yang mengganggu. Selain itu, adanya kenyataan bahwa hidup dihadapi banyak pilihan. “Pikiran dan Perjalanan” membawa cerita bahwa pikiran, pilihan, dan tekanan membawa pengaruh pada perjalanan hidup manusia. Selanjutnya, “Guna Manusia”, pada urutan ketiga menjadi sebuah refleksi perbuatan manusia di alam semesta ini hingga perlahan bumi tenggelam. Layaknya sebuah bara yang bersuara, mereka juga menyuarakan isu-isu di tengah masyarakat yang ditulis dalam penggalan lirik lagunya. “Guna Manusia” rilis terlebih dulu dalam bentuk single pada September 2018.

Track awal Pikiran dan Perjalanan masih serupa dengan album sebelumnya. Hanya saja sentuhan synthesizer yang memberikan sedikit warna baru. Terdengar jelas perbedaan dalam “Pancarona” seolah memasukkan seluruh elemen musik sehingga terdengar sedikit memaksakan. Permainan Bass Gesit, drum Marco, dan sentuhan synthesizer yang cukup dominan. Biar begitu, tidak mengurangi warna-warni ekspresi Barasuara. “Pancarona” menggambarkan kisah manusia pada titik terendah; dihadapkan keraguan dan melampauinya.

Terdapat perbedaan mencolok dari “Masa Mesias Mesias” yang mampu menggoyangkan Penunggang Badai—para penggemar—melalui alunan nada khas timur. Sementara “Tentukan Arah” lebih akrab terdengar seperti lagu-lagu di album sebelumnya. Pada lagu “Haluan”, “Samara”, dan “Tirai Cahaya”, Barasuara kembali menaikkan ritme lagunya dan lebih mengajak Penunggang Badai kembali berjingkrak. Suara kritikan Barasuara juga disampaikan melalui “Haluan”, berangkat dari potret huru-hara di tengah perbedaan hingga maraknya edaran berita bohong yang juga diungkap secara eksplisit dalam lirik “…Muatan, bualan, paksaan, ancaman, yang benar diredam, diputar haluan”.

Pikiran dan Perjalanan diakhiri dengan lagu “Tirai Cahaya”, sebagai simbol membelah tirai menyambut hari baru dan merayakan kehidupan baru. Banyaknya elemen musik dalam lagu ini telah menuai banyak suara bahwa album terbarunya ini kurang “membara” dibandingkan bara dalam Taifun. Walaupun begitu, Pikiran dan Perjalanan tidak menyurutkan antusias para Penunggang Badai. Barasuara tidak hanya membuat pendengar terhibur, bernyanyi, dan berjingkrak, tetapi juga membawa pesan-pesan menguatkan. Barasuara senantiasa mengajak Penunggang Badai selalu siap dan bersemangat menghadapi kehidupan yang jauh dari realita, menyuarakan optimisme dalam melaju dari dalam gelap dan merayakannya.

Teks: Hani Nastiti
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas dan Berkualitas!

Tim Penggarap