Logo Suma

Piknik Cabut Statuta: Geliat Aksi Unik BEM se-UI

Redaksi Suara Mahasiswa · 22 Oktober 2021
2 menit · - kali dibaca

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) kembali mengusung aksi dengan tema unik yang bertajuk "Piknik Bersama Cabut Statuta" pada Hari Jumat, (21/10) di halaman rektorat UI. Aksi ini merupakan bagian dari rangkaian aksi mingguan tolak dan cabut statuta. Koordinasi berada di bawah BEM UI dan hanya dihadiri oleh Brigade UI serta perwakilan berbagai BEM Fakultas UI.

Acara diawali dengan gelaran tenda dan tikar dari para massa aksi yang menggelar “piknik” di area Rotunda UI. Aksi yang berjalan santai ini diisi dengan berbagai orasi dan penampilan kreatif dari perwakilan BEM Fakultas. Setiap fakultas membawakan penampilan yang unik dan kreatif. Seperti di antaranya, penampilan pantun oleh FKG dan FK UI serta penampilan akustik dari BEM Fasilkom UI.

Peserta pada aksi kali ini terlihat lebih sedikit dibandingkan dengan aksi sebelumnya. Hal tersebut sebagaimana yang dituturkan oleh Ketua BEM FISIP, Bayu Satria, yang mengungkapkan bahwa aksi ini diadakan dalam periode Ujian Tengah Semester (UTS), sehingga dihadiri sebagian kecil mahasiswa saja. “Ini diadakan di tengah UTS, jadi hanya sebagian kecil mahasiswa yang bisa hadir,” tutur Bayu.

Meskipun hanya dihadiri sedikit massa, aksi kali ini berjalan dengan damai dalam suasana yang menyenangkan. Para peserta melangsungkan piknik dengan membawa makanan dan minuman masing-masing, serta turut diisi oleh pasokan minuman dingin dari penyelenggara aksi. Selain menggelar tikar, para peserta aksi juga mengisi acara dengan berbagai barang dan pertunjukan simbolisasi. Seperti replika permainan golf, tumpengan, pertunjukan teatrikal, hingga cosplay rektor.

Gelaran aksi hari ini adalah lanjutan dari rangkaian aksi Tolak Statuta pertama yang diadakan pada hari Selasa (12/10) lalu. Karena hingga hari ini, tuntutan tidak kunjung direspons baik oleh pihak Rektorat, maupun pihak lain yang berkepentingan, salah satunya Kemendikbud. Oleh karena itu, tuntutan yang dilontarkan masih sama persis seperti sebelumnya, yakni 1) menuntut pemerintah untuk mencabut PP 75/21 Statuta UI yang mendasari revisi statuta UI; 2) meminta keterlibatan empat organ (Majelis Wali Amanat, Rektor, Senat Akademik, dan Dewan Guru Besar) dan partisipasi aktif seluruh sivitas akademika UI dalam proses revisi Statuta UI.

Bentuk aksi yang terbilang unik ini, sebagaimana yang diungkapkan Bayu, merupakan suatu gagasan dari aliansi BEM se-UI untuk meningkatkan eskalasi isu serta menjaga semangat para peserta aksi yang telah bergabung pada aksi minggu lalu. “Jadi, yang penting kita nge-keep eskalasi gerakannya supaya teman-teman merawat semangat dan ingatannya (akan isu ini),” ungkapnya. Selain itu, aksi simbolik camping dan piknik ini juga menegaskan langkah yang diambil oleh BEM UI, yaitu aksi dalam bentuk yang lebih tenang tanpa huru-hara. “Supaya orang rektorat juga tau bahwa kita tidak selalu menggelar aksi yang keras, bahwa kita juga bisa menghimpun massa dalam bentuk seperti ini,” tambah Bayu.

Aisha Afdanty, mahasiswa FISIP UI, selaku peserta aksi menyampaikan pendapatnya mengenai aksi ini. Menurutnya, bentuk aksi seperti ini merupakan suatu bentuk yang cukup unik dibandingkan aksi yang penuh huru-hara. Akan tetapi, untuk efektivitasnya masih perlu dikaji lagi karena tuntutan yang dibawakan masih belum juga mendapatkan respons dan titik terang. “Menurutku ini aksinya cukup seru ya, daripada aksi yang teriak-teriak, tetapi tidak didengarkan. [...] untuk tuntutannya sendiri sangat disayangkan ya karena masih belum tersampaikan, masih belum ada audiensi dari pihak Rektoratnya,” ujarnya.

Aksi ditutup tanpa adanya keputusan yang jelas; tidak ada audiensi serta tanggapan dari pihak rektorat, sehingga terkesan masih mengawang. Meskipun begitu, rangkaian Aksi Tolak Statuta UI masih direncanakan untuk terus berlanjut dalam bentuk yang berbeda setiap minggunya serta akan tetap digelar hingga tuntutan untuk mencabut statuta dapat direalisasikan. “Ini merupakan tuntutan kita kepada UI dan kepada Kemendikbud sebagai pihak yang bertanggung jawab. Jika tuntutan ini masih juga belum terakomodasi, kita akan terus menggelar aksi hingga ke istana,” pungkas Bayu.

Teks: Kamilla Meilina

Kontributor: Dila Kurnia, Dewi Sekar

Foto: Anggara Alvin

Editor: Syifa Nadia

Pers Suara Mahasiswa UI

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap