
Universitas Indonesia (UI) menggelar Acara Puncak PILAR Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) UI 2026 di Balairung pada Kamis (6/8) yang diikuti 10.238 mahasiswa baru. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan peserta didik baru, yang sebelumnya bernama Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) UI.
“Alasan mendasar di balik perubahan nama atau konsep dari OKK menjadi PILAR adalah [agar adanya] sebuah transformasi program pembinaan yang lebih mengakar, berkelanjutan, dan berorientasi pada penguatan karakter, serta penumbuhan rasa memiliki terhadap IKM UI sebagai wadah formal aktivitas kemahasiswaan,” kata Tyara Kusuma, Vice Project Officer Internal PILAR UI 2026, saat diwawancarai oleh Suara Mahasiswa UI pada (8/8) melalui Zoom.
Perubahan konsep itu diterapkan dalam pelaksanaan Acara Puncak, salah satunya lewat pembagian mahasiswa baru ke dalam dua sesi kegiatan. Tyara menjelaskan pembagian sesi itu dirancang untuk membangun ritme pengalaman yang berbeda dalam satu perjalanan pembinaan.
“[Dengan jumlah mahasiswa baru yang terdata sebanyak 10.238] yang dibagi ke dalam 350 kelompok dengan 700 mentor. Pembagian sesi membuat proses materi, mobilisasi, dan interaksi lebih terkontrol tanpa mengurangi substansi,” ujarnya.
Ia juga menguraikan pelaksanaannya berlangsung di dua lokasi yang berbeda. Sesi di Balairung digunakan untuk pemaparan materi, sementara Rotunda menjadi lokasi pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan organisasi mahasiswa (Ormawa).
Menurut Tyara, kehadiran PILAR tidak ditujukan untuk membuat mahasiswa baru langsung siap menjalani seluruh kehidupan mahasiswa. Ia menyatakan program ini diharapkan menjadi titik awal untuk membawa pemahaman, pengalaman, serta dorongan memulai kontribusi dari lingkungan terdekat hingga masyarakat luas.
Pelaksanaan PILAR Masih Sisakan Catatan
Meski membawa sejumlah perubahan dalam konsep pembinaan, pelaksanaan PILAR masih menyisakan sejumlah catatan dari mahasiswa baru dan mentor.
Rama, salah satu mahasiswa baru dari kelompok 166, mengungkapkan kegiatan sesi pertama tidak berjalan sesuai jadwal. “[Nggak bisa bilang tepat waktu]. Karena kita disuruh ngumpul jam 6 terus juga disuruh baris-berbaris setengah 7, tapi nyatanya mulainya bisa di jam 8 [atau] setengah 9. Jadi ngantuk kitanya.”

Keluhan serupa dituturkan oleh Lulu dari kelompok 230. Ia mengatakan kegiatan pengenalan UKM dan Ormawa yang dijadwalkan mulai pukul 08.00 WIB mengalami keterlambatan. Sedangkan, acara puncak yang dijadwalkan pukul 12.30 WIB, tetapi baru dimulai hampir pukul 14.00 WIB.
Sementara itu, Shelly dari kelompok 166 menilai materi yang disampaikan kurang berbobot. Menurutnya, materi itu kurang memberikan wawasan karena beberapa narasumber lebih banyak membahas produk sponsor sehingga terasa seperti iklan.
“Kalau dibandingkan dengan hari lain itu aku lebih ngerasa insightful-nya di hari lain,” ucap Shelly.
Ia juga mengeluhkan kualitas suara dari panggung yang kurang terdengar jelas. “Jadi, aku tuh baru nge-denger apa kata narasumbernya kalau dia agak teriak atau kalau suasananya tuh lagi hening dan anak-anaknya fokus gitu.”
Pelaksanaan kegiatan ini juga menjadi pengalaman baru bagi para mentor, terutama mahasiswa angkatan 2025 yang sebelumnya tidak mengikuti OKK secara langsung.
Nikey, salah satu mentor dari kelompok 16, mengaku perlu beradaptasi dengan tanggung jawab mendampingi sekitar tiga puluh mahasiswa baru dalam satu kelompok. “Jadi kayak sempat agak kaget juga sih, karena di PILAR itu kita harus memegang mentee atau anak-anak sebanyak kurang lebih tiga puluh anak.”
Di lapangan, mentor juga perlu menyesuaikan pendampingan dengan kondisi peserta. Nikey mengatakan terdapat mahasiswa baru yang mengalami kendala untuk duduk di tribun atas sehingga mentor harus membantu menyesuaikan penempatannya.

“Mentee aku juga ada beberapa anak yang nggak bisa kalau kita tuh harus duduk di tribun atas. Jadi harus [dibopong] karena ada kendala disabilitas. Di situ juga kita mau nggak mau harus saling bantu sama satu sama lain.”
Pengalaman itu menjadi catatan bagi pelaksanaan bimbingan berikutnya. Nikey mengusulkan adanya pertemuan tatap muka sebelum acara puncak agar mentor dan mahasiswa baru dapat membangun kedekatan sejak awal.
Acara puncak ini menghadirkan sejumlah figur dengan tema berbeda pada tiap sesi. Sesi pertama dibawakan oleh Iqbaal Ramadhan, Afra Maudy, Grandis Tenar, serta Pasming Based dalam talkshow bertema “Entertainment and Social Branding”. Sesi kedua mengusung tema “Sustainability and Blue Economy” dengan mendatangkan Rafi Sudirman bersama Sakti Wahyu Trenggono selaku Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.
Teks: Reinanda Alvina, Revana Hanum Sidharta
Editor: ‘Izza Billah
Foto: Nazwa Aulia Fathimah
Desain: Syifa Nabilah Azzahra
Pers Suara Mahasiswa UI 2026
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Teks
Editor
Foto
Desain