
Istilah childfree ramai menjadi perbincangan orang di media sosial akhir-akhir ini. Pernyataan Gitasav dan Cinta Laura menjadi pemantik isu ini naik, banyak komentar-komentar yang pro dan juga kontra terhadap pernyataan mereka. Sebenarnya apakah itu childfree?
Childfree adalah istilah yang merujuk pada orang yang memilih untuk tidak memiliki anak. Istilah ini sebenarnya telah ada dan digunakan sejak tahun 1970-an. Akan tetapi, belakangan ini istilah childfree kembali ramai diperbincangkan. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya pilihan untuk hidup tanpa anak. Mengutip dari Tirto.id (24/8/21), Tomas Frejka dalam penelitiannya yang berjudul Childlessness in the United States menyatakan bahwa pilihan untuk tidak memiliki anak (childfree) meningkat sebanyak 10 persen pada tahun 2000-an.
Terlebih, hasil sensus penduduk oleh BPS yang dimuat dalam Medcom.id (2/9/21) menunjukkan adanya penurunan laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Laju pertumbuhan penduduk pada dekade ini, 2010—2020, menunjukkan angka 1,25%. Sementara itu, laju pertumbuhan pada dekade sebelumnya, 2000—2010, menunjukkan angka 1,49%. Data ini mengindikasikan adanya penurunan angka kelahiran di Indonesia, yang salah satunya disebabkan oleh meningkatnya pilihan untuk hidup tanpa anak (childfree). Pertanyaannya, apa faktor yang melatarbelakangi seseorang untuk memilih hidup tanpa anak?
Mengapa Memilih Childfree?
Pilihan untuk hidup tanpa anak tentu didasari oleh berbagai alasan, yang boleh jadi berbeda dari individu ke individu. Mengutip dari detik.com (31/8/21), Victoria Tunggono, penulis buku Childfree and Happy, menyatakan bahwa ada lima alasan pokok yang mendasari pilihan untuk childfree. Lima alasan pokok itu adalah masalah fisik, masalah psikologis, masalah ekonomi, masalah lingkungan, dan alasan-alasan personal lainnya.
Yang dimaksud dengan masalah fisik adalah ketidakmampuan fisik seseorang atau pasangannya untuk memiliki anak. Sementara itu, masalah psikologis umumnya berupa ketidaksiapan mental untuk memiliki anak. Masalah ekonomi umumnya didasari ketidakmampuan finansial untuk mencukupi kebutuhan anak nantinya. Masalah lingkungan dapat berupa kesadaran bahwa dunia ini sudah terlalu padat, hingga menimbulkan rasa enggan untuk memiliki anak. Terakhir, alasan personal umumnya bervariasi, umumnya berkaitan dengan prinsip dan pandangan hidup masing-masing individu.
Sementara itu, menurut Sosiolog Universitas Indonesia, Dr. Ida Ruwaida, M.Si--yang juga akrab dengan panggilan Ida--faktor yang mendasari pilihan untuk hidup tanpa anak ini yaitu pengalaman traumatis di masa lalu, masalah kesehatan reproduksi, dan konsepsi tentang tubuh masing-masing individu.
Akan tetapi, menurut Ida, ada kemungkinan bahwa alasan pemilihan gaya hidup childfree di Indonesia disebabkan oleh tren. “Saya mengamati dari tahun ke tahun, dengan seumur saya nih jadi sosiolog gitu ya, orang Indonesia itu tingkat imitating behavior-nya tinggi. Jadi gaya hidup aja lagi nge-trend. Yang ngomong childfree itu sudah menikah atau belum? Kalau udah nikah, kita cari tau latar belakangnya, tapi kalau belum itu masih koma, karena belum tentu ketika menikah nggak berubah pandangan,” tutur Ida. “ Isu-isu yang sebetulnya dimunculkan saat ini ya karena faktor tadi ya media sosial. Jadi karena orang sekarang lebih mudah mengekspresikan diri melalui berbagai media. Zaman dulu kan tertutup, orang enggak kelihatan, cuma kan sekarang orang menjadi lebih terbuka seiring dengan keterbukaan (informasi--red),” lanjutnya.
Lebih lanjut, menurut Ida, pengambilan keputusan untuk hidup tanpa anak harus dipertimbangkan matang-matang. “Terkait dengan pengambilan keputusan tidak bisa diputuskan sendiri, harus dirundingkan,” Ujar Ida.
Pro dan Kontra Childfree
Sudah menjadi kultur di masyarakat kita, bahwa ketika telah memasuki usia dewasa, kita harus mempersiapkan perihal pernikahan dan setelah itu akan membahas tentang momongan. Terkait hal tersebut, Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si., Psikolog Sosial dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, mengatakan bahwa, untuk memutuskan hidup tanpa anak harus melibatkan keluarga besar. “Sebab, orang tua dari pasangan suami-istri itu tentu memiliki harapan pada pernikahan anak-anaknya. Salah satunya harapan untuk memiliki cucu yang meneruskan keturunannya,” tambah Tri.
Tak berhenti sampai di situ, akan muncul stigma negatif, seperti “banyak anak, banyak rezeki”, “kalau tidak punya anak, siapa yang akan mengurus masa tua kita”, dan juga terkait fitrah. Dilansir dari republika.co.id (25/8/2021), menurut Ustadz Harry Santosa sebagai penggagas Fitrah Based Education (Pendidikan Berbasis Fitrah), sebagai individu yang beragama, meyakini bahwa kebahagiaan yang sejati adalah dapat menjalani hidup selaras dengan fitrahnya. Lalu, pada fenomena childfree ini, yang menjadi titik berat adalah fitrah keimanan dan fitrah seksualitas seseorang.
Selain itu, menurut embriolog senior di klinik infertilitas Permata Hati RSUP Dr. Sardjito, Ita Fauzia Hanoum, mengatakan bahwa ada konsekuensi kesehatan dari pilihan untuk tidak memiliki keturunan, terutama pada perempuan. Ketika seorang perempuan usia produktif memilih untuk tidak memiliki keturunan, artinya fungsi uterus atau kandungan menjadi tidak pernah digunakan. “Konsekuensinya risiko sejumlah penyakit bisa saja lebih tinggi, seperti kanker rahim dan serviks meskipun ini perlu diteliti lebih lanjut,” ujar Ita Fauzia dikutip dari Kumparan (17/8/2021).
Hal yang sama juga dimuat oleh Johnson Memorial Health, bahwa perempuan yang tidak pernah hamil memiliki risiko terkena kanker payudara yang lebih tinggi. Hal ini karena risiko kanker payudara dipengaruhi oleh paparan hormon estrogen dan progesteron, sementara ketika hamil dan menyusui paparan terhadap hormon tersebut menjadi berkurang sehingga membuat risiko terkena kanker juga berkurang.
Terlepas dari itu semua, keputusan untuk childfree tergantung pada setiap pasangan, mereka memiliki pilihan dan keputusannya masing-masing. Ada pandangan bahwa memilih untuk childfree adalah pilihan yang egois, tetapi itu tidak benar. “Alasannya beragam, tapi dari pengalaman saya, alasannya itu adalah kekecewaan terhadap orangtua, belum siap secara mental maupun finansial, dan ada juga yang nggak mau ribet dengan anak,” ujar Farraas A. Muhdiar, seorang psikolog anak.
Sebagai penutup, semua pasangan mempunyai pilihan untuk childfree atau tidak. Bagi mereka yang memilih hidup childfree tidak berarti tidak dapat hidup bahagia. Masih banyak faktor yang bisa membuat pasangan suami-istri bahagia selain memiliki anak.
Teks: Magdalena Natasya, Olivia Chairinnisa Suyono
Kontributor: Iis Khoerun, Kahlil, Luthfi Sadra
Ilustrasi: Anggit Magistra
Editor: Giovanni Alvita
Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Referensi
Perwitasari, Nur Hidayah. (24 08 2021). “Arti Childfree dan hal yang Harus Dipertimbangkan Menurut Psikolog”. Tirto.id. Diakses melalui https://tirto.id/arti-childfree-dan-hal-yang-harus-dipertimbangkan-menurut-psikolog-giT5
Humas UNS. ((01 07 2021). “Childfree dari Kacamata Psikolog UNS”. Uns.ac.id. Diakses melalui https://uns.ac.id/id/uns-update/childfree-dari-kacamata-psikolog-uns.html
Perwitasari, Nur Hidayah. (24 08 2021). “Arti Childfree dan hal yang Harus Dipertimbangkan Menurut Psikolog”. Tirto.id. Diakses melalui https://tirto.id/arti-childfree-dan-hal-yang-harus-dipertimbangkan-menurut-psikolog-giT5