
By Litbang Suma UI
Universitas Indonesia telah melalui paruh pertama 2020 di bawah kepemimpinan Prof. Ari Kuncoro, Ph.D. Berbagai kebijakan dan dinamika telah terjadi dalam kurun waktu kepemimpinan beliau. Kehidupan mahasiswa sebagai salah satu stakeholder Universitas Indonesia tak luput dari pengaruh baik atau buruknya perubahan yang dibawa oleh kebijakan tersebut. Oleh karena itu, survei ini diadakan untuk mengukur tingkat kepuasan mahasiswa terhadap kebijakan, pelayanan, dan progres yang telah dilakukan oleh pihak rektorat dalam kurun waktu setengah tahun ke belakang. Data yang diperoleh akan digunakan untuk mengartikulasikan suara mahasiswa dengan lebih lantang.
Survei Kepuasan Mahasiswa terhadap Universitas Indonesia berlangsung dari 19 September 2020 hingga 1 Oktober 2020, serta memperoleh sebanyak 129 responden yang tersebar dari berbagai fakultas/program yang ada di Universitas Indonesia. Hasil survei tidak mewakili seluruh populasi mahasiswa UI.

Kepuasan Mahasiswa terhadap Fasilitas UI
SIAK-NG UI merupakan situs yang berperan penting bagi berlangsungnya perkuliahan mahasiswa. Situs ini dapat diibaratkan sebagai nyawa mahasiswa karena mencakup segala hal terkait identitas, pemilihan mata kuliah, jadwal, nilai, pengumuman, hingga urusan administrasi. Namun, sudah bertahun-tahun SIAK-NG UI mengalami masalah terhadap server-nya, sehingga kerap menghambat mahasiswa saat melakukan “SIAK war”. Terkait dengan tingkat kepuasan terhadap server SIAK-NG, dari 129 responden, mayoritas responden merasa tidak puas, yakni sebanyak 41,9 persen responden, disusul dengan yang sangat tidak puas sebanyak 27,1 persen responden. Meskipun begitu, terdapat 27,9 persen responden yang merasa puas dan 3,1 persen responden merasa sangat puas.
Semenjak Student Centered e-Learning Environment UI (SCeLE UI) sudah tidak lagi digunakan, pihak UI menciptakan E-learning Management Systems (EMAS UI) sebagai gantinya. Tampilan EMAS UI pun lebih ramah dan tidak kaku, sehingga menuai respons positif dari mahasiswa. Hal ini terbukti melalui sebanyak 48,8 persen responden merasa puas terkait kemudahan mereka dalam mengakses EMAS UI, sedangkan yang tidak puas sebanyak 28,7 persen responden. Selanjutnya, responden yang sangat tidak puas sebanyak 13,2 persen, diikuti yang sangat puas sebanyak 9,3 persen.
Selanjutnya, keuntungan yang diperoleh mahasiswa UI adalah akses gratis Office 365 dengan akun UI. Kabar baiknya, sebanyak tiga perempat dari total responden, yakni 101 orang, mengetahui informasi terkait layanan ini. Sebaliknya, hanya 28 responden yang tidak mengetahuinya.
Luasnya lingkungan UI memungkinkan banyaknya transportasi yang disediakan, seperti bus kuning, sepeda kuning, hingga bus Transjakarta. Dalam hal ini, hampir 50 persen responden, yakni 64 orang, merasa puas terhadap layanan transportasi di UI. Pilihan ini disusul dengan yang merasa tidak puas dan sangat puas, masing-masing sebanyak 31 responden. Pilihan sangat tidak puas hanya diwakili oleh 3 responden.

Kepuasan Mahasiswa terhadap Kebijakan UI
Di tengah pandemi dan keberlangsungan pembelajaran jarak jauh (PJJ), pihak UI mencanangkan kenaikan denda peminjaman buku Perpustakaan UI. Namun, sebanyak 77 responden tidak mengetahui informasi ini. Sebaliknya, terdapat 52 responden yang mengetahui hal tersebut. Dalam menanggapi kebijakan tersebut, sejumlah 79 responden tidak menyetujui kenaikan denda peminjaman buku, sedangkan 40 responden lainnya menyetujui.
Lingkungan akademik memungkinkan mahasiswa untuk menyatakan pendapatnya secara bebas mengenai apa yang mereka pelajari dan pahami. Terkait kebebasan berpendapat di lingkungan UI, 34,1 persen responden merasa tidak puas. Hal ini berbanding tipis dengan yang merasa puas, yakni sebanyak 31 persen responden. Pilihan ini diikuti 23,3 persen responden yang merasa sangat tidak puas dan 11,6 persen responden yang merasa sangat puas.
Pandemi yang berdampak pada masalah finansial menyebabkan sulitnya sebagian mahasiswa dalam memenuhi tuntutan administrasi berupa pembayaran UKT. Namun, pihak kampus dirasa kurang menanggapi keluhan yang disampaikan beberapa kali oleh mahasiswa melalui aksi selama pandemi. Hal ini menuai respon negatif dari mayoritas mahasiswa, yakni sebanyak 62 persen responden merasa sangat tidak puas, diikuti yang tidak puas sebanyak 29,5 persen responden. Oleh karena itu, hanya sebagian kecil yang merasa puas (6,2 persen) dan sangat puas (2,3 persen).
Dalam perkuliahannya, mahasiswa tidak hanya dituntut aktif dalam hal akademis, tetapi juga non-akademis. Terkait kemudahan mahasiswa dalam mengajukan perizinan untuk pelaksanaan kegiatan di UI, diperoleh sebanyak 46 responden yang merasa tidak puas, disusul sebanyak 40 responden yang merasa puas. Selanjutnya, 37 responden merasa sangat tidak puas, serta hanya 6 responden yang merasa sangat puas.
Untuk menunjang kesuksesan kegiatan di UI, tentu pihak kampus menyediakan bantuan dana kepada mahasiswa. Terkait dengan kepuasan atas bantuan dana yang diberikan sebagai dukungan kegiatan, 44 responden merasa puas, diikuti yang tidak puas sebanyak 42 responden. Lalu, sejumlah 38 responden merasa sangat tidak puas dan hanya 5 responden yang merasa sangat puas. Walaupun skala puas paling banyak dipilih responden, ada kecenderungan rasa tidak puas yang lebih tinggi dari responden lainnya.
Kekerasan seksual merupakan salah satu masalah yang paling sering dibicarakan di lingkungan UI. Banyaknya laporan yang diterima menuntut adanya urgensi dari pihak kampus untuk melakukan pencegahan dan penanganan secara tepat sasaran. Terkait masalah ini, sebanyak 50 responden merasa sangat tidak puas, 44 responden tidak puas, 28 responden puas, dan hanya 6 responden yang sangat puas. Hasil ini menunjukkan adanya ketidakpuasan yang cukup tinggi terhadap upaya yang dilakukan oleh pihak kampus.

Tanggapan Mahasiswa terhadap Pihak UI
Universitas Indonesia di bawah pimpinan Prof. Ari Kuncoro telah mengeluarkan dan melanjutkan berbagai macam kebijakan di paruh pertama 2020 ini. Langkah penyesuaian UI dalam menyelenggarakan PJJ akibat pandemi Covid-19 juga mendorong adanya kebijakan baru, seperti penetapan UKT selama pandemi. Ketidakpuasan responden terkait penetapan UKT selama pandemi timbul karena kebijakan tersebut dirasa tidak menunjukkan itikad baik pihak kampus untuk menurunkan biaya UKT. Hal ini juga diperkuat dengan tidak adanya transparansi data terkait alokasi dana UKT. Penurunan UKT menjadi harapan utama responden sebagai tindakan solutif kampus dalam membantu mahasiswa yang terdampak perekonomiannya akibat pandemi.
Mayoritas responden memberikan kritik/saran terkait kebijakan UKT dan fasilitas PJJ yang disediakan oleh UI. Dari berbagai respons tersebut, responden menginginkan adanya keberpihakan kampus dalam menurunkan UKT secara merata. Selanjutnya, mahasiswa dapat menerima kebijakan UKT yang tidak kunjung turun apabila terdapat transparansi data dan itikad baik dari pihak kampus untuk memperbaiki server SIAK-NG UI dan EMAS UI.

Berikut adalah beberapa kritik maupun saran yang disampaikan oleh responden:
“Saya akan sangat menghormati UI apabila ada kebijakan keringanan UKT dan perbaikan server SIAK dan EMAS”
“….Dan seharusnya untuk penurunan UKT merata untuk semua mahasiswa yang menginginkannya (tanpa syarat). Atau setidaknya dengan tetapnya biaya UKT maka server SIAK-NG dan EMAS harus sangat ditingkatkan. Jangan sampai eror saat banyak yang mengakses. Itu sudah tanggung jawab kampus untuk membuat server bisa diakses semua orang. Kalau masih parah seperti sekarang maka kami merasa sangat dirugikan padahal biaya operasional yang harus dikeluarkan kampus sudah berkurang signifikan. Terima kasih”
“Lebih transparan dan berpihak pada mahasiswa. jangan lupa janji-janji yang diucapkan pas pemilihan rektor:)”
“Tolong disesuaikan dengan keadaan sosial, ekonomi masyarakat umum. Berhemat, tekan pengeluaran, sehingga mahasiswa mahasiswa yang kesulitan bisa dibantu”
Teks: Tim Litbang Suma UI
Desain: Ika Madina dan Syarifah N. A
Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas
Kontributor