Logo Suma

Rektor UI: Deadline Seperti Cinta Sejati

Redaksi Suara Mahasiswa · 15 Februari 2026
2 menit

Universitas Indonesia (UI) melaksanakan Wisuda Program Sarjana dan Pendidikan Vokasi Semester Gasal 2025/2026 pada Sabtu (14/2) di Balairung UI. Dalam wisuda kali ini, UI mengumumkan sebanyak 2.057 wisudawan dinyatakan lulus. Tercatat 658 orang mendapat predikat cum laude dan 77 orang mendapat predikat summa cum laude. Muhammad Dipa Resfalfillah, salah satu mahasiswa dari Fakultas Kedokteran (FK) berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yaitu 4.00.

Melalui pidato pembukanya, Rektor UI Heri Hermansyah, menyebutkan proses wisuda merupakan kolaborasi cinta. Hal itu tercermin dari doa orang tua, dedikasi dosen, persahabatan yang saling menguatkan, dan kerja keras para wisudawan. Ia juga menuturkan bahwa hubungan paling intens selama masa perkuliahan bukan hanya dengan teman atau dosen pembimbing, melainkan juga dengan deadline.

“Dan seperti cinta sejati, deadline itu selalu datang meskipun kita belum siap. Namun, hari ini, semua perjuangan itu terbayar lunas,” tuturnya.

Tak hanya diisi oleh pidato Heri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, turut membawakan orasi ilmiah. Sebagai mantan dosen S-3 di UI, Purbaya tidak ragu untuk menyentil budaya aktivisme di kampus kuning tersebut.

“Kalau jadi mahasiswa, gampang. Ada ketimpangan, turun ke jalan, ribut, selesai. Tapi, sekarang Anda tidak bisa begitu lagi,” ucapnya di hadapan para wisudawan. Secara terang-terangan, ia meminta para wisudawan untuk mengubah pola pikir dari pengkritik menjadi pelaku sistem.

Lebih lanjut, Purbaya juga meminta agar para wisudawan “mengajari” mahasiswa untuk tidak banyak memberikan protes. "Nanti Anda yang akan diprotes oleh BEM-BEM di bawah Anda. Jadi, kalau Anda cerdas, ajarin mereka ke depan[nya] jangan banyak protes, belajar aja, gitu. Supaya Anda nanti nggak diprotes," ujarnya.

Tantangan dalam Peraihan Gelar

Di balik seluruh rangkaian acara, cerita perjuangan mahasiswa tetap menjadi bagian penting dari proses wisuda. Fanny dan Najwa, wisudawan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), sepakat bahwa proses menyelesaikan studi jauh lebih menantang dibandingkan tahapan seleksi masuk.

“Lebih susah keluar, perjalanannya belum selesai dan masih panjang," ungkap Najwa, mengingat beban koas yang masih menanti.

Di sisi lain, Fanny menambahkan bahwa penyusunan tugas akhirnya tentang kesehatan oral atlet disabilitas juga menghadapi tantangan. Minimnya pembaruan data nasional memperpanjang proses penyelesaian studi.

Kisah serupa datang dari Georgius Andrew Wijaya, mahasiswa Fakultas Psikologi yang berhasil menyelesaikan studinya dalam tujuh semester. Ia mengungkapkan tantangan utama selama perkuliahan adalah membagi waktu antara kegiatan akademik dan organisasi. Dosen pembimbing yang sibuk juga turut andil dalam menghambat penyusunan tugas akhir.

"Struggle-nya di bimbingan, dosen pembimbing aku agak sibuk jadi harus aku kejar terus," ungkapnya. Ia berpesan agar mahasiswa yang belum lulus tidak hanya mengejar nilai. Namun, juga aktif berorganisasi sebelum kesempatan itu tertutup dunia kerja.

Teks: Arinta Kusuma Ramadhani Nurhidayati, Zalfa Izzah Kamila

Editor: Alya Putri Granita

Foto: Zalfa Izzah Kamila

Desain: Raissa Salsabila Azalia

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!