Logo Suma

Relevansi Kehadiran BEM UI: Mahasiswa Perlu Wadah Mengadvokasi Permasalahan

Redaksi Suara Mahasiswa · 27 November 2021
2 menit · - kali dibaca
Relevansi Kehadiran BEM UI: Mahasiswa Perlu Wadah Mengadvokasi Permasalahan

Pada Jumat (26/11) sejak pukul 18:20 WIB, Pemira IKM UI kembali mengadakan eksplorasi terhadap Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2022, Bayu Satria Utomo mahasiswa Ilmu Politik 2018 bersama dengan Arinny Shafira Khairunisa mahasiswa Kedokteran Gigi 2018 melakukan sesi eksplorasi ini bersama dengan IKM UI rumpun Soshum. Kesempatan ini membawa para IKM UI Soshum menanyakan langsung pandangan dan program BEM UI 2022 kepada peserta.

Program Kampus Merdeka menjadi salah satu permasalahan yang muncul pada awal sesi eksplorasi ini yang diajukan oleh Ryan, salah seorang mahasiswa FIB. “Aku memandang (Kampus Merdeka-Red) sebagai kesempatan yang baik bagi Universitas Indonesia,” ujar Arinny. Ia pun menilai adanya Gerakan UI Mengajar yang merupakan adaptasi Dirmawa dan BEM UI dapat dikembangkan lebih lanjut bagi mahasiswa tingkat akhir. “Dari sinilah, kita melihat adanya potensi integrasi antara program Kampus Merdeka dengan BEM UI,” lanjutnya.

Bayu turut menyampaikan pandangannya terkait program yang diusung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tersebut. “Menurut saya, (Kampus Merdeka-Red) jadi satu hal yang perlu kita kawal, misalnya tadi tentang evaluasi Kampus Merdeka. Karena ya itu tadi, perusahan-perusahaan kecil gitu, perusahaan-perusahaan yang emang survive, UMKM [...] pemberdayaannya perlu di masa pandemi ini. Sebenarnya, menurut saya, bisa masuk ke ranah Kampus Merdeka,”

Keresahan terkait pelayanan Badan Konseling Mahasiswa (BKM) UI pun disampaikan oleh penanya, yakni Malik Harahap yang berasal dari FISIP UI 2018. Menanggapi hal tersebut, Arinny mengungkapkan memang terdapat perbedaan layanan yang bergantung pada ringan tidaknya kasus tersebut. Apabila kasus yang dialami masih tergolong ringan, follow up yang diberikan oleh BKM cenderung lebih lama, sedangkan apabila kasusnya dirasa cukup berat itu bahkan satu minggu ke depannya sudah bisa mendapatkan jadwal.

“Kita pada saat ini, di tahun ini, sedang mengupayakan adanya peer counselor yang memang terintegrasi. Jadi, misalnya di setiap fakultas memiliki peer counselor-nya masing-masing,” ia menegaskan. Selain itu, Arinny menambahkan bahwa pihak BEM UI sedang mengadakan audiensi kepada Klinik Satelit UI terkait penyingkatan waktu terhadap waiting list tersebut agar lebih cepat mendapat penanganan.

Relevansi adanya BEM UI sebagai salah satu organ penting pun tak pelak menjadi sebuah singgungan dalam sesi eksplorasi kali ini. Bayu menganggap bahwa BEM adalah wadah yang digunakan mahasiswa untuk mengaktualisasi diri. Bayu menganalogikan bahwa BEM itu seperti tempat belajar dan laboratorium karena mahasiswa bisa mencoba banyak hal di BEM. Jadi, BEM memang harus ada karena BEM menghasilkan output untuk mengembangkan mahasiswa, baik kegiatan kemahasiswaan, kegiatan di luar akademis.

Ia berpendapat bahwa BEM UI sangat berpengaruh terhadap advokasi mahasiswa untuk menangani permasalah yang terjadi pada mahasiswa. “Perlu ada wadah untuk mengadvokasikan itu (permasalahan-Red). Perlu ada wadah di mana menghimpun permasalah-permasalahan yang akhirnya menjadi masalah bersama,” terangnya.


Teks: Siti Sahira Aulia

Foto: Siti Sahira Aulia

Editor: Giovanni Alvita

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap