
Judul : Dangal
Sutradara : Nitesh Tiwari
Produser : Aamir Khan
Genre : Drama, Biografi, Olahraga
Tahun Rilis : 2016
Durasi : 161 menit
Pemain : Aamir Khan, Fatima Sana Shaikh, Sanya Malhotra
Bahasa : India
Berdasarkan Kisah Nyata : Keluarga Phogat
Pendapatan Box Office : ± $300 juta
Di banyak masyarakat, olahraga kerap dilekatkan pada maskulinitas, dengan tubuh perempuan sering kali dibatasi oleh norma, tradisi, dan ekspektasi sosial yang mengurung mereka di ranah domestik atau mengekang aktivitas fisik yang intens. Film Dangal hadir sebagai narasi sinematik yang kuat untuk merepresentasikan perjuangan perempuan untuk mendobrak batasan menuju ruang kompetisi yang setara lewat olahraga gulat.
Kisahnya mengikuti perjalanan Mahavir Singh Phogat, mantan pegulat nasional India yang semula kecewa karena tak memiliki putra untuk meneruskan ambisinya meraih emas internasional. Namun, pandangannya berubah drastis ketika ia menyadari potensi gulat pada kedua putrinya, Geeta Phogat dan Babita Kumari.
Dalam budaya patriarki yang mengakar di India, gulat bukanlah olahraga yang umum ditekuni perempuan. Namun, keyakinan sang ayah pada bakat Geeta dan Babita mendorong keputusan berani untuk melatih keduanya sebagai atlet, langkah yang memicu penolakan dan ejekan warga desa yang masih kukuh memegang nilai patriarkal. Rambut mereka dipangkas pendek. Pakaian pun dibuat menyerupai anak laki-laki sebagai penanda hidupnya sistem patriarki yang menempatkan ayah sebagai kepala keluarga dengan otoritas penuh dalam menentukan keputusan.
Seiring waktu, kemampuan keduanya pun membawa mereka dari turnamen nasional hingga ke kancah internasional. Cerita mencapai puncaknya di Commonwealth Games, di mana Geeta berjuang di pertandingan final untuk meraih medali emas, bukan semata untuk dirinya atau sang ayah, melainkan sebagai lambang kemenangan bagi jutaan perempuan India yang dibatasi oleh stereotip dan diskriminasi.
Dangal secara fundamental menyentuh isu kesetaraan kesempatan bagi perempuan, terutama di ranah yang lama didominasi laki-laki: olahraga gulat. Film ini menegaskan hak perempuan untuk terlibat dalam olahraga dan menantang anggapan bahwa mereka semata-mata ditakdirkan bagi peran domestik. Meski demikian, upaya tersebut berhadapan dengan struktur sosial yang membatasi. Dalam kultur patriarki, perempuan kerap ditempatkan sebagai subordinat sehingga Geeta dan Babita harus bekerja lebih keras demi pengakuan.
Gagasan Simone de Beauvoir bahwa perempuan dibentuk oleh konstruksi sosial terasa relevan dengan representasi identitas dalam film tersebut. Citra perempuan sebagai sosok lemah dan patuh memperlihatkan bagaimana norma patriarki membingkai gender. Sejumlah adegan—pemangkasan rambut, penggunaan kostum gulat, latihan fisik yang disiplin, hingga kehadiran perempuan di arena pertandingan—menjadi simbol perlawanan dan pembongkaran standar feminitas tradisional demi ruang yang setara. Melalui penggambaran ini, film telah mampu mengkritik ketidaksetaraan gender di India dan berpotensi mengubah cara pandang masyarakat.
Film Dangal menonjol sebagai salah satu karya sinema India yang paling mendapat pengakuan berkat kualitas produksinya. Kekuatan utama film ini tampak pada performa para pemain, terutama Aamir Khan dalam perannya sebagai Mahavir Singh Phogat. Diadaptasi dari kisah nyata, film ini menghadirkan drama yang menyentuh tanpa kehilangan pijakan realisme, sekaligus membawa pesan kesetaraan gender yang relevan melampaui batas negara.
Meski memiliki banyak kelebihan, beberapa aspek dapat terasa kurang. Durasi yang panjang serta sentuhan adegan melodramatis mungkin terasa melelahkan bagi sebagian penonton. Fokus cerita yang dominan pada figur ayah juga menggeser eksplorasi perspektif Geeta dan Babita sebagai atlet. Inilah bagian paling reflektif dari Dangal. Pertanyaan sentralnya adalah: apakah kebebasan dan pilihan itu benar-benar murni milik Geeta dan Babita, ataukah itu proyeksi ambisi Mahavir Singh Phogat? Mahavir mengambil keputusan tanpa musyawarah dengan keluarga, bahkan mengabaikan pandangan istrinya.
Dalam dinamika kontrol versus pemberdayaan, film ini menunjukkan bahwa meskipun tujuan akhirnya adalah memberdayakan putri-putrinya melalui gulat, cara Mahavir mencapainya sarat akan kontrol patriarkal. Dominasi patriarki juga tampak dalam dialog dan teknik sinematografi yang menempatkan laki-laki sebagai figur superior. Di balik narasi pemberdayaan, film ini tetap memperlihatkan bagaimana ideologi patriarki belum sepenuhnya terlepas dari struktur penceritaan.
Terlepas dari berbagai catatan kritis, film ini menyampaikan pesan penting: perempuan bukanlah makhluk lemah, melainkan kerap dibatasi oleh ruang sosial yang belum memberi tempat bagi potensinya. Kesetaraan di sini bukan soal menggantikan laki-laki, melainkan soal membuka akses yang setara. Berasal dari Haryana, India, film ini menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak semata bersumber dari feminisme Barat. Ia menunjukkan agensi dan daya juang perempuan di negara berkembang yang mampu menembus batas budaya dan geografis. Kesuksesan globalnya membuktikan bahwa isu kesetaraan gender di Global South memiliki resonansi universal. Dengan demikian, Dangal adalah sebuah karya yang layak diapresiasi sekaligus dikritisi atas representasi gender yang berlapis di dalamnya.
Penulis : Clarissa Aldora Simamora
Editor : Huwaida Rafifa Yumna
Foto : Istimewa
Pers Suara Mahasiswa
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
REFERENSI
Adira, M., & Sari, W. P. (2018). Representasi Perempuan dalam Film Dangal Karya Disney dan Aamir Khan Productions. Koneksi, 2(2), 472–478.
Munaris, & Nugroho, J. S. (2021). Feminisme eksistensialis dalam novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma. Litera Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 20(2), 299-312. https://doi.org/10.21831/ltr.v20i2.42226
Minah, N., & Kumari, F. (2021). Film Dangal dalam Analisis Jacques Derrida. Ilmu Ushuluddin, 20(2), 146–158.
Harahap, N. Y. A., Harahap, N., & Abidin, S. (2023). Analisis Semiotika John Fiske dalam Ketidaksetaraan Gender pada Film Dangal 2016. SIBATIK JOURNAL, 2(4), 1118–1126. https://doi.org/10.54443/sibatik.v2i4.725
De Beauvoir, S. (2011). The second sex (C. Borde & S. Malovany-Chevallier, Trans.). Vintage Books. (Original work published 1949)