Logo Suma

Resensi Lubang yang Menggerogoti Hidup Seorang Ibu dalam If I Had Legs I’d Kick You

Redaksi Suara Mahasiswa · 8 Maret 2026
2 menit

Judul Film: If I Had Legs I’d Kick You

Sutradara: Mary Bronstein

Produser: Sara Murphy, Ryan Zacarias, Ronald Bronstein, Josh Safdie, Eli Bush, Conor Hannon, Richie Doyle

Genre: Komedi, drama, thriller

Tanggal/Tahun Rilis: 24 Januari 2025 (USA)

Durasi: 113 menit (1 jam 53 menit)

Pemain: Rose Byrne, Conan O’Brien, A$AP Rocky, Danielle Macdonald, Delaney Quinn, Christian Slater

If I Had Legs I’d Kick You adalah sebuah film tentang Linda, seorang ibu sekaligus terapis yang diperankan oleh Rose Byrne. Hari-harinya tersita untuk merawat anaknya yang sakit, sementara keadaan kian rumit akibat ketidakhadiran sang suami yang bekerja jauh. Saat ia merasa situasinya tak mungkin lebih kacau, salah seorang pasien kabur dari sesi terapi tanpa membawa bayinya. Film ini memotret perjuangan seorang perempuan dalam menyeimbangkan tanggung jawab sambil menghadapi berbagai rintangan seorang diri.

Film karya Mary Bronstein ini mengusung drama yang mengaduk emosi, menyoroti sosok ibu dengan segudang tanggung jawab pada ranah publik dan domestik. Penyakit sang buah hati membuat Linda dihantui oleh tagihan rumah sakit yang terus membengkak. Beban itu diperparah oleh persoalan-persoalan kecil yang muncul tiba-tiba, seakan cobaan tak pernah usai—termasuk rumah yang kebanjiran hingga memaksanya pergi dari tempat tinggalnya sendiri. Rentetan masalah dan tekanan yang datang tanpa jeda membuat hidupnya terasa jenuh dan menyesakkan. Ada kalanya ia memborong minuman beralkohol dan kembali menggunakan zat adiktif. Adegan demi adegan memperlihatkan bagaimana kehidupannya perlahan runtuh di hadapan penonton.

Tak hanya kisah hidupnya yang malang, penonton menyaksikan karakter Linda yang egois dan seolah abai pada kondisi anaknya, seperti meninggalkannya sendiri saat tengah malam atau memintanya masuk ke rumah sakit sendirian. Namun, kali berikutnya, penonton dapat melihat bahwa sejatinya Linda sangat menyayangi anaknya. Ia rela membeli hamster untuknya setelah menolak berkali-kali, berdebat dengan pengemudi mobil lain karena tabrakan yang terjadi membuat si anak menangis, dan terjaga pada malam hari untuk mengganti cairan yang dibutuhkan tubuh lemah anaknya. Penonton akan mengalami pergulatan batin melalui rangkaian peristiwa ini, soal bagaimana menempatkan Linda pada spektrum baik dan buruk.

Keunikan karya ini terletak pada cara setiap peristiwa dalam bingkai film dibangun hingga menimbulkan claustrophobic. Banyak adegan yang diisi oleh close-up shot ekspresi Linda. Walaupun performa Byrne terkesan halus dan tidak serta-merta eksplosif, penonton tetap dapat memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan Linda. Secara keseluruhan, akting Rose Byrne yang sangat realistis dan manusiawi berhasil untuk memerankan seorang perempuan yang tercabik-cabik hidupnya karena posisi yang harus ia isi.

Hal lain yang menarik adalah sosok anak yang wajahnya baru diperlihatkan pada adegan terakhir. Sepanjang hampir dua jam, penonton hanya melihat Linda mengantar ke rumah sakit, menyuapi, dan memeluknya tanpa pernah diperlihatkan raut sang anak. Pilihan ini membuat perhatian sepenuhnya tertuju pada Linda. Segala aspek lain dalam film hanya pemeran figuran dalam hidup Linda. Keputusan ini merupakan sesuatu yang luar biasa karena berhasil menonjolkan Linda sebagai tokoh utama dan penderitaannya sebagai fokus film.

Dengan penggambaran yang realistis tentang kehidupan perempuan yang merangkap sebagai ibu sekaligus pencari nafkah, If I Had Legs I’d Kick You layak ditonton semua kalangan. Meski dikategorikan sebagai drama—bahkan sesekali dibalut komedi—karya ini dipenuhi adegan yang menyesakkan dan menguras emosi. Sepanjang film, penonton mungkin merasa bingung dan frustrasi terhadap pilihan-pilihan Linda yang meninggalkan kesan mendalam: campuran kesal, letih, cemas, sekaligus secercah harapan. Namun, pada akhirnya ia mengingatkan penonton bahwa ibu juga manusia yang berhak merasa lelah. Mereka bukan hanya membutuhkan bantuan secara fisik, tetapi juga ruang untuk didengar kisahnya.

Penulis: Arinta Kusuma Ramadhani Nurhidayati

Editor : Huwaida Rafifa Yumna

Foto : Istimewa

Pers Suara Mahasiswa

Independen, Lugas, dan Berkualitas!