
Judul: Women from Rote Island
Sutradara: Jeremias Nyangoen
Produser: Rizka Shakira
Genre: Drama, isu sosial
Pemain: Irma Novita Rihi, Bani Sallum Ratu, Merlinda Dessy Adoe
Tahun rilis: 2023 di Busan International Film Festival dan 2024 di bioskop
Durasi: 1 jam 46 menit
Film Women from Rote Island bukanlah kisah yang menawarkan kelegaan; alurnya dipenuhi pusaran konflik yang mengitari tubuh dan hidup perempuan. Dari tekanan adat, pelecehan yang dianggap lumrah, pemerkosaan yang dinegosiasikan lewat forum musyawarah, hingga femisida yang lahir dari pembiaran bersama, film ini merajut rangkaian peristiwa yang semakin kelam. Perjalanan ini menyingkap kenyataan bahwa kehormatan komunitas dan kuasa patriarki lebih sering dilindungi ketimbang keselamatan perempuan.
Kisah ini langsung dibuka dengan rangkaian bumbu konflik. Abram—sosok suami, anak, sekaligus ayah—meninggal dunia. Orpa, sang istri, belum selesai memproses kehilangan ketika tekanan mulai berdatangan. Ibu mertua mendesak agar pemakaman segera dilakukan demi menjaga martabat adat, sedangkan Orpa ingin menunggu kepulangan Martha, putri sulung mereka, untuk memenuhi pesan terakhir sang suami. Perdebatan yang tampak sederhana itu justru memperlihatkan pola kuasa secara gamblang bahwa keputusan istri atas tubuh pasangannya tetap harus tunduk pada kendali struktur adat. Dalam konteks ini, duka tidak berdiri sebagai ruang personal, tetapi segera diseret ke dalam kepentingan kolektif yang menyisakan sedikit tempat bagi Orpa.
Kepulangan Martha dari Malaysia dengan perubahan sifat menambah lapisan masalah. Ia tiba dengan tatapan kosong, respons yang tidak selaras, dan ledakan emosi yang tiba-tiba sehingga menimbulkan segelimang pertanyaan. Kejanggalan itu tampak ketika ia mandi tanpa busana di pantai seusai pemakaman. Lalu, keanehan kembali muncul saat Martha bereaksi panik hingga histeris ketika seorang paman dari keluarga Orpa datang. Film ini tidak menjelaskan secara verbal apa yang terjadi kepada Martha saat di perantauan sebagai pekerja migran, tetapi membiarkan tindakan Martha yang berbicara perkara trauma dan pintalan luka. Nahasnya, respons tersebut dibaca sebagai penyimpangan, bukan sebagai sinyal trauma oleh masyarakat. Orpa bahkan harus meminta maaf agar sang paman tidak tersinggung. Pada titik ini, film menegaskan bahwa pemulihan martabat laki-laki lebih diprioritaskan daripada pemahaman atas trauma perempuan.
Rangkaian kekerasan berikutnya bermula dari pelecehan kepada Martha. Di tengah situasi mendesak, perlawanan Martha berakhir dengan mengejar pelaku hingga membakar rumah persembunyiannya—sebuah upaya mempertahankan martabat di tengah ketidakberdayaan. Namun, penyelesaian masalah ini kembali tidak berpusat pada korban.
Musyawarah adat digelar. Angka-angka kerugian material akibat kebakaran dibahas rinci, dan negosiasi ganti rugi berjalan lebih sistematis daripada pembicaraan tentang kekerasan seksual itu sendiri. Dalam forum tersebut, Orpa bahkan disudutkan karena kemalangan yang menimpanya terjadi karena pernah keluar rumah sebelum suaminya dimakamkan. Adat dijadikan alat koreksi terhadap perempuan, sementara pelaku kekerasan tetap memiliki ruang untuk diperlakukan sebagai bagian dari komunitas yang harus dijaga.
Setelah pertemuan tersebut, Martha harus dipasung di gubuk dengan alasan keamanan. Tidak ada akses layanan kesehatan mental, tidak ada pendampingan hukum, hanya pemasungan. Dalam kondisi terikat dan terisolasi itulah pemerkosaan terhadap Martha kembali terjadi, berulang, dan dilakukan oleh lelaki yang tidak dikenal. Pengulangan adegan tersebut bukan eksploitasi visual, melainkan cara film menekankan bahwa bagi korban, kekerasan tidak berhenti pada satu kejadian. Kehamilan Martha disadari Bertha, adiknya, saat memandikan sang kakak. Kemudian, keluarga memilih menutupi, sebab sadar bahwa stigma sosial akan lebih kejam daripada dukungan yang tersedia.
Situasi memuncak saat terjadi femisida brutal kepada salah satu perempuan yang merupakan hasil dari serangkaian pembiaran. Ketika kekerasan sebelumnya tidak pernah ditangani secara tuntas, keberanian para pelaku pelecehan meningkat. Kejadian ini membuat Orpa frustrasi. Dari rasa frustrasi itu, ia menginisiasi demonstrasi dengan para perempuan lain menuju kantor polisi.
Film ini tidak tergesa-gesa dalam menyusun ratapan berbagai tragedinya, tetapi memperlihatkan satu per satu bagaimana kekerasan tumbuh dari hal yang dianggap kecil, dibiarkan, dinegosiasikan, hingga menjadi kebrutalan. Penderitaan perempuan dalam cerita ini bukan hasil kebetulan, melainkan konsekuensi dari patriarki yang dilegitimasi oleh adat, penegakan hukum yang longgar, dan budaya diam yang mengutamakan harmoni semu. Dalam konteks itu, kalimat “manusia lahir dari kelamin yang berdarah” yang dilontarkan oleh Orpa bukan ungkapan emosional, melainkan fakta sosial yang getir: masyarakat lahir dari tubuh perempuan, tetapi berkali-kali gagal memberikan perlindungan kepada perempuan.
Film ini pun unggul dalam konsistensi tema dan keberanian menampilkan kekerasan seksual, femisida, serta tekanan adat tanpa kompromi, dengan kritik sosial yang tajam terhadap budaya musyawarah yang lebih sibuk menjaga harmoni daripada melindungi korban. Representasi trauma yang minim dialog terasa kuat dan simbol-simbol visualnya efektif memperdalam makna sehingga film ini relevan dan menggugah secara struktural.
Namun, intensitas kekerasan yang repetitif berisiko melelahkan penonton, pendalaman karakter pelaku kurang kompleks karena lebih difungsikan sebagai simbol kejahatan sistemik, dan ritme bagian akhir terasa padat sehingga beberapa momen emosional tidak sepenuhnya terolah. Meski demikian, ketidaknyamanan yang ditimbulkan justru menjadi kekuatan utama film. Karya ini berani menunjukkan kritik tajam terhadap terjadinya kekerasan terhadap perempuan yang masih marak, terutama di Indonesia. Namun, tidak semua penonton akan menerima ketidaknyamanan tersebut sehingga tidak disarankan apabila penonton tidak nyaman dengan peringatan pemicu dalam film.
Penulis : Nadya Putri Deviana A.
Editor : Huwaida Rafifa Yumna
Foto : Istimewa
Pers Suara Mahasiswa
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor