
1. Pembukaan
World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa makanan merupakan kebutuhan utama yang dibutuhkan oleh manusia, kapan pun dan dimana pun. Oleh sebab itu, penting untuk mempertimbangkan dampak dan pengaruh makanan yang kita makan terhadap tubuh kita–apakah makanan tersebut dapat memberikan manfaat yang baik atau justru sebaliknya (Ratih, dkk., 2022).
Makanan yang sehat merupakan makanan yang mengandung gizi, mengandung serat, dan berbagai zat lainnya yang diperlukan oleh tubuh dalam proses tumbuh-kembang (Trisnasari, 2008). Selain itu, menurut (Andrianto, 2014) makanan sehat adalah makanan yang memiliki berbagai zat yang dibutuhkan oleh tubuh dan harus mempunyai beberapa syarat, di antaranya (1) higienis; (2) bergizi; dan (3) berkucupan. Kementerian Kesehatan (2013, 2019) menyatakan bahwa pola makan yang sehat dan bergizi juga harus diiringi dengan pencapaian Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian sesuai dengan batasan konsumsi Garam, Gula, Lemak (GGL) harian. Pola makan yang sehat dan bergizi tidak hanya penting untuk memastikan masyarakat yang sehat, tetapi juga memastikan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
Di sisi lain, pola hidup dengan konsumsi makanan yang kurang gizi dan tidak sehat dapat menjadi berbagai sumber penyakit dan terhambatnya tumbuh kembang manusia. Berbagai penelitian (lihat Dewi, et. al.; 2022; Chamidah, 2009; Dewi & Aminah, 2016; Baroroh, 2022; Angraini, et. al.; 2022; Pamelia, 2018) menunjukkan bahwa pola makan yang tidak bergizi dan sehat dapat menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari malnutrisi, stunting, terhambatnya tumbuh kembang, diabetes, stroke, hingga kematian.
Salah satu kelompok yang rentan akan pola makan yang tidak sehat dan tidak bergizi adalah mahasiswa. Penelitian menunjukkan (lihat Wongprawmas, dkk., 2022; Damayanti & Ruhayati, 2020) bahwa mahasiswa cukup rentan akan pola makan yang tidak teratur dan terjebak pada gaya hidup yang tidak sehat, seperti bergantungan pada makanan siap saji dan kekurangan asupan gizi yang cukup.
Untuk melihat kenyataan pola makan sehat dan bergizi pada mahasiswa, penelitian ini berfokus untuk meneliti kesadaran dan tantangan mahasiswa Universitas Indonesia dalam mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Penelitian ini bertujuan antara lain untuk mengungkapkan persepsi mahasiswa aktif sarjana Universitas Indonesia akan pola makan sehat dan bergizi serta tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan pola makan sehat dan bergizi di Universitas Indonesia.
2. Metode dan cakupan penelitian
Penelitian ini menggunakan metode campuran. Pertama, dilakukan penelitian analisis deskriptif terhadap literatur kesehatan mengenai pola makan sehat dan bergizi. Kemudian, dilakukan penelitian kuantitatif dengan mengumpulkan data primer menggunakan metode pengambilan sampel acak pada 103 mahasiswa sarjana aktif Universitas Indonesia menggunakan kuesioner Google Form. Pada kuesioner tersebut, disajikan 25 bagian pertanyaan yang kemudian dianalisis untuk menemukan persepsi, kesadaran, dan tantangan pola makan sehat dan bergizi bagi mahasiswa Universitas Indonesia.
3. Kesadaran Mahasiswa dalam Mengonsumsi Makanan yang Sehat
Mengonsumsi makanan yang sehat merupakan elemen krusial bagi kesehatan manusia. Hal itu tidak lain karena dengan mengonsumsi makanan yang sehat dalam jumlah yang tepat dan komposisi yang sesuai, hal itu dapat mencegah berbagai macam penyakit (Steinmetz & Potter, 1996; dalam Damayanti & Ruhayati, 2020). Bagaimanapun, terdapat berbagai faktor dan tantangan yang dapat memengaruhi kepatuhan seseorang untuk menjalankan pola makan yang sehat.
Mahasiswa berada pada masa transisi dari remaja menuju dewasa dan mulai terlepas dari pengawasan orang tuanya (Nelson, et al., 2008; dalam Damayanti & Ruhayati, 2020). Dengan kata lain, mahasiswa mulai memasuki masa transisi yang “kritis” karena harus mengatur kebiasaan dan kehidupannya sendiri, salah satunya adalah mengatur pola makannya (Wongprawmas, dkk., 2022). Sebagian besar mahasiswa di Indonesia tinggal di kontrakan atau indekos, terpisah jauh dari rumah orang tuanya. Hal tersebut berdampak signifikan terhadap pola makan mahasiswa dan berpotensi memengaruhi kondisi kesehatannya dalam jangka panjang.
Dalam masa ini, terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat mahasiswa dalam menerapkan pola makan yang sehat dan bergizi, di antaranya (1) faktor personal (keinginan, selera, persepsi), dan (2) faktor objektif (lingkungan atau budaya) (Wongprawmas, dkk., 2022). Sehubungan dengan itu, upaya untuk mengonsumsi makanan yang sehat di kalangan mahasiswa juga seringkali dibenturkan oleh beberapa tantangan, seperti budaya makanan dari daerahnya masing-masing, tekanan sosial, kebiasaan atau gaya hidup, dan mahalnya harga makanan yang sehat.
4. Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian
Untuk menjalani hidup yang sehat, masyarakat Indonesia dianjurkan untuk memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Secara definitif, AKG merupakan nilai yang menunjukkan kebutuhan rata-rata zat gizi, seperti kecukupan energi, protein, lemak, karbohidrat, serat, yang harus dipenuhi setiap harinya.
Pada lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia, terdapat tiga kategori target AKG harian: yaitu target Angka Kecukupan Kecukupan Energi, Protein, Lemak, Karbohidrat, Serat, dan Air; Angka Kecukupan Vitamin, dan Angka Kecukupan Mineral.
5. Pentingnya pencapaian AKG harian dan pola makan yang seimbang
Kurangnya konsumsi makanan-makanan yang memenuhi AKG harian memiliki pengaruh negatif terhadap perkembangan tubuh, mulai dari hambatan pertumbuhan (stunting), hingga malnutrisi (Dewi, et. al.; 2022; Chamidah, 2009; Dewi & Aminah, 2016; Baroroh, 2022; Angraini, et. al.; 2022). Di sisi lain, konsumsi makanan yang berlebihan juga memiliki dampak yang negatif terhadap kesehatan. Pamelia (2018) mencatat bahwa beberapa perilaku konsumsi makanan yang berlebihan memiliki dampak negatif terhadap kesehatan tubuh, seperti:
Oleh karena itu, pola diet atau kebiasaan makan yang sehat merupakan kebiasaan makanan yang seimbang; tidak kurang dan tidak lebih. Pencapaian pola diet yang seimbang dan sehat dapat dicapai melalui konsumsi makan-makanan sehat sesuai dengan AKG yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan (2019), seperti dengan mengonsumsi lauk nabati, sayur, buah, dan/atau minuman terutama susu dengan moderasi dan sesuai dengan takarannya. Selain itu, Kementerian Kesehatan, melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia No. 30 Tahun 2013 Pasal 4, menganjurkan masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi gula tidak lebih dari 50 gram (setara dengan 4 sendok makan) per orang per hari, natrium atau garam tidak lebih dari 2.000 miligram (setara dengan 1 sendok teh) per orang per hari, dan lemak total tidak lebih dari 2.000 miligram (setara dengan 5 sendok makan) per orang per hari. Hal tersebut ditujukan untuk menghindari risiko hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung.
Pemenuhan AKG harian yang sesuai dengan target yang dianjurkan memiliki peranan yang sangat penting terhadap upaya perbaikan gizi pada masyarakat Indonesia dan kemajuan bangsa. Secara fisiologis, pencapaian AKG harian sesuai dengan target yang dianjurkan menunjukkan korelasi yang positif terhadap kecerdasan anak (Dewi, et. al.; 2022), (Chamidah, 2009); pencegahan hambatan pertumbuhan (stunting) pada anak dan remaja (Dewi & Aminah, 2016), (Baroroh, 2022); hingga pencegahan malnutrisi pada anak (Angraini, et. al.; 2022).
Secara konstitusional, pencapaian AKG harian sesuai dengan target yang dianjurkan dilandaskan melalui amanat pada Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Undang-Undang tersebut meyakini bahwa setiap kegiatan pembangunan harus dilandasi dengan wawasan kesehatan; di mana kesehatan itu sendiri merupakan hak asasi manusia yang harus diwujudkan, sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Upaya memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan bertujuan untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing.
6. Demografi responden Universitas Indonesia
Gender
Penelitian ini dilakukan dengan teknik random sampling terhadap responden yang terdiri dari 103 mahasiswa aktif tingkat sarjana Universitas Indonesia. Untuk demografi gender, responden disediakan pilihan untuk mengidentifikasi diri sebagai perempuan, laki-laki, memilih untuk tidak menjawab, atau pilihan lainnya. Dari 103 responden; 75 responden (72,8%) mengidentifikasi diri sebagai perempuan, 24 responden (23,3%) mengidentifikasi diri sebagai laki-laki, dan 4 responden (3,9%) memilih untuk tidak mengidentifikasi gendernya.
Fakultas
Dari 103 responden, 32 responden (31%) berasal dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), 19 (18,4%) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), 8 (7,8%) dari Fakultas Teknik (FT), 7 (6,8%) dari Fakultas Hukum (FH), 6 (5,8%) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), 5 (4,9%) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), 5 (4,9%) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), 5 (4,9%) dari Pendidikan Vokasi (Vokasi), 4 (3,9%) dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), 4 (3,9%) dari Fakultas Psikologi (FPsi), 3 (2,9%) dari Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK), 2 (1,9%) dari Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom), 2 (1,9%) Fakultas Kedokteran (FK), dan 1 (1%) dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG).
Angkatan
Untuk demografi angkatan, tersedia pilihan untuk memilih sebagai bagian dari angkatan 2023, 2022, 2021, 2020, dan 2019. Dari 103 responden, 41 responden (40%) berasal dari angkatan 2023, 13 responden (13%) berasal dari angkatan 2022, 21 responden (20%) berasal dari angkatan 2021, 24 responden (23%) berasal dari angkatan 2020, dan 4 responden (4%) berasal dari angkatan 2019.
Sebaran umur
Sebaran umur mahasiswa sarjana aktif Universitas Indonesia pada penelitian ini beragam. Dari 103 responden, 1 mahasiswa (0,9%) berumur 16 tahun, 11 mahasiswa (10,67%) berumur 17 tahun, 22 mahasiswa (21,35%) berumur 18 tahun, 20 mahasiswa (19,41%) berumur 19 tahun, 17 mahasiswa (16,50%) berumur 20 tahun, 26 mahasiswa (25,24%) berumur 21 tahun, 5 mahasiswa (4,85%) berumur 22 tahun, dan 1 mahasiswa (0,9%) berumur 23 tahun. Umur rata-rata responden adalah 19,39 tahun dengan modus 21 tahun.
7. Pembahasan
7.A. Belum sepenuhnya sadar akan pola makan sehat dan bergizi
Dari total 103 responden, 100% responden dari penelitian ini menjawab bahwa mereka sadar akan pentingnya makanan sehat dan bergizi. Meskipun begitu, kesadaran ini masih sebatas kesadaran pada permukaannya saja: Sebanyak 100% dari responden sadar akan dampak negatif konsumsi makanan tidak sehat dan bergizi dan 97% responden sadar mengenai pentingnya asupan harian vitamin dan mineral yang seimbang bagi tubuh.
Bagaimanapun, banyak dari responden masih belum sadar akan pentingnya pemenuhan beberapa kriteria lain dari pola makan sehat dan bergizi: sebanyak 67,96% dari responden penelitian masih belum mengetahui AKG hariannya dan 49,51% responden masih belum tau batasan harian konsumsi GGL mereka. Kedua aspek tersebut tak kalah penting dalam mewujudkan pola makan yang sehat dan bergizi, sebab pemenuhan vitamin, mineral, dan serat harian saja belum cukup untuk mewujudkan pola hidup yang sehat.
7.B. Pentingnya peran orang tua, media sosial, dan pemerintah
Relatif terhadap jumlah responden yang tidak sadar akan pentingnya AKG harian mereka, terdapat 68,1% suara yang menjawab bahwa ketidaktahuan mereka akan pentingnya AKG harian disebabkan oleh minimnya pembahasan mengenai pentingnya AKG harian oleh lingkungan sekitarnya. Begitu pula dengan responden yang tidak sadar akan batasan harian GGL mereka; relatif terhadap jumlah respondennya, terdapat 70% suara yang menjawab bahwa mereka tidak tahu akan batasan harian GGL mereka sebab topik tersebut jarang dibahas oleh lingkungan sekitarnya. Mengingat minimnya pembahasan dua aspek penting ini oleh masyarakat, terdapat tiga aktor kunci penyebaran informasi pola makan sehat dan bergizi yang berhasil diidentifikasi, yaitu anggota keluarga (18,79% dari total suara), unggahan media sosial (18,79% dari total suara), dan pemerintah (14,53% dari total suara).
7.C. Dorongan kuat menjalani pola makan sehat
Sebagian besar (97,1%) dari responden mengindikasikan keinginan untuk menjalani pola makan sehat dan bergizi. Dari skala 1 (paling tidak sehat) hingga 5 (paling sehat), rata-rata skor responden menunjukkan bahwa skala kesehatan makanan di UI dan sekitarnya berada pada angka 3,24. Artinya, terdapat persepsi bahwa makanan yang ada di UI dan sekitarnya cenderung namun belum sepenuhnya sehat.
Meskipun begitu, 2,9% dari responden belum ingin menjalani pola makan sehat dan bergizi. Sebagian besar dari mereka merasa terurungkan untuk menjalani pola makan sehat dan bergizi sebab makanan sehat dan bergizi harganya masih belum terjangkau (33%), tidak terdapatnya waktu yang cukup (33%), dan sulitnya akses untuk mendapatkan makanan sehat dan bergizi (16,6%).
7.D. Makanan murah dan bersih meski belum sehat dan bergizi
Responden umumnya memiliki perspektif positif terhadap makanan yang ada di UI. Sebagian besar dari responden mendeskripsikan bahwa makanan yang ada di UI bersifat bersih (18,87%), murah (18,11%), meskipun masih memiliki kadar GGL yang berlebihan (13,01%).
Meskipun belum sepenuhnya memuaskan, secara umum, terdapat persepsi bahwa makanan di UI sudah cenderung sehat; sebanyak 58,3% dari responden beranggapan bahwa makanan yang dijual di UI dan sekitarnya sudah sehat. Bagaimanapun, anggapan bahwa makanan di UI sudah sehat sebagian besar dilandaskan argumen bahwa makanan di UI dapat dijamin kebersihannya (37,6%). Di sisi lain, 41,7% responden yang merasa bahwa makanan di UI belum sehat menganggap bahwa makanan di UI masih memiliki kadar lemak yang berlebihan (20,43%); minim vitamin, mineral, dan serat (20,43%), dan belum mendukung untuk memenuhi target AKG harian mereka (18,24).
7.E. Antara tantangan dan peluang
Sebagian besar dari responden (81,6%) merasa bahwa masih ada tantangan untuk menjalani pola makan sehat dan bergizi di UI. Mereka umumnya menganggap bahwa variasi makanan sehat dan bergizi di UI masih minim (39,39%), harga makanan sehat masih belum terjangkau (29,09%), dan akses makanan sehat dan bergizi yang masih sulit (19,39%). Penemuan ini selaras dengan data 2,9% responden belum ingin menjalani pola makan sehat dan bergizi; faktor utama yang mengurungkan niat mereka dalam menjalani pola makan sehat dan bergizi adalah harganya masih belum terjangkau (33%), tidak terdapatnya waktu yang cukup (33%), dan sulitnya akses untuk mendapatkan makanan sehat dan bergizi (16,6%).
Meskipun demikian, terdapat kecenderungan bahwa tantangan tersebut tidak mengurungkan niat responden untuk menjalankan pola hidup sehat dan bergizi di UI. Dari skala 1 (merasa sama sekali tidak terurungkan) hingga 5 (merasa sangat terurungkan), rata-rata skor responden menunjukkan nilai 2,23 dalam skala pengurungan niat dalam menjalankan pola makan sehat dan bergizi. Artinya, para responden cenderung tidak terurungkan niatnya untuk menjalani pola makan sehat dan bergizi meskipun terdapat tantangan dalam mewujudkannya. Selain itu, sebagian besar dari para responden menyarankan Kantin Rumpun Ilmu Kesehatan sebagai kantin yang menyediakan pilihan makanan sehat dan bergizi di UI.
8. Saran dan kesimpulan
Meskipun hampir semua dari mahasiswa UI sadar akan pentingnya pola makan sehat dan bergizi, seiring dengan penemuan Wongprawmas, dkk., 2022; Sari, dkk., 2023; Damayanti & Ruhayati, 2020, sebagian besar (69,3%) dari mereka masih belum menyadari pentingnya pencapaian target AKG harian dan sebagiannya lagi (50,5%) masih belum sadar akan batasan konsumsi GGL harian mereka. Dua aspek tersebut berdampak tak kalah penting dalam mewujudkan pola makan yang sehat dan bergizi dan untuk menghindarkan masyarakat dari penyakit tak menular, seperti stunting, malnutrisi, diabetes, stroke, hingga kanker Ketidaksadaran mahasiswa UI akan pentingnya pencapaian target AKG harian dan batasan konsumsi GGL harian sebagian besar diakibatkan oleh minimnya pembahasan mengenai pentingnya kedua aspek tersebut dalam pola hidup sehat dan bergizi.
Selain ketidaksadaran tersebut, beberapa tantangan lain dalam mewujudkan pola makan sehat dan bergizi mahasiswa UI adalah minimnya variasi makanan sehat dan bergizi, mahalnya harga makanan sehat dan bergizi, dan sulitnya akses akan makanan bergizi akibat kurangnya waktu mahasiswa dalam menyiapkan makanan sehat dan bergizi.
Kendati demikian, tingginya kesadaran dan dorongan dari 97,1% mahasiswa UI untuk menjalani pola makan sehat dan bergizi membuka peluang dan kesempatan yang luas perwujudan pola makan sehat dan bergizi. Persepsi mahasiswa UI terhadap pola makan sehat dan bergizi masih sangat positif: dari skala 1 (merasa sama sekali tidak terurungkan) hingga 5 (merasa sangat terurungkan), skala pengurungan responden mahasiswa UI berada pada nilai 2,23 yang menunjukkan bahwa tantangan yang ada cenderung tidak akan mengurungkan niat mahasiswa UI untuk menjalani pola makan sehat dan bergizi. Dengan mempertimbangkan penemuan-penemuan yang ada, terdapat rancangan konkret untuk mewujudkan pola makan sehat dan bergizi di UI:
Tentunya penelitian ini bukan tanpa kekurangan. Penelitian suplementer, seperti penelitian kadar gizi melalui pengambilan sampel dari makanan-makanan yang dijual di UI dapat mendukung dan menyempurnakan penemuan pada penelitian ini. Selain itu, penelitian terhadap preferensi makanan mahasiswa UI juga dapat membantu pemangku kepentingan untuk memutuskan strategi lebih baik untuk mewujudkan pola makan sehat dan bergizi di UI dan membentuk SDM yang sehat dan berdaya saing tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Andrianto, Y. (2014). Makanan Sehat. Bandung: Panca Anugrah Sakti.
Angraini, D. I., Apriliana, E., Sari, M. I., & Suwandi, J. F. (2022). MODEL GIGA (PEMENUHAN GIZI KELUARGA) SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DAN MALNUTRISI. MINDA BAHARU, 6(1), 39-50.
Baroroh, I. (2022). Peningkatan Pengetahuan tentang Pemenuhan Gizi Remaja dan Edukasi Pencegahan Stunting. Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(2), 60-64.
Chamidah, A. N. (2009). Pentingnya Stimulasi Dini Bagi Tumbuh Kembang Otak Anak. Tumbuh Kembang Dan Kesehatan Anak, 1-7.
Damayanti, I., & Ruhayati, Y. (2020). Gambaran Konsumsi Gizi Mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan Universitas Pendidikan Indonesia. JTIKOR (Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan), 5(2).
Dewi, M., & Aminah, M. (2016). Pengaruh edukasi gizi terhadap feeding practice ibu balita stunting usia 6-24 bulan (the effect of nutritional knowledge on feeding practice of mothers having stunting toddler aged 6-24 months). Indonesian Journal of Human Nutrition, 3(1), 1-8.
Dewi, N. H., Zebua, R. F., & Suprapmanto, J. (2022, January). Pentingnya Pemenuhan Gizi Terhadap Kecerdasan Anak. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah(Vol. 1, pp. 16-21).
Pamelia, I. (2018). Perilaku konsumsi makanan cepat saji pada remaja dan dampaknya bagi kesehatan. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 14(2), 144-153.
Ratih, D., Ruhana, A., Astuti, N., & Bahar, A. (2022). ALASAN PEMILIHAN MAKANAN DAN KEBIASAAN MENGKONSUMSI MAKANAN SEHAT PADA MAHASISWA UNESA KETINTANG. Jurnal Tata Boga, 11(1).
Steinmetz, K. A., & Potter, J. D. (1996). Vegetables, fruit, and cancer prevention: a review. Journal of the American Dietetic Association, 96(10), 1027-1039.
Trisnasari, A. (2008). Makanan Sehat. Bandung: Panca Anugerah Sakti.
Wongprawmas, R., Sogari, G., Menozzi, D., & Mora, C. (2022). Strategies to Promote Healthy Eating Among University Students: A Qualitative Study Using the Nominal Group Technique. Frontiers in Nutrition , Vol. 9.
Teks: Qaulan M. Indra, Farhan Aonillah
Foto: Halodoc
Suara Mahasiswa UI 2024
Independen, Lugas dan Berkualitas