
Bagi orang muda, khususnya mahasiswa, Sabtu merupakan hari kegembiraan dan waktunya untuk bersenang-senang. Apalagi bagi mereka yang punya kekasih. Namun, hari Sabtu silam (2/5) 1998 bukanlah hari Sabtu biasa bagi mahasiswa Jakarta. Saat itu, mahasiswa Jakarta di berbagai tempat memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan melakukan aksi turun ke jalan. Mereka memilih untuk kembali menggugat dalang krisis ekonomi yang telah menimpa Indonesia sejak delapan bulan yang lalu.
Mereka merelakan hari kegembiraan demi menantang kekuasaan untuk bertindak mengatasi krisis yang tak kunjung usai. Mereka memilih untuk memancing amarah penguasa yang memiliki kepentingan untuk membuat orang muda terlena dan bergembira di hari Sabtu. Keteguhan antara kedua pihak membuat bentrokan berdarah menjadi tak terelakkan. Darah pun lantas bersimbah di kampus Akademi Bahasa Asing-Akademi Bahasa Indonesia (ABA-ABI) Matraman.
Tim Bergerak! mengikuti langsung bentrokan berdarah antara mahasiswa dengan aparat hari itu. Berikut laporan pandangan mata kami.
Kampus ABA-ABI yang terletak di perempatan Matraman Raya tampak tak seperti biasanya. Lokasi itu penuh dengan jaket warna-warni yang dikenakan mahasiswa Jakarta dari berbagai perguruan tinggi. Mereka berkumpul dan bersatu untuk meneriakkan gugatan-gugatan terhadap penguasa.
Di depan gerbang kampus itu juga tampak satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) pasukan Brigade Mobil (Brimob) Polri yang sedang berjaga-jaga di depan gerbang kampus. Sementara itu, di depan kantor Polsek Matraman yang kebetulan terletak di samping ABA-ABI, pasukan Brimob tersebut membuat lapisan baru.
Ketika Bergerak! masuk ke dalam kampus ABA-ABI sekitar pukul 11.45 WIB, sedang berlangsung mimbar bebas yang dihadiri sekitar 2.000 massa yang terdiri dari mahasiswa Universitas Indonesia, ABA-ABI, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Trisakti, Universitas Sahid, dan Institut Agama Islam Negeri. Tak sampai sepuluh menit, para mahasiswa yang tergabung dalam Forum Kota (Forkot) Jakarta mencoba untuk bergerak ke luar kampus. Mereka berencana menggelar longmarch menuju kampus Ul Salemba, berjarak kurang lebih 1 km dari Matraman yang juga tengah menjadi arena aksi mahasiswa.
Lagu Padamu Negeri dikumandangkan tatkala barisan mahasiswa mencoba menembus barisan aparat keamanan bersenjata lengkap yang berjaga di depan gerbang kampus. Sebelumnya, massa aksi sempat menembus lapisan pertahanan yang pertama. Namun, usaha tersebut langsung direspons dengan tendangan dan pukulan oleh pasukan yang berjaga pada lapisan yang kedua.
Situasi saat itu memperlihatkan mahasiswa-mahasiswa bak nyamuk yang disemprot cairan pembasmi serangga. Aparat menyemprotkan gas air mata sehingga massa menjadi kehilangan orientasi. Mata mereka sembab dan perih akibat intrusi gas beracun itu.
Namun, mahasiswa tetap bertahan sembari berusaha mendorong aparat untuk keluar dari kampus. Usaha tersebut membuahkan hasil. Beberapa perlengkapan petugas aparat tampak tertinggal di dalam kampus, seperti tameng, helm, dan tongkat pemukul. Aparat sempat terdesak dan berusaha untuk menghalangi usaha mahasiswa untuk menutup gerbang kampus. Mereka seperti gelap mata dan terlihat ingin meyakıti dibandingkan menjaga agar mahasiswa tidak ke jalan.
Sementara itu, terlihat dari arah kanan gedung, puluhan botol berterbangan ke arah petugas. Walau mahasiswa Ul tidak melempar botol-botol itu, aparat yang terlanjur emosi kemudian mengejar mahasiswa yang berjaket kuning. Lima orang jatuh, dua diantaranya mahasiswa UI. Salah seorang korban mengalami luka parah di kepalanya. Ia bernama Tata Mustasya, mahasiswa Fakultas Ekonomi Ul yang tersungkur dihantam tongkat aparat. Ia mengalami luka yang menganga di sebelah kiri kepalanya. Darah segar pun mengalir hingga melumuri jaket kuningnya. Di perjalanan menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkususmo yang terletak di belakang Fakultas Kedokteran UI, Tata dengan tegar menceritakan kronologi peristiwa yang dialaminya itu.
Jaket kuning Tata yang pada beberapa titik telah berlumuran dengan darahnya sendiri, kemudian dibawa ke depan dan diperlihatkan kepada seluruh massa aksi.
“Jaket kuning telah berdarah!” teriak seseorang yang tak kuasa menahan air matanya.
Beberapa korban mahasiswa lain alami pingsan akibat terkena semburan gas air mata yang ditembakkan dari jarak dekat. Tak lama berselang, perwakilan mahasiswa dari kampus ABA-ABI mencoba bernegosiasi dengan aparat untuk mengevakuasi korban. Aparat tampaknya masih curiga dengan mahasiswa, bahkan ambulan pun sempat dihalangi oleh mereka. Akhirnya, setelah mendengarkan penjelasan dari beberapa mahasiswa, ambulan diperbolehkan masuk dan membawa beberapa mahasiswa yang terluka menuju rumah sakit.
Bentrokan itu membuat rencana turun ke jalan dibatalkan. Aksi dilanjutkan dengan mimbar bebas oleh beberapa perwakilan mahasiswa. Sementara itu, di luar kampus, aparat tampak menambah jumlah personelnya dengan mendatangkan pasukan Unit Reaksi Cepat hingga berjumlah sekitar 30 orang.
Beberapa perwakilan mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan petugas untuk memulangkan mahasiswa. Di depan kampus, ternyata terdapat mahasiswa yang tidak mengenakan jaket almamaternya. Mereka lantas dikejar oleh puluhan aparat hingga terpaksa masuk ke gang kecil di depan kampus ABA-ABI. Dari kerumunan mahasiswa yang kocar-kacir, terlihat pula puluhan mahasiswi yang berjilbab berlari menghindari kejaran dan ayunan rotan dari aparat.
Penjuru Jakarta lain
Di daerah Rawamangun, 2 km dari Matraman, mahasiswa dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta juga mengadakan aksi. Mereka awalnya menggelar aksi di ruas Jalan Pemuda yang membuat aparat menutup Jalan Pramuka Raya di dekatnya. Ketika mahasiswa bersikeras untuk longmarch ke UI Salemba, aparat pun memaksa mahasiswa masuk kampus. Beberapa mahasiswa mencoba berlindung dari saluran air yang berada di depan kampus IKIP Rawamangun. Namun, aparat tetap merangsek mereka dengan rotan, pelontar gas air mata, dan bayonetnya sehingga mengakibatkan puluhan mahasiswa terluka parah. Tak kurang dari 5 mahasiswa terkena tembakan aparat. Lebih lagi, terdapat 29 korban yang langsung dikirim ke RS Persahabatan, RS St. Carolus, dan RS UKI.
Meski banyak korban yang berjatuhan, juru bicara polisi Metro Jakarta, Letkol. Edward Aritonang mengatakan bahwa saat itu tidak ada perintah untuk menembak mahasiswa.
Selain di Rawamangun dan Matraman, bentrokan pun terjadi di pojok-pojok ibu kota lain, seperti di kampus Universitas Pancasila Srengseng, Universitas Muhammadiyah Ciputat, UPN Veteran Pondok Labu, dan Universitas Budi Luhur Ciledug.
Hari Sabtu itu benar-benar bukanlah hari kegembiraan mahasiswa, sebab hari itu darah mahasiswa menetes di ibu kota.
Teks: Gus
Foto: Arsip Pers Suara Mahasiswa UI
Ilustrasi: Sabila Hasya Millatina
Editor: Choirunnisa Nur Fitria (penyunting ulang)
Pers Suara Mahasiswa
Independen, Lugas, dan Berkualitas!