Logo Suma

Safari Perdana IMAC 2025 Sorot Film sebagai Sarana Komunikasi Kritik Sosial

Redaksi Suara Mahasiswa · 16 November 2024
4 menit · - kali dibaca
Safari Perdana IMAC 2025 Sorot Film sebagai Sarana Komunikasi Kritik Sosial

Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) resmi memulai rangkaian safari (roadshow) ILUNI UI Movie Award Competition (IMAC) 2025 pada Kamis (14/11). Dengan berkolaborasi bersama UI Film Festival (UIFF), ILUNI UI melangsungkan safari perdana tersebut di Pusat Studi Jepang (PSJ) UI dalam bentuk penayangan film (film screening) dan gelar wicara (talkshow).

Sri Bandoro mengawali acara dengan menyampaikan sambutan pembuka. Dalam sambutannya, Pengarah Festival (Festival Director) IMAC itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan safari, terutama para pembuat film (filmmaker) yang filmnya akan tayang pada kegiatan safari ini.

Mahaputri Adinda sebagai Pengarah Festival UIFF turut memberikan sambutan pembuka. Adin membuka sambutannya dengan menjelaskan bahwa UIFF merupakan sebuah festival film tahunan oleh Sinematografi UI. Adapun UIFF 2024 telah berlangsung pada Oktober lalu. Meskipun demikian, IMAC UI tetap menggandeng UIFF dalam pelaksanaan safari perdana ini. Oleh karena itu, Adin mewakili Sinematografi UI berterima kasih kepada IMAC UI atas kesempatan itu.

“Sebenarnya, UIFF 2024 itu sudah dilaksanakan di bulan [Oktober] kemarin. Jadi, aku sangat berterima kasih dan sangat bersyukur [karena] diajak roadshow sama IMAC karena kami jadi punya kesempatan lagi untuk screening film di UI. Semoga hubungan baik antara Sinematografi UI dan ILUNI UI bisa terus berlanjut,” ujar Adin.

Setelah sambutan dari Bandoro dan Adin, agenda acara selanjutnya adalah penayangan film. Secara berurutan, penayangan ini memutar empat film, yaitu Laut Masih Memakan Daratan, Mother of The Sea, Rusa Jantan yang Kehilangan Tanduknya, dan Ojek Lusi. Secara keseluruhan, film buatan Afif Fahmi, Clarissa Ruth Nathan, Steven Austin Gemilang, dan Winner Wijaya tersebut bersama-sama mengangkat tema dari permasalahan-permasalahan di Indonesia.

Penayangan film selama kurang lebih 60 menit itu pun berlalu dan acara berlanjut ke sesi gelar wicara. Ryan Sebastian, Pengarah Program IMAC, menjadi moderator dalam gelar wicara ini. Dia memoderatori diskusi mengenai “Film sebagai Sarana Komunikasi” bersama dua narasumber, yaitu Erina Adeline Tandian selaku pengarah dan kritikus film dan Kinanthi Laras selaku Produser Film Mother of The Sea.

Sebelum memulai diskusi, Ryan menyampaikan bahwa penyelenggaraan safari IMAC bertujuan untuk mengapresiasi civitas academica yang berkontribusi dalam perfilman, baik para ahli maupun para penonton.

“Tujuan kita mengadakan roadshow itu adalah mengapresiasi para sineas, para kritikus film, dan para penonton film di lingkungan kampus,” jelas Ryan yang berlanjut ke perkenalan para narasumber.

Berikutnya, Ryan membuka diskusi dengan menanyakan pandangan Erina terhadap keempat film yang tayang pada kegiatan safari ini. Dari kacamatanya sebagai seorang akademisi, Erina memandang keempat film tersebut sama-sama mengangkat pergeseran identitas dan isu politik sebagai bentuk kritik sosial. Selain di film Rusa Jantan yang Kehilangan Tanduknya, Erina juga menemukan isu mengenai alam di dalam ketiga film lainnya.

Menariknya, ketiga film yang mengangkat isu alam tersebut sama-sama menggunakan teknik ambilan jauh (long shot) dalam pengambilan potongan-potongan filmnya. Menurut Erina, teknik tersebut adalah pilihan yang tepat bagi film-film yang menyajikan alam sebagai suguhan utamanya, termasuk ketiga film tersebut.

“Pemilihan framing-nya sudah tepat, ya, karena memang ketiga film itu ngomongin tentang permasalahan di suatu daerah tertentu …. Hal yang menarik yang ingin disajikan ke penonton, ya, masalah tentang alamnya itu sendiri gitu. Jadi, memang kita harus banyak menggunakan long shot,” Erina menjelaskan pandangannya.

Sebagai pembuat Mother of The Sea yang menggunakan teknik long shot, Kinan sepakat dengan Erina. Dia mengungkapkan bahwa penggunaan teknik tersebut dalam filmnya bertujuan untuk menyadarkan penontonnya akan permasalahan alam saat ini.

“Secara visual, kita pengen nyenggol, nih, kalau [ada] krisis alam yang [sedang] terjadi,” terang Kinan.

Diskusi berlanjut dengan pembahasan seputar unsur-unsur dalam film termasuk proses penulisan naskah dan riset sebelum pembuatan film. Tidak sekadar teori, diskusi ini juga membahas praktiknya secara nyata melalui film garapan Kinan.

Terkait dengan tema diskusi, Erina menyebutkan bahwa film memiliki banyak fungsi sebagai sarana komunikasi. Salah satunya adalah peran penting film untuk mengomunikasikan suatu ideologi. Pengangkatan isu serta penggunaan audio dan visual tertentu merupakan jalan bagi para pembuat film untuk menyampaikan ideologi tersebut.

Erina mengambil visual dalam Rusa Jantan yang Kehilangan Tanduknya sebagai contoh, “Di film itu, kan, dikasih lihat tentang seorang Ayah, yang sebenarnya kalau dalam pandangan patriarki harus menjadi kepala keluarga, tetapi dia [malah] kehilangan kemampuan ototnya karena strok. Nah, itu, di awal [filmnya], [sosok Ayah] dikasih lihat [dengan teknik pengambilan] high angle, ya. Jadi, si film maker-nya itu berusaha [menampilkan ideologi masyarakat pada umumnya yang] mengecilkan orang dengan disabilitas.”

Di sela-sela sesi diskusi, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan. Penanya pertama yang merupakan mahasiswa dari Sastra Indonesia UI itu menanyakan cara pendekatan para pembuat film dokumenter kepada masyarakat terkait agar berkenan ikut serta dalam pembuatan filmnya.

Kinan menjawab, “Idealnya, kita observasi secara langsung dengan pendekatan langsung. Jadi, ketika kita tiba-tiba bawa kamera se-gede apa gitu, mereka gak kaget, mereka gak merasa gak nyaman di depan kamera gitu.

“Untuk filmku, mungkin sekitar 3–4 bulan, kita ada interview sendiri, bisa lewat telepon atau video call. Kita juga gak selalu harus menanyakan hal-hal yang berhubungan sama film. Jadi, kayak kita kenal dan temenan sama orang aja gitu, sekedar tanya kabar. … Jadi, lebih memanusiakan subjek [film] itu dengan pandangan [bahwa] mereka bukan sekedar subjek di dalam film, tetapi bagaimana kita bisa dekat dengan mereka sebagai manusia,” lanjut Kinan.

Erina sepakat dengan jawaban Kinan, “Setuju, sih. Jadi, memang bonding itu penting, ya. Kita, kan, harus kenal dekat [dengan subjek film]. Kalau mereka udah nyaman dengan kita, itu akan sangat memudahkan kita.”

Diskusi terus berlanjut dengan pembahasan seputar film lainnya. Kedua narasumber juga bergantian menjawab pertanyaan-pertanyaan spontan dari para peserta safari.

Tidak terasa, satu jam kembali berlalu. Ryan pun harus menutup sesi diskusi. Setelah diskusi berakhir, acara berlanjut dengan pemberian sertifikat kepada Erina dan Kinan. Bandoro mewakili segenap panitia untuk menyerahkan sertifikat kepada kedua narasumber tersebut.

Sebagai penutup, panitia IMAC 2025 berfoto bersama seluruh peserta safari yang hadir. Mereka juga bersama-sama membuat video sambil bersorak, “IMAC Film Fest, Berasa Dampaknya!”. Dengan selesainya sesi dokumentasi ini, maka berakhirlah seluruh kegiatan safari perdana IMAC 2025.

Teks: Jesica Dominiq M.

Foto: Farhan Nuzhadiwansyah

Pers Suara Mahasiswa UI 2024

Independen, Lugas, dan Berkualitas!


Tim Penggarap