
By Giovanni Alvita D.
Pandemi Covid-19 menyebabkan terpuruknya perekonomian hampir seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Terlebih lagi kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti para pedagang kantin di kampus dan di sekolah. Sejak bulan Maret, ketika rektor UI mengeluarkan keputusan untuk memberlakukan perkuliahan jarak jauh, kantin-kantin di UI pun ditutup. Hal ini tentu mengakibatkan kerugian bagi para kalangan UMKM. Kesulitan ini yang dialami oleh para pedagang di Kantin Sastra (Kansas) UI.
Sejak bulan Maret sampai Agustus para pedagang Kansas tidak memiliki pemasukan, malah mereka dilanda kerugian karena berubahnya metode perkuliahan secara mendadak, padahal para pedagang tersebut terlanjur memberi bahan-bahan baku untuk dijual di kantin. Musibah ini memicu ide dari para alumni untuk membantu pedagang kantin di FIB UI yaitu Kantin Sastra, atau Kansas.
Muncullah ide cloud kitchen (restoran tanpa resto) dari alumni. Sebuah konsep di mana para pedagang beroperasi di rumah, sehingga mereka tidak perlu menyewa tempat ataupun memerlukan banyak peralatan. Para pedagang hanya perlu berjualan di rumah dan dipasarkan secara online.
Konsep yang ditawarkan alumni ini disambut baik oleh para pedagang Kansas. Karena konsep ini dapat menggerakan pemasukan dari para pedagang Kansas. Beberapa alumni FIB lantas mengusung gerakan Kansas Buka Lagi, sebagai gerakan untuk menyediakan ruang berjualan secara daring bagi pedagang Kansas.
“Sebenarnya konsep awalnya juga gue mikir ya kalau kita kasih duit, menurut gua pribadi ga ada bakal abisnya, lu mau ngasih berapa sih? Sejuta, dua juta, ya pasti bakal abis kan, kita mikirnya kaya gitu kan, dan kondisi alumni pun juga bukan dalam kondisi terbaik juga saat ini, sama-sama ambruk juga lagi corona gini ‘kan,” ujar Geri, alumni FIB UI yang menjadi salah satu pengusung gerakan ini. Geri juga mengungkapkan bahwa dengan membuka resto secara daring, para pedagang Kansas dapat menjaring pelanggan lebih luas lagi, tidak sebatas anak-anak FIB atau UI saja.
“Mereka punya pelanggan di luar anak FIB, jadi karena mungkin seminggu pertama (sampai—red) satu bulan pertama anak FIB banyak yang order. Ketika anak FIB kasih rating dan restoran mereka muncul di pencarian paling atas, ya akhirnya mereka ngejaring pasar umumnya dan di situ juga gue setelah input itu, seminggu sekali atau dua minggu sekali gue datang ke restoran itu, ke tempat mereka masing-masing,” ujarnya
Geri mengungkapkan bahwa konsep ini tidak hanya menguntungkan para pedagang Kansas saja, melainkan juga dapat membantu para driver ojek online. “Gue mikir gini, contohnya nih kalau ada sumbangan pasti lo bakal agak ga enak dong kasi 25 ribu kan, mendingan gini uang 25 ribu itu ketika mereka ada di GoFood sama GrabFood lo order makanannya, kita dapet makanan sebagai pengorder, si pedagang dagangannya kejual. Di sisi lain kita juga bisa buka rejeki buat si driver online juga,” ujar Geri.
Alumni bekerja sama dengan BEM FIB UI 2020 untuk membantu menginput data para pedagang Kansas di GoFood dan GrabFood. Mereka akan meminta para pedagangan Kansas untuk menyiapkan KTP, foto buku tabungan, dan NPWP. Setelah melakukan penginputan, para alumni mengambil foto produk sambil mengatur strategi promosinya. Harganya pun menyesuaikan harga pasar. Setelah itu, ketika para pedagang Kansas launching, para alumni membantu untuk posting di Instagram.
Para alumni juga membantu untuk pembuatan logo, desain untuk banner, desain untuk buat postingan Instagram, dan foto-foto untuk produknya. Penggerak Kansas Buka Lagi mengandalkan tim pro bono, lebih tepatnya profesional tanpa dibayar. Dalam hal ini, para alumni menarik alumni lainnya yang profesional di bidang tersebut untuk turut berkontribusi, contohnya alumni yang berprofesi sebagai fotografer.
Bantuan ini memberi dampak positif bagi para pedagang Kansas, contohnya seperti yang dirasakan Sri Tyas, penjual ayam penyet di Kansas, yang dikenal sebagai Ayam Mas Ronny. “Saya terima kasih sekali kepada alumni yang sudah membantu. Tadinya bantuannya berupa uang. Kemudian sekarang udah dibukakan online jadi sekarang keseharian saya tergantung sama online. Jualan online sangat bermanfaat buat saya,” ujarnya.
Sri juga berharap kantin daring ini bisa terus berjalan, sehingga ia dapat memperoleh pendapatan dari kantin dan juga GrabFood serta GoFood. Penjualan daring ini juga sangat memudahkan Sri karena menurutnya ia tidak perlu mengeluarkan biaya dan waktu untuk menuju tempat penjualan, ia juga tidak perlu membayar orang lagi untuk membantunya berjualan karena bisa dilakukan sendiri di rumah. Namun, Ibu Sri mengalami beberapa kendala dalam penjualan daring, contohnya seperti tidak mahir dalam menggunakan sosial media dan belum optimal dalam memperkenalkan produknya ke dunia di luar UI.
Tak hanya itu, para alumni juga sempat menggelar konser virtual bertemakan “Kansas Buka Lagi” untuk bernostalgia dan menggalang dana bagi para pedagang Kansas ini. Melihat keberhasilan ini, Geri berharap kedepannya fakultas-fakultas lain juga dapat menduplikasi program ini untuk membantu pedagang-pedagang kantin di fakultasnya, Geri juga berharap agar jumlah pedagang Kansas yang dapat bergabung dengan GrabFood dan GoFood semakin bertambah, karena untuk saat ini baru 10 pedagang dari 25 pedagang yang menggunakan jasa penjualan daring.
Teks: Giovanni Alvita D.
Kontributor: Zuhairah Syarah
Foto: M. I. Fadhil
Editor: Nada Salsabila
Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas