Logo Suma

Satu Gerbang, Dua Cerita: Antara Jaket Kuning dan Toga Wisuda

Redaksi Suara Mahasiswa · 15 September 2026
5 menit · - kali dibaca
Satu Gerbang, Dua Cerita: Antara Jaket Kuning dan Toga Wisuda

Bulan Agustus lalu, ada yang baru saja memutar kunci kamar kos untuk pertama kalinya, belajar hidup sendiri jauh dari rumah dan kampung halaman. Di sisi lain, ada yang baru saja melepaskan toga dengan rasa haru biru, mencoba merangkum empat tahun silam dalam beberapa kalimat sebelum benar-benar melangkah memasuki kehidupan baru di luar kampus. Keduanya berdiri di ujung yang berlawanan dari gerbang yang sama. Satu baru melangkah masuk, satu lagi bersiap melangkah keluar. Tapi kalau didengarkan baik-baik, cerita mereka ternyata tidak jauh berbeda.

Diambil oleh: Ariqah Ayla

Tunggu Aku, Masa Depan!

“Bayangan aku jadi mahasiswa mungkin kayak, you have that freedom untuk making your own path,” jelas Andra, mahasiswa baru Psikologi UI angkatan 2026. Bayangan itu datang bersama satu keyakinan lain yang sempat membebaninya: predikat UI sebagai kampus nomor satu di Indonesia, tempat yang katanya jadi mimpi banyak orang. “Aku merasa mahasiswa UI itu supposed to be … the front line lah, the example of what mahasiswa should be.”
Begitu benar-benar memulai, bayangan itu terasa cukup dekat dengan kenyataan. “Everyone here itu trying their best dan kayak showing their best,” katanya, mengingat kembali minggu-minggu pertama yang dipenuhi orang-orang berinisiatif tinggi, seperti teman-teman satu angkatannya di paduan suara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang berani tampil.

Namun, di balik semangat itu, ada kekhawatiran yang cukup spesifik untuk empat tahun ke depan. UI punya begitu banyak organisasi dan kepanitiaan, dan Andra sadar tidak akan mengikuti semuanya. Ia takut, ketika kesempatan itu datang, ia tidak cukup berani atau siap untuk mengambilnya. “Dan jadinya, itu jadi sebuah what if,” katanya. Ada juga rasa belum kenal diri sendiri yang mengganggunya. Di tengah teman-teman baru yang sudah tahu persis mau jadi apa, ia merasa memasuki babak sebagai mahasiswa baru itu seperti “a blank page”. Andra belum benar-benar tahu apa yang ingin ia lakukan di masa depan.

Diambil oleh: Ariqah Ayla

Menyadari itu, Andra mencoba memberi ruang untuk dirinya sendiri. “Maybe I’m being too hard on myself sometimes”, akunya. Ia mengingatkan diri bahwa diterima di UI saja sudah layak dirayakan; sesuatu yang diperebutkan jutaan orang lain. "Wajar untuk merasa ketinggalan," ungkap Andra dalam wawancara bersama Suara Mahasiswa UI (19/8). Karena semua orang di sekitarnya juga anak-anak terbaik yang mungkin diam-diam merasakan hal serupa. "Jadi aku kasih diri aku ruang untuk bisa kayak, you're doing good, you're doing okay. You're as fast as you can be, dan it's enough."

Diambil oleh: Ariqah Ayla

Kalau ditanya bekal apa yang ia bawa dari fase sebelumnya adalah empati; yang dipupuk justru dari kesadaran akan kekurangannya sendiri. "Aku masih punya banyak flaws, yang dimana aku nggak qualified enough untuk judge orang lain, karena aku juga punya flaws,"tutur Andra dalam wawancara bersama Suara Mahasiswa UI (19/8). Baginya, penting untuk berempati dan bersikap baik ke siapa pun yang ia temui, karena tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang dijalani orang lain. "I want to know people and that's it," jelas Andra (19/8).

Kalau harus merangkum semuanya dalam satu kalimat, jawaban Andra sederhana, tetapi terasa seperti pengingat untuk dirinya sendiri. Jadi mahasiswa baru berarti dihadapkan pada banyak godaan. Ikut ini, ikut itu, pergaulan sana-sini. Sementara yang paling penting justru tahu siapa diri kita. “Semua orang punya kecepatan masing-masing, punya jalan selesainya masing-masing juga. Jadi, teruskan menjadi dirimu.”

Diambil oleh: Annisa Keya Dinanti

Saatnya Merangkai Cerita Baru

Empat tahun lebih dulu, di gerbang yang sama, Nina merasakan sesuatu yang mirip dengan yang kini dirasakan Andra: disbelief. “Masa sih gue udah sampai di titik ini,” ungkapnya, mengenang betapa sulitnya proses masuk UI sampai menangis jungkir balik sebelum akhirnya diterima.

Rasa yang sama datang lagi, kali ini di hari wisudanya. "Sama juga, in disbelief juga.” Kepala Nina dijejali memori tentang betapa sulitnya menyelesaikan tugas akhir; menyesuaikan waktu dengan dosen pembimbing, menuangkan isi pikiran, lalu direvisi lagi dan lagi. "Tapi in the end, dengan doa dan usaha, bisa sampai titik ini juga.” Disbelief itu ditemani rasa lega, senang, dan bangga pada diri sendiri.

Kalau ditanya apa yang paling ia rindukan, jawabannya bukan gedung atau ruang kelas, melainkan suasana di dalamnya. "Hal-hal yang aku paling kangenin dari masa kuliah itu kelas-kelasnya." Nina mengingat-ingat obrolan sebelum dan sesudah kelas, momen "touring kantin" ke fakultas lain, dan pertemanan yang lahir dari hal sesederhana kelas antropologi lintas fakultas yang ia ambil di semester 6, pertama kalinya ia benar-benar mulai dari nol lagi untuk berteman dan beradaptasi.

Soal bekal yang ia bawa ke fase berikutnya, jawaban Nina adalah pembawaan diri dan kepercayaan diri; dua hal yang menurutnya paling sulit ia kuasai sejak kecil, tapi paling dibutuhkan untuk bertahan di dunia kerja. "Yang dilihat orang itu gimana cara kita mengekspresikan dan membawakan diri," katanya.

Diambil oleh: Annisa Keya Dinanti

Kalau bisa kembali bicara pada dirinya sendiri di masa maba dulu, Nina tahu persis apa yang ingin ia katakan: "You've made it. And I'm so proud of you. You've made this far... Hey! We survived! And we're still thriving and happy." Ia percaya, semua pengalaman pahit sepanjang jalan itu bukan untuk dilupakan, melainkan dijadikan pelajaran; bekal untuk terus melangkah, bahkan sampai tua nanti.

Menariknya, ekspektasi Nina soal kuliah justru terbalik dari kenyataan. "Aku pikir kuliah itu akan lebih sulit.” Ia membayangkan beratnya menyeimbangkan akademik dan organisasi berdasarkan review-review yang ia baca sebelum masuk. "Tapi setelah aku lewati, jujur, nggak sesulit yang aku bayangkan. (Justru) relatif lebih mudah, dibandingkan masa SMA aku."

Menjelang langkahnya keluar dari gerbang UI, Nina tidak menutupi rasa cemasnya soal mencari pekerjaan di tengah kondisi ekonomi yang menurutnya semakin sulit. Namun, ia memilih tetap berpegang pada afirmasi diri, berusaha sambil berserah. Ia juga bersyukur atas ilmu sosial-humaniora yang menurutnya sudah membentuknya menjadi lebih kritis dalam melihat persoalan di sekitarnya, baik di Indonesia maupun di luar.

Satu momen yang paling ia ingat justru datang dari hari pertama yang basah kuyup: latihan paduan suara PKKMB, saat pelatihnya—yang ia sebut Pak Dibyo—menyemangati seluruh angkatan untuk bangga menjadi bagian dari UI. "Be proud as a yellow jacket," kenangnya menirukan kalimat itu. Nina menambahkan, "Tapi ya, salah satu momen yang nggak bisa aku lupain."

Perlahan ia merangkum seluruh perjalanan empat tahunnya dalam satu kalimat. “Terima kasih UI untuk empat tahun yang penuh dengan buku yang membuatku terus mencari jawaban, pesta yang mengingatkanku untuk berhenti sejenak dan menikmati hidup, dan cinta yang kutemukan dalam begitu banyak bentuk dan dari begitu banyak orang. Pada akhirnya, mungkin memang sesederhana itu cara terbaik untuk mengingat empat tahun ini: aku datang untuk belajar, tetapi pulang dengan jauh lebih banyak cerita untuk diceritakan.”

Diambil oleh: Annisa Keya Dinanti

Hidup, katanya, memang tidak pernah lepas dari perkenalan dan perpisahan yang datang silih berganti. Kisah Andra dan Nina hanyalah satu dari ribuan versi kisah mahasiswa UI yang terjadi pada setiap tahunnya—satu yang kebetulan kami angkat kali ini, mewakili begitu banyak cerita serupa yang mungkin belum sempat terdengar. Dengan begitu, selamat mengarungi lautan yang lebih luas, para wisudawan! Untuk Arka Makara, selamat datang dan menikmati perjalanan! Cerita kalian baru saja dimulai.

Fotografer: Annisa Keya, Ariqah Ayla

Teks: Annisa Keya

Penyunting: Annisa Keya

Design: Syahidah Nururahmah

Independen, Lugas, dan Berkualitas!


Tim Penggarap

Foto

Annisa Keya Dinanti, Ariqah Ayla Febrizka

Desain

Syahidah Nururrahmah