Logo Suma

Satu Pasangan Calon Absen, Eksplorasi Soshum Tetap Berjalan

Redaksi Suara Mahasiswa · 4 Desember 2024
4 menit

Pemilihan Raya Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia (Pemira IKM UI) 2024 memasuki Masa Eksplorasi Calon Ketua dan Calon Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI 2025. Masa eksplorasi yang berlangsung pada 3–5 Desember 2024 ini menjadi momen bagi para pasangan calon (paslon) untuk memaparkan visi, misi, dan program kerja mereka kepada civitas academica UI.

Rumpun Sosial dan Humaniora (Soshum) menjadi target pertama dari rangkaian eksplorasi Pemira 2024. Dengan bertempat di Auditorium Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) UI, Eksplorasi Rumpun Soshum ini menghadirkan dua dari tiga paslon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2025.

Sebagai informasi, kontestasi Pemira IKM UI tahun ini diikuti oleh tiga paslon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2025. Paslon nomor urut 1 adalah Rendy Darmawansyah dan Azzam Auliarahman (Rendy-Azzam), paslon nomor urut 2 adalah Zayid Sulthan Rahman dan Farel Putrawan (Atan-Farrel), dan paslon nomor urut 3 adalah Agus Setiawan dan Bintang Maranatha Utama (Agus-Bintang).

Dalam Eksplorasi Rumpun Soshum pada Selasa (03/12) kemarin, hanya Atan-Farrel dan Agus-Bintang yang hadir, sedangkan Rendy-Azzam berhalangan hadir. Berdasarkan informasi yang Suara Mahasiswa UI dapatkan, Rendy tidak dapat hadir karena ada kepentingan keluarga. Berhubungan dengan itu, Azzam pun turut tidak dapat hadir karena Peraturan Panitia Pemira UI yang mewajibkan paslon hadir secara berpasangan saat pelaksanaan eksplorasi.

Visi-Misi Atan-Farrel: Dari BEM UI, untuk IKM UI

Dalam sesi penyampaian visi dan misi, Atan-Farrel mengungkapkan bahwa visi mereka adalah menjadikan BEM UI sebagai organisasi yang kontekstual, proaktif, sinergis, dan berfokus pada kesejahteraan mahasiswa. Paslon ini menekankan pentingnya akuntabilitas dan inovasi dalam seluruh aspek kerja BEM UI.

Untuk mencapai visi tersebut, Atan-Farrel bermisi untuk menciptakan birokrasi yang akuntabel, transparan, dan didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten.

Selain itu, Farrel berencana untuk memaksimalkan aktualisasi minat dan bakat mahasiswa, mendorong advokasi yang taktis dan strategis, serta mengembangkan inovasi dalam pengembangan karir. Mereka juga berkomitmen untuk menjalin relasi yang baik dan proaktif, memprioritaskan gerakan mahasiswa yang relevan dan mendesak, serta memperjuangkan inklusivitas di setiap aspek organisasi.

Dengan pendekatan yang terbuka, akuntabel, dan inventif, paslon nomor urut 2 merancang visi dan misi tersebut untuk menjadikan BEM UI yang lebih responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, “Kami ingin mengusahakan BEM UI kembali kepada IKM UI itu sendiri.”

Visi-Misi Agus-Bintang:

Di sisi lain, paslon Agus-Bintang menyampaikan visi-misi mereka dengan berfokus pada semangat anak muda dan potensi besar milik generasi yang berada dalam bonus demografi saat ini. Mereka menarasikan sejumlah sejarah gerakan kaum muda yang telah memberikan dampak signifikan bagi perubahan sosial.

Menurut Agus, generasi muda memiliki kekuatan untuk mengembangkan potensi mereka, termasuk civitas academica UI di lingkungan kampusnya sendiri. Oleh sebab itu, dia berkomitmen untuk mengimplementasikan kembali semangat tersebut dalam kepemimpinan BEM UI.

Salah satunya dengan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengaktualisasikan diri, memberi kontribusi diri secara lebih mendalam, dan menciptakan perubahan yang positif di dalam kampus.

Tanggapan Atan-Farrel dan Agus-Bintang terhadap Isu Kekerasan Seksual, Uang Kuliah, dan Konflik Kepentingan

Setelah sesi perkenalan dan pemaparan oleh masing-masing paslon, kegiatan eksplorasi berlanjut ke sesi tanya jawab antara paslon dengan IKM UI yang hadir. Adi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) menjadi penanya pertama.

Adi bertanya perihal penanganan para paslon terhadap kasus kekerasan seksual (KS), “Kasus kekerasan seksual merupakan isu yang sangat mudah dijumpai. Bagaimana BEM UI bertindak dalam menangani kasus tersebut?”

Agus-Bintang menanggapi pertanyaan itu dengan menawarkan beberapa tindakan penanganan. Mereka menekankan perlunya pemahaman yang komprehensif tentang dampak KS dan pentingnya pendampingan korban.

Agus-Bintang menyatakan bahwa mereka akan melakukan pencerdasan kepada seluruh IKM UI terkait hal tersebut. Mereka juga akan mendorong kinerja Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) UI.

“Pendampingan korban dan koordinasi yang baik dengan rektorat adalah langkah penting dalam penanganan KS di UI,” tegas Agus.

Di sisi lain, Atan-Farrel menjelaskan bahwa BEM UI perlu bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang memiliki perhatian khusus terhadap KS. Mereka juga akan memastikan setiap program kerja strategis dilengkapi dengan pembekalan terkait pencegahan dan penanganan KS.

Farrel juga menyoroti pentingnya koordinasi dengan rektorat dan mengusulkan pembentukan satuan tugas (satgas) di setiap fakultas untuk mengawal isu ini secara terdesentralisasi, "Kami akan mengadvokasikan isu kekerasan seksual melalui kolaborasi dan sosialisasi dengan semua pihak terkait.”

Pertanyaan selanjutnya terkait dengan isu Uang Kuliah Tunggal (UKT) dari mahasiswi Fakultas Hukum (FH) bernama Kirana, “UI terkenal dengan isu UKT yang tidak pernah selesai. Ternyata, urusan UKT sudah masuk fakultas. Bagaimana menggandeng fakultas terkait [penyelesaian] masalah ini?”

Agus-Bintang menyatakan bahwa mereka akan berkolaborasi bersama fakultas untuk mendalami permasalahan tersebut secara spesifik. Hal itu mereka lakukan karena mereka meyakini bahwa setiap mahasiswa di masing-masing fakultas menghadapi masalah yang berbeda-beda. Melalui pendekatan ini, mereka berharap dapat memperjuangkan kebijakan yang lebih berpihak kepada mahasiswa.

Tidak jauh berbeda, Atan-Farrel juga berencana untuk menangani masalah UKT dengan mengoordinasikan masalah ini bersama berbagai kelompok kerja (pokja) fakultas. Tidak hanya itu, mereka juga akan menjembatani aspirasi mahasiswa hingga ke Direktorat Kemahasiswaan (Dirmawa) UI dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan pendekatan yang inklusif, Atan-Farrel berharap dapat memastikan bahwa setiap suara mahasiswa terdengar.

Paslon juga mendapatkan pertanyaan mengenai cara mereka mempertahankan visi dan misi serta menghindari konflik kepentingan (conflict of interest).

“Menjadi ketua dan wakil ketua BEM adalah hal yang bergengsi dengan akses besar terhadap kekuasaan. Bagaimana kalian mempertahankan harapan dan cita-cita dengan adanya kekuasaan [tersebut] dan conflict of interest?” tanya Bani dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP 2024).

Atan-Farrel menjawab pertanyaan itu dengan menekankan pentingnya menjaga transparansi, akuntabilitas, dan nilai-nilai kolaborasi di seluruh elemen BEM UI. Lebih lanjut, Agus-Bintang berkomitmen berkomitmen menjaga konsistensi aliansi antar-BEM Fakultas dengan fokus pada kesamaan isu dan kepentingan mahasiswa.

Dengan berakhirnya sesi tanya jawab tersebut, maka berakhirlah seluruh rangkaian Eksplorasi Rumpun Soshum. Dari sekitar 20 mahasiswa yang hadir, salah satu audiens menyampaikan pendapatnya mengenai visi-misi kedua paslon tersebut. Menurutnya, gagasan di antara kedua calon terlihat kurang substansial dan tidak terlalu mendalam.

“Saya mengharapkan eksplorasi ini seharusnya adalah pemaparan ide dan gagasan yang jelas dan lugas sehingga terlihat garis batas serta perbedaan pemikiran di antara keduanya. Akan tetapi, hingga saat ini saya belum melihat hal tersebut," ujar AI dari FISIP.

Teks: Grace Terenesya, Kinanti Anggraeni, dan Muhammad Aidan

Editor: Jesica Dominiq Mozzarella

Pers Suara Mahasiswa UI 2024

Independen, Lugas, dan Berkualitas!