Logo Suma

Sederet Teror Dialami PO hingga Ketua BEM UI Terpilih

Redaksi Suara Mahasiswa · 16 Januari 2026
5 menit

Sehari setelah Grand Closing Pemilihan Raya Universitas Indonesia (Pemira UI) pada 12 Januari lalu, Project Officer (PO) Pemira UI 2025, Muhammad Nur Ihsan menerima berbagai bentuk teror siber dan fisik. Hal tersebut ia beritakan melalui akun Instagramnya, @nuriihsann. Dalam unggahan, ia melampirkan beberapa tangkapan layar berisi pesan peringatan yang dikirimkan oleh pelaku melalui WhatsApp. Pelaku memperingatkan Ihsan agar tidak berpihak kepada pasangan calon (paslon) 01, Sabiq & Joanne, serta menuntutnya untuk bersikap adil dan bersih dalam menjalankan Pemira UI 2025.

Menanggapi hal tersebut, Ihsan menegaskan bahwa pesan yang diterimanya merupakan bentuk fitnah dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Ia menyebut tuduhan dan klaim tidak valid semacam ini kerap ia terima selama menjabat sebagai PO Pemira UI 2025. Ihsan juga menegaskan dirinya tidak pernah berlaku curang dan memastikan seluruh panitia Pemira bersikap netral, independen, serta tidak memihak paslon mana pun.

Selain teror melalui pesan daring, Ihsan juga mengaku menerima teror berupa kiriman kardus yang diletakkan di depan kosannya. Kardus tersebut berisi tulisan bernada ancaman yang menuntutnya untuk memenangkan paslon 03, Athof & Fathimah. Pelaku bahkan mengancam akan memberikan ‘balasan’ apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

“Pas malem grand closing [Pemira UI 2025, di] depan kosan gua ada [yang kirim kardus] ini. Ini gua difotoin sama temen kos gua [soalnya] gua enggak balik kos lima hari,” tulis Ihsan saat diwawancarai melalui WhatsApp pada (15/1).

Tidak hanya itu, Ihsan juga mengaku mengalami teror fisik di lingkungan UI pada Selasa (13/1) dini hari. Ia menceritakan bahwa saat hendak pulang ke kos sekitar pukul 00.30 WIB, dirinya dihentikan oleh seseorang yang mengendarai sepeda motor tanpa plat nomor dan lampu kendaraannya dalam keadaan mati.

“Kan karena UI itu udah tutup, jadi gua agak muter, ‘kan. Ya udah, jadi pas gua muter itu, posisi jalannya sepi, ada nih orang yang enggak ada plat nomor, senternya mati, gua kira emang sengaja dihilangkan gitu, lho, identitasnya. Terus dia todongin [pistolnya], gua lupa lagi kata-kata exact-nya apa, tapi kurang lebih [dia bilang] ‘awas aja lu macam-macam’,” ungkapnya.

Hingga saat ini, Ihsan mengaku tidak mengetahui siapa pelaku dari seluruh rangkaian teror yang dialaminya. Ia memilih untuk tidak berspekulasi karena tidak memiliki bukti yang cukup untuk memastikan identitas pelaku.

Kabem dan Wakabem UI 2026 Turut Alami Teror

Tak hanya dialami oleh PO Pemira UI 2025, teror juga turut dialami oleh Ketua BEM UI terpilih, Yatalathof Ma’shum Imawan. Ia mengaku mengalami serangkaian teror dari orang yang tidak dikenal setelah dirinya diumumkan terpilih sebagai Ketua BEM UI tahun 2026.

“Sejauh ini, [terornya] nambah, enggak hanya [dalam bentuk serangan] cyber aja. Kan [serangan] cyber udah kena ke gua sama Fath, termasuk keluarga, tapi sekarang, hari ini, barusan siang ini, kita dikirimin paket-paket yang kita tidak beli, tapi paketnya berbentuk COD [Cash on Delivery],” ungkap Athof saat diwawancarai pada (16/1).

Berdasarkan keterangan dari keluarga Athof yang berada di rumah, terdapat dua paket COD yang dikirim ke kediamannya dengan nominal sekitar Rp2 juta. Setelah dilakukan upaya verifikasi terhadap nomor resi paket tersebut, diketahui bahwa isinya berupa topeng.

Athof pun mewanti-wanti keluarganya untuk tidak membayar paket yang tidak mereka pesan, mengingat wakilnya, Fathimah, juga mengalami hal serupa. Ia bersyukur karena sang kurir masih bersedia untuk membatalkan paket tersebut.

Teror kembali berlanjut pada Jumat (16/1) sekitar pukul 16.20 WIB. Keluarga Athof kembali menerima satu paket COD misterius lainnya. Menurut keterangan kurir yang mengantarkan, paket tersebut berukuran kecil dan tipis, tetapi memiliki nilai transaksi yang cukup besar.

Selain teror berupa kiriman paket misterius, Athof juga mengalami teror siber berupa peretasan nomor WhatsApp pribadinya. Akun tersebut diretas dan digunakan oleh pelaku untuk mengirimkan pesan ancaman kepada keluarga dan sejumlah kontak Athof. Tidak sampai di sana, pelaku turut melampirkan video yang seolah-olah menjadikan foto Athof sebagai sasaran penembakan. Teror pesan ini terus menekannya agar segera mengundurkan diri dari jabatan Ketua BEM UI 2026, dan jika tidak dipenuhi, pelaku mengancam akan terus melakukan teror. Bahkan hingga saat ini, nomor WhatsApp pribadinya masih berada dalam kondisi diretas dan belum dapat digunakan secara normal.

Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra, juga mengaku bahwa ia beserta keluargannya turut mendapatkan teror serupa. Berdasarkan keterangannya, nomor ayah Fathimah diretas oleh orang tidak dikenal untuk menyebarkan pesan serta video ancaman. Video ancaman yang dikirimkan juga mempertontonkan Fathimah sebagai target eksekusi, persis seperti teror yang dilayangkan pada Athof sebelumnya.

“[Pesan dan video] ancamannya sampai dikirim ke [grup] RT-RW lingkungan rumah juga, selain [ke grup] keluarga,” ujar Fathimah saat diwawancarai melalui WhatsApp pada (16/1). Hingga saat ini, WhatsApp ayahnya belum bisa dipulihkan.

Akibat kejadian tersebut, kerabat dan tetangga Fathimah merasa kebingungan dan mempertanyakan kebenaran pesan yang beredar. Sejumlah pihak bahkan terkejut dan merasa takut setelah menerima video ancaman tersebut.

Dalam teror paket yang dialaminya, Fathimah mengaku mendapatkan paket yang berisi alat pemotong tanaman dengan nilai sekitar Rp200.000, sementara paket kedua, berupa kursi roda dengan harga yang tidak sempat diketahui. Karena khawatir merupakan penipuan, ia bersama ibunya langsung menolak paket yang tidak pernah mereka pesan. Namun, mereka tidak sempat mendokumentasikan paket tersebut.

Hingga kini, Fathimah mengaku belum mengetahui pihak di balik rangkaian teror yang menimpanya. Ia menegaskan bahwa belum dapat dipastikan apakah pelaku merupakan buzzer atau pihak tertentu lainnya, mengingat belum adanya bukti yang cukup.

Di sisi lain, Sabiq selaku paslon 01 pada Pemira BEM UI 206 turut menyampaikan pernyataannya terkait rangkaian teror yang belakangan terjadi melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @muhmdshabi1, pada Kamis (15/1). Menurutnya, seluruh ancaman tersebut diduga berasal dari oknum non-IKM UI atau pihak eksternal yang memiliki kepentingan untuk memecah belah Ikatan Mahasiswa (IKM) UI.

“Saya sangat menyayangkan para pihak yang termakan dan terbawa arus dalam kondisi ini. Sangat disayangkan jika ada upaya-upaya untuk menunjuk saya sebagai aktor dalam segala bentuk kecaman dan ancaman yang terjadi,” ujar Sabiq dalam video reels tersebut.

Lebih lanjut, Sabiq menegaskan kembali bahwa terdapat juga beberapa rekan dekatnya yang mengalami teror, bahkan disebut sempat disergap oleh oknum non-IKM UI. Peristiwa tersebut nyaris membahayakan keamanan dan kenyamanan mereka saat mengikuti rangkaian kegiatan Grand Closing Pemira UI 2025. Ia pun mengimbau agar sesama IKM UI tidak saling tuding dan tetap saling menjaga satu sama lain.

Hingga berita ini ditulis, tim SUMA UI masih belum memperoleh keterangan lebih rinci dari Sabiq terkait peristiwa tersebut, termasuk mengenai kronologi teror yang dialami oleh rekan-rekannya.

Teks: Masykuri Syauqi Mubarok

Editor: Dela Srilestari

Foto: Istimewa

Desain: Naila Shafa

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!