
Hai, Changemakers!
Puncak dari kampanye #CegahStunting sudah dilakukan pada pertengahan Februari. Di tanggal 14–16 Februari, Indonesian Youth Action (IYA) sebagai Organizer terbaik, berangkat ke Labuan Bajo dengan misi membantu persoalan stunting di sana.
Tantangan Sebelum Volunteering Trip Dimulai
Anggota IYA menikmati volunteering trip di Labuan Bajo. Meski menikmati, bukan berarti nggak ada aral melintang. Tantangan pertama adalah perdebatan masalah waktu pemberangkatan. Soalnya, masing-masing anggota IYA punya kesibukan. Jadi, jadwalnya kerap bentrok.
Akhirnya, di tengah kesulitan menentukan jadwal keberangkatan ke Labuan Bajo, ada salah satu tim IYA yang memutuskan untuk mengorbankan jadwal kegiatannya. Makanya, dipilih 14–16 Februari untuk volunteering trip ke Labuan Bajo.
Setelah diketok tanggal pemberangkatan, bukan berarti perjalanan tak menghadapi tantangan. Justru tantangan selanjutnya lebih bikin degup jantung berdetak kencang.
Kisahnya berawal saat tim Campaign dan tiga orang IYA menunggu salah satu anggotanya yang belum nampak batang hidungnya. Penantian yang mendebarkan karena waktu sudah menunjukkan pesawat akan segera lepas landas.
Di menit-menit yang menegangkan, akhirnya Sadam sebagai perwakilan Campaign memutuskan untuk naik ke pesawat terlebih dahulu. Mereka berlari agar nggak ketinggalan pesawat. Apakah satu orang IYA itu nggak jadi berangkat?
Plot twist-nya, satu orang yang ditunggu-tunggu sampai pesawat mau berangkat, ternyata sudah ada di dalam pesawat duluan. Ini namanya real kehidupan, penuh cerita tak terduga.
Kegiatan Selama di Labuan Bajo
Tim Campaign dan IYA tiba dengan selamat di Labuan Bajo pada siang hari. Agenda pertama yang dilakukan adalah makan siang bersama dengan tim 1000 Days Fund. Setelah makan siang, agenda dilanjutkan perjalanan ke Desa Tiwu Nampar. Di Desa Tiwu Nampar, kami melakukan sosialisasi poster pintar dan selimut asi ke tiga rumah warga. Selama sosialisasi, IYA bisa memberikan penjelasan dengan baik kepada ibu-ibu.
IYA berhasil melakukan sosialisasi dengan baik karena selain menyiapkan obat-obatan untuk diri sendiri, mereka juga belajar isi poster yang akan menjadi bahan edukasi kepada masyarakat.
Proses sosialisasi dilakukan sampai sore hari. Selanjutnya, tim IYA menikmati pemandangan alam di Labuan Bajo. Lalu di malam harinya, makan malam dengan hidangan seafood. Setelah makan malam, masing-masing orang pergi beristirahat.
Di hari kedua, kegiatan dimulai dengan sarapan sebelum menuju ke Desa Golo Kempo. Kegiatan di Desa Golo Kempo diawali dengan membantu kader Posyandu. Tim IYA membantu menimbang, mendata, dan mengukur tinggi anak-anak.
Setelah dari Posyandu, tim IYA pergi ke salah satu rumah warga yang di dalamnya ada tujuh mama-mama. Tim IYA mensosialisasikan dan mengedukasi penggunaan aplikasi Primaku yang berguna untuk memantau proses gizi anak-anak mereka.
Acara selanjutnya ialah mengunjungi tiga rumah warga untuk melakukan edukasi dan melihat tumbuh kembang anak-anak dari orang tua yang rumahnya kita kunjungi.
Selama melakukan kunjungan kepada warga, baik di hari pertama dan kedua, tim IYA bisa berbaur dengan baik bersama masyarakat. Tim IYA bisa beradaptasi dengan baik karena salah satu anggotanya, yakni Carlos, sudah pernah ke Labuan Bajo sebelumnya. Sehingga, tiga orang lainnya belajar mengenai sosial budaya masyarakat Labuan Bajo kepada Carlos.
Kunjungan ke warga-warga di hari kedua, diakhiri sampai pukul 14.00. Setelahnya, tim pergi kembali ke hotel. Di malam hari, mereka makan malam dan istirahat.
Momen Berkesan dan Pelajaran yang Didapatkan tim IYA
Semua agenda yang dilakukan, berjalan baik dan seru. Bahkan, masing-masing anggota IYA, punya kesan tak terlupakan dan pelajaran berharga selama di Labuan Bajo.
Menurut Safa, kegiatan tak terlupakan adalah saat kunjungan ke Golo Kempo. Di sana, ia menikmati kopi tuk khas Manggarai Barat di rumah warga. Bukan hanya menikmati, tapi juga membantunya. Jadinya, Safa bisa menambah pengetahuan tentang budaya. Safa juga belajar budaya masyarakat Labuan Bajo yang menerima tamu dengan hangat. Itu menjadi pelajaran berharga baginya.
Sebelas dua belas sama Yogi yang punya momen mendalam sama kuliner Labuan Bajo, yakni kopi tuk dan roti kampyang. Baginya, pengalaman tersebut tidak hanya menambah referensi tentang dunia kuliner Indonesia saja, tapi juga menambah pengalaman menangani masalah stunting.
Sedangkan Hana terkesan saat melakukan pendampingan penggunaan aplikasi Primaku di Desa Golo Kempo. Dari kegiatan tersebut, Hana mendapatkan pelajaran berharga mengenai cara berkomunikasi yang baik dan efisien kepada masyarakat.
Kalau Hana, Yogi, dan Safa terkesan dengan kegiatan di Desa Golo Kempo, beda sedikit dengan Carlos yang teringat momen perjalanan menuju ke sana. Soalnya, perjalanannya yang lama dan berkelok membuat salah satu anggota IYA jadi mabuk darat. Meski ada sedikit insiden, Carlos banyak belajar dengan pemuda di sana, yang aktif melakukan aksi untuk kesehatan masyarakat.
Kita bisa melihat perjalanan yang berarti adalah perjalanan yang saling memberi makna. Kita juga belajar bahwa penyelesaian masalah sosial yang baik ketika setiap komponen di dalamnya bisa merasakan dampaknya.
Keren banget ya, pengalaman volunteering trip kali ini? Kegiatan ini nggak akan terlaksana kalau nggak ada aksi dari kamu untuk mendukung kampanye #CegahStunting yang diinisiasi oleh Campaign & 1000 Days Fund dan didanai oleh Bayu Buana Travel Services maupun Yayasan Dunia Lebih Baik.
Kolaborasi baik ini nggak berhenti sampai di sini. Soalnya, organisasi atau perusahaan kamu juga bisa berkolaborasi untuk menghasilkan dampak besar bersama Campaign. Informasi selengkapnya dapat dilihat dari link https://campaign.com/funder dan jadilah bagian perubahan 💙
Pers Suara Mahasiswa UI 2025
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor