Logo Suma

Sepiring Doa di Batas Waktu: Jiwa Telanjang Ibu Dipasung Hukum

Redaksi Suara Mahasiswa · 4 April 2026
4 menit

Judul Film: Selamat Ulang Tahun

Sutradara: Ikhtiar Maulana

Produser: Rizky Ramadhan

Genre: Non-fiksi

Isu: Perempuan, Narkotika, Hukuman Mati

Tahun Rilis: 2025

Durasi: 19 menit

Pemain: Vony Anggraini, Gayatri Dewi, Neea Elvira

Sering kali, hukuman mati diperlakukan sebatas angka dalam catatan negara. Namun, di balik angka itu, ada sosok seperti Atika—seorang ibu—yang bagi dirinya, vonis tersebut menandai akhir dari seluruh panjatan doa yang selama ini ia genggam. Film Selamat Ulang Tahun membedah realitas pahit di balik jeruji, memperlihatkan bagaimana kerentanan ekonomi dan manipulasi perasaan dapat menyeret seseorang ke titik tergelap kehidupannya. Sementara itu, sistem hukum tetap berdiri kaku dan menutup mata terhadap konteks kemanusiaan yang menyertainya.

Bagaimana perasaan Anda menjelang eksekusi?” menjadi pertanyaan pertama yang membuka film, dalam wawancara Atika bersama seorang jurnalis di dalam ruangan. Dari latar ini, alur cerita mulai bergulir. Atika dihadapkan dengan pertanyaan reflektif menjelang eksekusinya, sementara pikirannya justru tertinggal di rumah—pada tumpukan baju-baju bekas dagangan yang belum dirapikan dan harapan pada sepiring mi goreng ulang tahun ke-20 untuk putrinya, Nina.

Melalui alur kilas balik, film menggambarkan Atika dalam kondisi survival ekonomi nyata—seorang ibu yang harus memikul beban sebagai tulang punggung untuk membiayai segala kebutuhan hidup, terutama pendidikan Nina yang masih di bangku kuliah. Film ini memperlihatkan kegigihan Atika melalui aktivitas live berjualan baju bekas (thrifting), yang dijalankannya sebagai upaya bertahan di tengah keterbatasan. Atika menjadi representasi banyak ibu di luar sana yang beradu nasib dengan kerasnya kondisi ekonomi demi bertahan hidup.

Adegan terus berjalan. Di sela-sela kegiatan berjualan baju bekas itu, ada momen kecil mengharukan dari masa lalu yang diselipkan. Atika mengingat saat-saat ia merayakan ulang tahun Nina yang ke-20 dengan sepiring mi goreng. Sang putri tercinta meniupkan lilin dengan doa tulus yang menyayat hati—Nina ingin dapat selalu merayakan ulang tahunnya bersama Ibu. Lewat kilas balik tersebut, penonton disuguhkan kenyataan pahit bahwa Atika tidak akan bisa mengabulkan harapan Nina karena hukuman mati yang ditimpakan. Nyatanya, ia memang tidak akan pernah siap untuk meninggalkan sang anak.

Tak berhenti di situ, film ini melanjutkan penggambaran tokoh Atika lewat pertanyaan kedua dalam wawancara, yaitu, “Bagaimana Anda bisa terjerat dalam sindikat narkotika?” Penonton akan segera mengetahui seluk beluk tragedi ibu dan anak ini lewat kilas balik.

Dalam penggambaran masa lalu, diperlihatkanlah perjuangan Atika sebagai orang tua tunggal. Selama 13 tahun, ia berada dalam kondisi emosional yang rentan. Celah ini dimanfaatkan oleh Farooq, lelaki yang “katanya” pemilik toko herbal di Pakistan. Atika bertemu dengannya lewat aplikasi dating. Farooq tidak hanya menawarkan perhatian yang selama ini sempat menghilang, tetapi juga memberikan harapan akan dukungan ekonomi yang dibutuhkan Atika demi membiayai kuliah Nina.

Kepercayaan yang dibangun Farooq menjadi senjata utama untuk memanipulasi perasaan sang ibu tunggal. Atika diminta bantuan untuk mengirimkan sebuah paket yang diklaim berisi “obat herbal”. Ia tidak pernah curiga sedikit pun selama 4 bulan lamanya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dijadikan alat dalam skema kriminal yang sangat rapi karena paket yang selama ini dikirimkan adalah narkotika. Di sini, kisah mengungkapkan kerentanan di balik sosok seorang terpidana mati, yang selama ini kerap dilihat hanya dari status hukumnya. Hukuman yang ditimpakan kepadanya justru diarahkan pada seseorang yang tidak lain hanyalah korban dari pihak yang kejam, sehingga memperlihatkan adanya ketimpangan dalam cara keadilan dijalankan.

Sebagai penutup wawancara, jurnalis mengajukan pertanyaan terakhir, “Adakah yang ingin Anda sampaikan?”

Atika hanya menitipkan pesan singkat berupa doa tulus untuk Nina panjang umur dan fakta bahwa Atika menyayangi Nina. Kalimat sederhana ini merangkum seluruh perjuangan Atika dari awal, mulai dari bagaimana ia berjualan baju di siaran live sampai akhirnya terjebak sindikat narkotika. Semuanya dilakukan atas dasar satu hal, yaitu kasih sayang seorang ibu.

Film yang dikemas dengan gaya dokumenter ini berhasil menangkap momen personal tersebut, membuat penonton seolah sedang menyaksikan pengakuan nyata dari seorang ibu di sebuah ruang interogasi. Penonton diajak untuk melihat bagaimana sebuah tragedi besar bisa tumbuh dari hal-hal yang dianggap remeh: Atika seorang ibu tunggal, pejuang ekonomi, hingga bagaimana perasaan dimanipulasi dan berakhir pada peluru hukuman mati yang ditembakkan.

Wawancara antara jurnalis dan Atika memberikan ruang bagi penonton untuk menilik kembali sisi kemanusiaan seorang terpidana mati. Melalui kisahnya, film ini menyoroti ketimpangan hukum yang tampak tegas di permukaan, tetapi abai terhadap latar belakang yang melingkupi seseorang. Atika, seorang ibu yang terjerat kemiskinan, terseret dalam rantai peredaran obat terlarang tanpa benar-benar memahami perannya.

Dalam situasi itu, hukum hadir seolah netral dan tidak pandang bulu. Padahal, ia justru gagal melihat kerentanan yang membentuk pilihan-pilihannya. Alih-alih menjangkau akar persoalan, sistem hukum lebih sibuk menjatuhkan hukuman pada tubuh yang terlihat tanpa menyentuh pihak-pihak yang berada di baliknya. Kisah Atika menegaskan bahwa keadilan yang dijalankan tanpa memahami konteks hanya akan melahirkan putusan yang tampak sah, tetapi sesungguhnya amat timpang.

Sayangnya, film ini terasa terlalu fokus pada cerita kehidupan Atika sampai mengabaikan detail penting lainnya. Sebagai salah satu penonton, ada rasa tidak puas melihat bagaimana sosok Farooq, dalang yang menjerumuskan Atika, justru menghilang dari cerita tanpa kejelasan nasib. Selain itu, lompatan waktu yang drastis tentang kehidupan Atika terkesan terburu-buru sehingga penonton tidak diberi ruang untuk memproses bagaimana sistem hukum perlahan-lahan memakan kehidupan Atika dan Nina.

Meski demikian, film ini menunjukkan bahwa bagi negara, Atika mungkin hanya dilihat sebagai nomor urut dalam daftar eksekusi yang siap ditembak mati. Namun, bagi Nina, kalimat terakhir Atika adalah kaset kusut yang akan ia dengarkan di setiap ulang tahunnya, sebagai pengingat pahit tentang cinta ibu yang tak pernah usai.

Penulis: Alandhra Danniswara Yori Puteri

Editor: Huwaida Rafifa Yumna

Foto: Istimewa

Pers Suara Mahasiswa

Independen, Lugas, dan Berkualitas!