
Sebagai wujud upaya tanggung jawab atas konsumsi dan produksi demi keadilan iklim dan melawan kelaparan, AIESEC in Universitas Indonesia (UI), mengadakan rangkaian diskusi publik dengan tema “Significant Talks: Responsible Consumption and Production for Climate Justice”. Diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh lintas profesi, Nur Hidayati (Direktur Eksekutif Walhi Nasional), Wida Septarina (Founder dari Food Bank Indonesia), Rahmat Hidayat (Founder dari The Floating School), Alya Viva Dinar (Product Manager dari Carbon Ethics), dan Nala Amirah (Founder dari Green Welfare Indonesia). Diskusi yang diselenggarakan secara virtual tersebut dihadiri oleh ratusan pemuda dari berbagai daerah, Minggu (27/6).
Local Committee President dari AIESEC in UI, Astungkara Wibawangsa, mengatakan bahwa AIESEC UI telah menanggapi kekhawatiran pascapandemi menuju masa depan yang berkelanjutan dengan rangakaian acara Significant Impact, salah satunya adalah diskusi Significant Talks. Melalui diskusi tersebut, AIESEC UI menempatkan kepercayaan pada kaum muda sebagai kunci untuk membuka masa depan yang lebih baik. Significant Talks akan menjembatani para pemuda dengan para master di bidangnya untuk lebih mengetahui masalah ini.
Penduduk bumi, terutama anak muda harus mengubah paradigma berpikir menjadi manusia harus dapat mengendalikan ekosistem secara ramah lingkungan dan humanis, karena semua mahluk hidup di bumi saling bergantung. Perubahan tidak cukup sampai pada level individual atau kolektif saja, perubahan harus dilakukan sampai level sistemik. Anak muda harus berani untuk mengadvokasi isu ini dengan mengintervensi kebijakan melalui diskusi dengan pendapat bersama wakil-wakil rakyat. Hal inikarena bencana krisis iklim sudah terjadi menimpa Indonesia sejak lama. Jangan sampai Indonesia terlelap menggunakan energi kotor yang dapat merusak lingkungan dan anak muda yang menerima akibatnya. Hal tersebut terangkum pernyataan Nur Hidayati, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, yang mengkritik lemahnya keberpihakan negara dalam upaya penyelamatan iklim.
Wida Septarina, Founder dari Food Bank Indonesia, menyampaikan hal senada dari sektor pangan. “Indonesia adalah pembuang makanan nomor dua terbesar di dunia, di bawah India. Sementara itu, ironisnya banyak anak-anak yang masih kurang makan. Sepertiga balita Indonesia mengalami stunting, Hasil survei yang dilakukan oleh Food Bank Indonesia pada tahun 2020 mengatakan bahwa 27 persen anak Sekolah Dasar (SD) Indonesia pergi ke sekolah dengan perut kosong dan tidak makan sampai siang hari. "Oleh karena itu, Food Bank Indonesia menjembatani pihak yang berkelebihan pangan dengan pihak yang membutuhkan bantuan pangan makanan, kami mengadvokasi isu ini dengan berkolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan, terutama dari sector industri yang sudah peduli terhadap tanggung jawab sosial perusahaan,” kata Wida.
Nala Amirah, Founder dari Green Walfare Indonesia, menyampaikan kepeduliannya terhadap krisis iklim yang semakin menghantui, ia mengatakan bahwa kita harus bertindak seperti rumah kita terbakar. Sumber daya alam bumi terdegradasi dan dampaknya selalu dianggap remeh. Tanda-tandanya telah jelas oleh para ilmuwan, tetapi tidak bergerak ke arah yang benar. Itulah mengapa kaum muda perlu mengambil sikap. Tahun 2021 hingga 2030 adalah dekade yang menentukan. Masa depan ada di tangan kita. Ini adalah peran pemuda untuk meninggalkannya terserah kita untuk mengubah cara kita hidup keberlanjutan. Anak muda perlu bertanya pada diri sendiri, “Kalaubukan kamu, lantas siapa? Dan kalau bukan sekarang, kapan?”
Pendapat tersebut didukung oleh pandangan Rahmat Hidayat, Founder dari The Floating School. Ia mengatakan bahwa cara mahasiswa menanggulangi permasalah lingkungan sudah baik sampai level awareness, tetapi implementasinya perlu dipertanyakan. Kita harus merefleksikan kapasitas serta privilese yang kita miliki untuk dapat mengajak masyarakat mengubah perilaku yang bertanggung jawab atas konsumsi serta produksi demi keadilan iklim. Anak muda seyogyanya mampu menjadi katalisator dalam menyebarkan virus kebaikan. “You have to walk your talk," ujarnya.
Kemauan serta keberpihakan di sektor bisnis pun harus terus di dorong. Hal itu karena pemerintah Indonesia sudah berkomitmen untuk mengurangi emisi pada tahun 2030 kelak. Sektor bisnis melihat bahwa sudah ada perilaku konsumen yang peduli terhadap Corporate Social Responsibility(CSR). Bagi mayoritas generasi penduduk bumi saat ini selalu memandang pentingnya corporate sustainability dari sebuah perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi sektor bisnis untuk mengubah konsep operasional mereka menjadi lebih hemat, ramah, serta efisien dalam produksi dan konsumsi. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Alya Hafiza Vivadinar, Group Ecosystem Product Managerdari Carbon Ethics, pada diskusi tersebut. Pandangan ini menunjukan bahwa pentingnya kolaborasi dari lintas sektor dalam upaya mewujudkaan penyelamatan iklim.
Contact Person:
Affan Syafiq – Team Leader of Community Relations AIESEC in Universitas Indonesia
Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor