Logo Suma

Simfoni Kopi dan Stempel Karet

Redaksi Suara Mahasiswa · 30 Juli 2026
5 menit · - kali dibaca
Simfoni Kopi dan Stempel Karet

Pagi di ibu kota adalah sebuah orkestra yang dimainkan oleh konduktor amatir. Suara klakson bersahutan bak terompet sumbang, sementara deru knalpot motor berpadu dengan teriakan pedagang sayur bertindak sebagai perkusi yang tiada hentinya. Di tengah simfoni yang memekakkan telinga itu, Pak Sugeng duduk tenang di bangku panjang Warung Kopi Mang Udin.

Sebagai seorang Ketua Rukun Tetangga (RT) yang telah menjabat selama tiga periode—bukan karena ambisi politik, melainkan karena tidak ada warga lain yang mau mencalonkan diri—Pak Sugeng sudah khatam dengan ritme hiruk-pikuk negeri ini. Ia menyesap kopi hitamnya yang sedikit terlalu manis, mengamati sebuah sepeda motor yang seinnya menyala ke kiri namun berbelok tajam ke kanan. Sang pengendara, seorang ibu berdaster motif macan tutul, melenggang tanpa dosa, meninggalkan seorang pemuda yang terpaksa mengerem mendadak hingga nyaris mencium aspal.

"Negeri yang luar biasa," gumam Pak Sugeng sambil terkekeh pelan. "Hukum fisika saja bisa dikalahkan oleh keberanian emak-emak."

Mang Udin, sang pemilik warung yang sedang sibuk mengaduk mi instan, menimpali, "Namanya juga hidup, Pak RT. Kalau tertib semua, nanti malaikat pencatat amal baik dan buruk pada menganggur."

Hari ini, Pak Sugeng memiliki misi penting. Ia harus membawa setumpuk proposal ke kantor kelurahan. Tujuannya satu: meminta stempel persetujuan untuk perbaikan gorong-gorong di lingkungan mereka yang sudah beralih fungsi menjadi kolam renang dadakan setiap kali hujan turun lebih dari lima belas menit.

Dengan membawa map plastik berwarna merah muda—satu-satunya map yang tersisa di rumahnya setelah map lain dipinjam oleh anak bungsunya—Pak Sugeng berjalan kaki menuju kantor kelurahan. Perjalanan yang hanya berjarak lima ratus meter itu terasa seperti simulasi bertahan hidup. Ia harus melompati genangan air sisa hujan semalam, menghindari pedagang kaki lima yang memakan separuh trotoar, dan tersenyum basa-basi kepada setiap warga yang menghentikannya sekadar untuk mengeluhkan harga telur yang kembali meroket.

Setibanya di kantor kelurahan, hiruk-pikuk yang berbeda menyambutnya. Jika di luar adalah kekacauan fisik, di dalam ruangan ini adalah kekacauan birokrasi. Kipas angin di sudut ruangan berputar dengan bunyi berderit yang menyedihkan, seolah sedang meratapi nasibnya yang tak kunjung diganti.

Di balik meja pelayanan, duduklah Mas Yono. Ia adalah seorang pegawai administrasi yang terkenal dengan kemampuannya mengetik menggunakan metode "sebelas jari", yakni hanya menggunakan dua jari telunjuk yang mematuk-matuk keyboard bagaikan ayam mencari cacing.

"Pagi, Mas Yono," sapa Pak Sugeng sambil meletakkan map merah mudanya di atas meja.

Mas Yono mendongak dari balik kacamata tebalnya. Matanya terlihat sayu, tipikal pegawai yang kekurangan tidur tetapi kelebihan tugas administratif. "Eh, Pak RT. Ada yang bisa dibantu, Pak? Kalau mau urus surat keterangan tidak mampu, blangkonya sedang habis. Kalau mau urus KTP, sistemnya sedang dari pusat sana lagi bersila, alias down."

Pak Sugeng tersenyum maklum. "Bukan, Mas. Ini soal gorong-gorong warga. Proposal yang minggu lalu saya ajukan, katanya hari ini tinggal minta stempel Pak Lurah."

Mas Yono menghela napas panjang, sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan sebelum menyampaikan berita buruk. "Waduh, Pak. Pak Lurah sedang rapat koordinasi di kecamatan. Katanya sih membahas strategi penanggulangan banjir. Padahal, kalau stempel Bapak ini saya cap, banjir di RT Bapak sudah pasti tertanggulangi minggu depan."

Belum sempat Pak Sugeng menjawab, pintu kelurahan terbuka lebar. Seorang ibu dengan wajah memerah dan napas terengah-engah masuk ke dalam ruangan. Ia membawa setumpuk fotokopi dokumen yang tebalnya menyerupai ensiklopedia.

"Mas Yono!" serunya dengan nada oktaf tinggi. "Ini bagaimana urusan zonasi sekolah anak saya? Rumah saya dengan sekolah itu jaraknya cuma selemparan batu, tapi di sistem kok anak saya dibilang jaraknya tiga kilometer? Ini sistemnya ngukur pakai rute angkot atau bagaimana?"

Mas Yono tampak pucat. "Sabar, Bu Marni. Sistemnya memang kadang begitu. Mungkin kemarin saat mengukur, satelitnya sedang tersendat awan mendung."

Pak Sugeng hampir saja tertawa mendengar alasan absurd itu, namun ia menahannya. Ia menatap sekeliling. Di sudut lain, seorang bapak tua kebingungan mengisi formulir, sementara seorang pemuda sibuk menggerutu karena sinyal internet di ruang tunggu itu mendadak hilang timbul bak perasaan remaja yang sedang jatuh cinta.

Inilah potret kecil dari hiruk-pikuk negeri, batin Pak Sugeng. Semua orang memiliki masalahnya masing-masing, berteriak dalam frekuensi yang sama, berharap didengar oleh sistem yang sering kali tuli.

Namun, tepat ketika Bu Marni bersiap melancarkan omelan babak kedua, terdengar bunyi klik yang keras. Seketika, ruangan menjadi gelap gulita. Kipas angin yang berderit berhenti berputar. Komputer di meja Mas Yono mati total. Pemadaman listrik.

"Ya ampun!" jerit Mas Yono. "Data Bu Marni belum saya save!"

Ruangan seketika dipenuhi dengung keluhan. Panas mulai menyergap masuk, menguji kesabaran orang-orang yang sudah berada di ambang batas. Bu Marni mengipasi wajahnya dengan map dokumen, bapak tua di sudut ruangan mulai batuk-batuk, dan pemuda yang tadinya menggerutu soal sinyal kini menghela napas pasrah.

Di tengah suasana yang mulai memanas secara harfiah dan kiasan, Pak Sugeng berdiri. Bukannya ikut mengeluh, ia justru tersenyum.

"Bapak, Ibu, tenang dulu," suara Pak Sugeng yang berat dan tenang memecah kegaduhan. "Mas Yono, genset kelurahan di mana?"

"Gensetnya ada di belakang, Pak RT. Tapi... saya tidak tahu cara menyalakannya. Biasanya Mang Udin yang bantu, tapi dia kan sedang jualan," jawab Mas Yono gugup.

Pak Sugeng menoleh kepada pemuda yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. "Mas, daripada sinyalnya hilang, mending tolong nyalakan senter handphone-nya. Temani saya ke belakang."

Pemuda itu tertegun sejenak, lalu mengangguk dan menyalakan lampu kilat ponselnya. Bu Marni yang tadinya marah-marah, tiba-tiba berjalan menghampiri bapak tua yang sedang batuk, memberikan sebotol air mineral dari tasnya. "Minum dulu, Pak. Jangan dipaksa bernapas kalau udaranya pengap begini," ucapnya dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.

Di halaman belakang kelurahan, dengan pencahayaan seadanya dari layar dan lampu ponsel sang pemuda, Pak Sugeng memeriksa mesin genset yang berdebu. Tangan tuanya yang terbiasa memperbaiki berbagai perkakas warga bergerak cekatan. Ia menarik tuas genset. Sekali, dua kali, mesin itu hanya terbatuk pelan.

"Ayo dong, jangan ikut-ikutan mogok seperti birokrasi," canda Pak Sugeng sambil menyeka peluh di dahinya.

Pada tarikan ketiga, mesin menderu kencang. Lampu kelurahan berkedip sejenak sebelum menyala terang. Kipas angin kembali berputar dengan bunyi berderitnya yang khas—yang entah mengapa, kini terdengar seperti melodi yang melegakan.

Ketika Pak Sugeng dan pemuda itu kembali ke ruang depan, suasana telah berubah. Bu Marni sedang berbincang hangat dengan sang bapak tua, membantunya membacakan formulir yang tulisannya terlalu kecil. Mas Yono, yang komputernya perlahan menyala, menatap Pak Sugeng dengan mata berbinar.

"Terima kasih banyak, Pak RT. Kalau tidak ada Bapak, bisa matang kita semua di dalam sini," kata Mas Yono.

"Sama-sama, Mas. Kita ini hidup di negara yang serba repot. Kalau kita ikut-ikutan repot dan cuma bisa mengeluh, ya selamanya kita hidup dalam kegelapan," balas Pak Sugeng sambil duduk kembali di kursinya.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Pak Lurah, dengan kemeja safarinya yang rapi, melangkah masuk. "Lho, kok bau asap genset? Habis mati lampu ya?" tanyanya retoris.

Mata Pak Lurah tertuju pada map merah muda di atas meja. Ia mengambilnya, membacanya sekilas, lalu menatap Pak Sugeng. "Gorong-gorong RT 03 ya, Pak Sugeng? Bagus ini. Semalam saya hampir terperosok ke sana waktu keliling ronda."

Tanpa banyak birokrasi lagi, Pak Lurah mengeluarkan stempel dari laci meja Mas Yono. Dengan satu gerakan mantap, ia mencapkan stempel itu di atas proposal Pak Sugeng. Brak! Bunyi stempel itu terdengar begitu memuaskan.

"Langsung serahkan ke bagian pekerjaan umum ya, Pak. Biar besok materialnya segera turun," kata Pak Lurah sambil tersenyum.

Matahari sudah meninggi ketika Pak Sugeng keluar dari kantor kelurahan. Udara Jakarta terasa semakin panas, kemacetan di jalan raya semakin mengular, dan suara klakson kembali bersahutan. Hiruk-pikuk negeri ini belum berubah, dan mungkin tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Birokrasi mungkin masih akan sering berjalan di tempat, sistem akan sesekali tersendat, dan permasalahan akan terus bermunculan seiring berjalannya waktu. Namun, seraya menggenggam erat map merah muda di tangannya, Pak Sugeng melangkah dengan dada lapang.

Ia menyadari satu hal yang penting: di balik segala kekacauan, keluhan, dan bisingnya negeri ini, selalu ada ruang untuk harapan. Selalu ada gotong royong yang secara spontan lahir ketika kegelapan melanda. Ada empati di balik omelan seorang ibu, dan ada kepedulian yang menyatukan mereka di tengah keterbatasan.

Negeri ini memang bising dan sering kali merepotkan. Namun, bagi Pak Sugeng, hiruk-pikuk ini bukanlah sekadar suara sumbang. Ia adalah detak jantung kehidupan; bukti nyata bahwa orang-orang di dalamnya masih terus berjuang, masih terus peduli, dan tidak pernah benar-benar menyerah pada keadaan. Dan selama semangat itu masih ada, masa depan yang lebih baik, sekecil apa pun bentuknya—entah itu zonasi sekolah yang adil atau sekadar gorong-gorong yang tidak lagi banjir—selalu layak untuk diperjuangkan.

Penulis: Saypulloh Mahpud

Editor: Huwaida Rafifa Yumna

Foto: Istimewa

Pers Suara Mahasiswa

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap