Logo Suma

Talkshow UI Sehat Mental: Berjuang Bersama Agar Saling Berdaya

Redaksi Suara Mahasiswa · 9 Desember 2023
3 menit

Tepat pada hari Jumat tanggal 8 Desember 2023, UI Sehat Mental menggelar acara “Talkshow UI Sehat Mental 6.0” dengan menghadirkan dua narasumber, yakni psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Pratiwi Widyasari, serta penyanyi sekaligus mahasiswa FEB UI 2020, Kalya Islamadina.

Acara ini diselenggarakan secara daring dan sebelumnya telah didahului dengan pameran secara luring di Balai Purnomo, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Tahun ini, UI Sehat Mental mengangkat tema “Perdjoeangkan Diri dan Sesama”. Acara diawali dengan sesi sambutan oleh Wuri Setyawati selaku dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang kemudian diikuti oleh sambutan dari ketua pelaksana UI Sehat Mental, Farizka Akhena.

UI Sehat Mental merupakan program kerja yang dinaungi oleh Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM Fakultas Psikologi UI. Sebelumnya, UI Sehat Mental telah menyelenggarakan pameran dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia sebagai bentuk kerja sama dengan Malam Bercerita pada bulan Oktober lalu. Target yang ditujukan oleh gerakan UI Sehat Mental adalah civitas UI.

“Sebagai penutup dari rangkaian kegiatan UI Sehat Mental 6.0, tahun ini kami membawakan juga talkshow dengan harapan dapat menjadi wadah untuk berbagi, menginspirasi, dan juga saling berdiskusi terutama tentang topik mengenai keberdayaan yang menjadi fokus utama UI Sehat Mental,” ucap Khena.

Tema talkshow yang dibawakan tahun ini menyampaikan pesan bahwa manusia yang berhasil memperjuangkan dirinya berarti juga berhasil dalam memberdayakan diri maupun orang lain. Memasuki sesi bincang bersama kedua narasumber, audiens dibawa kepada bahasan bagaimana arti berdaya yang sesungguhnya.
Pratiwi Widyasari atau yang akrab dipanggil Wiwid menjelaskan apa arti berdaya bagi dirinya, “Sepertinya kalau membicarakan mengenai empowerment atau keberdayaan itu seperti ada rasa kita memiliki hidup ini. Jadi, kita punya kebebasan untuk mengambil kontrol dan pilihan untuk menentukan sesuatu akan apa yang ingin kita pilih dalam hidup. Kadang-kadang ada orang yang mungkin merasa tidak berdaya karena mereka tidak punya kesempatan untuk memilih apa yang sebenarnya mereka inginkan. Termasuk juga mereka tidak berdaya karena tidak punya kontrol akan hidup mereka sendiri.”

Menurut Wiwid, kebebasan, kesempatan untuk mengambil kontrol, serta rencana hidup yang ingin dituju ke depannya merupakan bagian dari keberdayaan. Sementara menurut Kalya, berdaya baginya berarti ia merasa mampu dan mandiri untuk melakukan sesuatu sesuai dengan nurani hatinya tanpa merugikan orang lain. Baginya, rasa keberdayaan itu juga didukung oleh lingkungan yang berdaya.

Selepas membahas makna dibalik kata berdaya, kedua narasumber juga membagikan cerita bagaimana mereka pernah merasa tidak berdaya hingga kemudian mampu untuk bangkit kembali.

“Sebenernya banyak banget momen ketika aku merasa tidak diberdayakan dalam hidupku, dan aku biasanya merasa tidak berdaya ketika aku masuk ke lingkungan baru. Menemukan orang-orang baru yang mungkin tidak begitu ramah dalam menerima aku di dalam lingkungan tersebut,“ ungkap Kalya dalam sesi talkshow.

Kalya bercerita ia sempat merasa tak berdaya ketika pertama kali terjun ke dunia content creator, di mana lingkungan tersebut membiarkan orang-orang sebagai audiensnya untuk berkomentar dan mempersepsikan tentang dirinya berdasarkan apa yang ia taruh di media sosial. Namun, setelah lama belajar dan melakukan refleksi diri, Kalya tersadar bahwa salah satu cara terbaik untuk melawan ketidakberdayaan tersebut adalah dengan menjadi diri sendiri dan menjadikan penilaian dari orang lain sebagai evaluasi diri.

Selain itu, kedua narasumber juga menjelaskan mengapa memberdayakan diri dan lingkungan itu penting. Menurut Kalya, jika manusia menaruh kemampuan dan kebahagiaannya pada orang lain, pada akhirnya ketika ia hidup sendiri, ia menjadi tidak mampu melakukan sesuatu dan bingung harus melakukan apa. Nihilnya pengenalan terhadap potensi diri juga memicu seseorang untuk sulit berjuang di jalan yang mereka inginkan.

“Manusia itu makhluk sosial. Kadang kita mendapat energi dari orang lain. Apa yang kita refleksikan ke lingkungan kita akan berbalik kepada kita sendiri. Kita juga akhirnya berada di lingkungan yang membuat kita mampu untuk melakukan sesuatu secara mandiri dan menjadi diri sendiri,” ujar Kalya.

Untuk menciptakan lingkungan yang saling memberdayakan, tentunya ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk diri sendiri maupun orang lain. Contohnya, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berdiskusi atau mengambil keputusan ketika tergabung ke dalam suatu organisasi.

“Terkadang kita suka lupa. Kita tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk berdaya atau ruang untuk berbuat salah. Dalam hal ini, yang perlu dilakukan adalah, bisa nggak mereka diberikan kesempatan untuk berdiskusi serta mengambil keputusan agar mereka ikut berperan di dalam proses berorganisasi itu sendiri,” tutur Wiwid.

Usai sesi bincang berakhir, rangkaian acara dilanjutkan ke sesi tanya jawab antara peserta dengan narasumber kemudian dokumentasi sebagai ucapan terima kasih dari panitia UI Sehat Mental terhadap kedua narasumber. Sebelum memasuki penghujung acara, diadakan sesi games  yang didampingi oleh moderator lalu ditutup oleh pengisian formulir evaluasi acara oleh peserta.

Teks: Sarah Khansa Alexandra

Foto: Sarah Khansa Alexandra

Editor: M. Rifaldy Zelan

Pers Suara Mahasiswa UI 2023

Independen, Lugas, dan Berkualitas!