Logo Suma

Tanah Bersama Para Raksasa

Redaksi Suara Mahasiswa · 30 September 2026
5 menit · - kali dibaca
Tanah Bersama Para Raksasa

Di Jalan Pertanian Cipayung Jaya No. 50, Kelurahan Cipayung Jaya, truk-truk jingga pengangkut sampah datang silih berganti membawa sisa-sisa konsumsi dari 11 kecamatan yang ada di Kota Depok. Jalanan mengular oleh kendaraan tanpa jeda. Semakin dekat ke TPA Cipayung, bau busuk semakin pekat menyergap.

Bagi warga yang melintas, masker menjadi penyelamat instan. Mereka tinggal menutup hidung, menggerutu, lalu menancap gas sedalam-dalamnya. Namun, bagaimana dengan mereka yang tak punya pilihan selain tinggal tepat di bawah kaki gunungan sampah yang kian menjulang?

Sepuluh tahun lalu, pemandangan dari jendela rumah Laras (nama samaran) tidak sepekat sekarang.

“Kalau saya awal di sini sih, belum ada. Masih rata,” kenang laras. Suaranya pelan, menerawang ke masa ketika TPA Cipayung belum menjelma tumpukan sampah.

Waktu mengubah semuanya. Volume sampah terus bertambah hingga tumpukannya melampaui pagar pembatas. Laras mengingat sekitar 2020 saat tanah yang semula landai mulai meninggi, menumpuk, dan berubah menjadi bukit buatan.

Kini, gunungan sampah itu menjadi bagian dari keseharian warga. Dampaknya bahkan merembes hingga ke ruang tamu rumah mereka.

"Bau aja," ujar Laras datar ketika ditanya hal yang paling mengusik hari-harinya.

Bau itu memang tidak datang sepanjang waktu. Ia menguat pada musim hujan, menyelinap pada dini hari, dan semakin terasa ketika tumpukan sampah disemprot cairan tertentu. Ketika musim lalat tiba, serangga pun sesekali memenuhi pekarangan rumah.

Meski begitu, Laras mengatakan keluarganya belum mengalami gangguan kesehatan serius. Ia juga melihat air tanah di rumahnya masih aman digunakan.

Sedikit lebih dekat ke arah TPA, asap tipis mengepul dari sebuah warung toko kelontong sederhana. Di sana, Rida (bukan nama sebenarnya) menghabiskan hari-harinya bersama sang anak. Baginya, perubahan TPA Cipayung adalah perubahan rekaman hidupnya. Ia tinggal di kawasan itu sejak mengikuti orang tuanya sekitar tiga dekade lalu.

"Udah banyak sampahnya jadi gunung gitu ya sekarang," ujarnya sambil menunjuk ke arah luar.

Tiga puluh tahun adalah waktu yang panjang untuk hidup berdampingan dengan tempat pembuangan sampah. Deru truk, jalanan yang bising, debu yang beterbangan, hingga aroma sampah telah menjadi bagian dari kesehariannya.

"Karena udah lama banget di sini, ya jadi terbiasa," ucapnya lirih.

Namun, terbiasa bukan berarti tanpa gangguan. Ketika fajar menyingsing atau hujan membasahi tanah, bau busuk tetap masuk ke rumah. Debu jalanan menempel pada barang dagangan. Asap pembakaran sampah pun sesekali menjadi bagian dari udara yang mereka hirup.

Ada pula kecemasan yang tak selalu terlihat: kebakaran dan kemungkinan longsor pada timbunan sampah. "Kemarin aja seperti ada kebakaran gitu," cerita Rida.

Ketika api dari tumpukan sampah mendekati permukiman, rasa terbiasa itu seketika berganti kepanikan.

Bahaya yang Merayap Sunyi

Bagi warga, persoalan TPA paling mudah dikenali melalui apa yang ditangkap indra: bau, asap, banjir, atau api. Keluhan-keluhan itu pula yang beberapa kali mendorong warga menyuarakan protes atas kondisi di sekitar TPA. Namun, di balik persoalan yang terlihat, terdapat pula risiko lain yang tidak selalu dapat dirasakan secara langsung.

Gabriel Soedarmini Boedi Andari, Dosen Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa persoalan di TPA Cipayung tidak berhenti pada banyaknya sampah yang menumpuk. Persoalannya juga terletak pada bagaimana sampah itu dikelola.

Menurut Andari, ketika sampah tidak diolah secara memadai, proses penguraian berlangsung dan menghasilkan berbagai material yang berpotensi mencemari lingkungan.

karena curah hujan tinggi, maka jumlah air yang masuk ke dalam sampah menjadi tinggi. Lalu dengan proses penguraian yang ada, berbagai macam material yang terdekomposisi kemudian terbawa oleh air tersebut dan bisa masuk ke dalam lapisan air tanah, lalu mengalir ke daerah sekitarnya, menjadi lindi yang lebih banyak, dan lain sebagainya. Sehingga salah satu risikonya pada musim hujan adalah terjadinya pencemaran air yang luar biasa,” papar Andari.

Penjelasan tersebut memberi konteks pada perubahan yang dirasakan warga ketika musim hujan tiba. Bagi Laras dan Rida, bau yang semakin kuat mungkin hanya terasa sebagai gangguan sehari-hari. Namun, persoalan di baliknya dapat berkaitan dengan proses pencemaran yang tidak kasatmata.

Risiko lain muncul ketika musim kemarau. Timbunan sampah yang mengering dapat lebih mudah terbakar dan memicu kebakaran terbuka atau open burning. Kata Andari, asap dari pembakaran sampah juga menjadi persoalan karena dapat mengandung berbagai polutan. Tanpa pengendalian yang memadai, polutan tersebut dapat terhirup oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi. Bahaya itu tidak selalu datang dengan suara keras. Sebagian justru bergerak perlahan, terbawa air dan udara.

Di tengah antrean truk yang seolah tak pernah putus, Rida menyimpan satu harapan sederhana. "Pengen segera apa? Lebih pengelolaan gitu, [karena] makin banyak truknya kan.”

Harapan itu terdengar sederhana: pengelolaan sampah yang lebih baik. Namun, persoalan yang dihadapi Cipayung jauh lebih besar daripada sekadar banyaknya truk yang keluar-masuk.

Andari mengingatkan bahwa timbunan sampah di Cipayung pada dasarnya merupakan produk dari pola konsumsi masyarakat Kota Depok. Sampah yang tiba di TPA berasal dari aktivitas warga setiap hari. Karena itu, menurutnya, menyelesaikan persoalan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi.

“Depok punya UPS, unit pengolahan sampah yang melakukan proses pemilahan, lalu proses komposting, juga maggot yang ada di UPS-UPS tersebut. Tapi memang tantangannya adalah juga peran serta masyarakat, artinya kalau semuanya pemilahan dibebankan pada UPS, ya UPS-nya kewalahan. Jadi dalam soal sampah, masyarakat harus sangat terlibat, terutama dari sisi pemilahan,” katanya.

Ia melihat Universitas Indonesia sebagai salah satu pihak yang dapat dilibatkan dalam upaya tersebut. "Kalau katakanlah Pemkot Depok mengetuk pintu Universitas Indonesia, dugaan saya sih UI akan dengan senang membantu."

Di sisi lain, Pemerintah Kota Depok telah menjalin kolaborasi dengan PT Bintang Sakera Abadi (BSA) melalui pembangunan fasilitas pengolahan sampah terpadu. Fasilitas itu dirancang untuk mengolah sampah menjadi energi alternatif dan material daur ulang melalui teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).

Dikutip dari Berita Depok, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, menyadari dampak persoalan persampahan terhadap warga yang tinggal di sekitar TPA.

Namun, pengolahan di titik akhir bukan satu-satunya persoalan. Selama sampah terus datang dalam jumlah besar, tekanan terhadap lingkungan di sekitar TPA juga akan terus berlangsung. Sebab, persoalan sampah tidak berakhir ketika truk jingga meninggalkan rumah-rumah di pusat kota. Sisa konsumsi yang dibuang dari satu tempat akan menjadi beban bagi tempat lain.

Andari menutup wawancaranya dengan mengingatkan bahwa pencemaran udara memiliki jangkauan yang jauh melampaui batas administratif. "Kalau kita tidak melakukan gerakan bersama untuk memperbaiki sistem persampahan di Depok, maka pencemaran udara itu bisa lari ke mana-mana.”

Bagi mereka yang tinggal jauh dari Cipayung, TPA mungkin hanya tampak sebagai titik akhir dari barang-barang yang sudah tidak lagi diinginkan. Namun bagi Laras, Rida, dan anak-anak yang tinggal di sekitarnya, gunungan sampah itu bukan sekadar tempat pembuangan.

Ia adalah bagian dari lanskap yang mereka lihat setiap hari, bau yang mereka hirup, dan ancaman yang sewaktu-waktu bisa datang bersama air, api, atau angin. Di tanah yang sama, kota membuang sisanya. Warga di sekitarnya yang hidup bersama akibatnya.

Tim Suara Mahasiswa UI telah berusaha menghubungi Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok. Namun, hingga artikel ini diterbitkan, pihak DLHK Kota Depok belum memberikan respons.

Purnama, I. (2026, September 8). Begini Cara Kerja RDF Plant TPA Cipayung Olah Sampah jadi Energi Alternatif. Berita Depok. https://berita.depok.go.id/begini-cara-kerja-rdf-plant-tpa-cipayung-olah-sampah-jadi-energi-alternatif. Diakses tanggal 23 September 2026.

Teks: Alya Noor Fathiah, Raden Ajeng Alya Nurintan Devina

Editor: Zulianikha Salsabila Putri

Foto: Alya Noor Fathiah

Desain: Shahwa Masyita

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap

Teks

Alya Noor Fathiah

Editor

Zulianikha Salsabila Putri

Foto

Alya Noor Fathiah

Desain

Shahwa Masyitha