
By Dimas Andriansyah
Judul: The Promised Neverland
Genre: Sci-Fi, Mystery, Horror, Psychological, Thriller, Shounen.
Sutradara: Mamoru Kanbe
Skenario: Toshiya Ono
Pengisi suara: Sumire Morohoshi, Maaya Uchida, Mariya Ise, dll.
Pengarang: Shirai Kaiu
Ilustrator: Demizu Posuka
Tahun rilis: 2019
Jumlah episode: 12
“Even if it’s impossible, I want to escape with everyone.”
Begitulah ucap Emma ketika ia membulatkan tekad untuk melarikan diri dari panti yang telah membesarkannya. Kisah The Promised Neverland berkutat di sekitar Emma, Norman, dan Ray: tiga anak tertua dan tercerdas di panti asuhan Grace Field, sebuah panti yang memiliki hamparan hijau yang cukup luas dan dikelilingi hutan. Di panti tersebut, mereka diasuh oleh seorang “mama”. Bersama dengan ke-35 anak lain, kehidupan mereka terbilang cukup baik. Mereka memiliki Mama yang selalu menyayangi mereka, selalu memiliki makanan dan pakaian yang cukup, bahkan memiliki semacam sistem pendidikan sendiri dan perpustakaan. Ditambah lagi, mereka mendapat jaminan untuk diadopsi sebelum usia mereka menginjak 12 tahun. Bisa dikatakan ini cukup ideal untuk anak panti.
Kecurigaan muncul ketika teman-teman mereka yang telah lebih dulu mendapat giliran adopsi tidak pernah mengirim surat atau melakukan kontak dengan mereka. Lalu, muncullah Conny, anak yang pada hari itu akan menemui keluarga barunya, ia berkata bahwa ia mengirim banyak surat dan tidak akan melupakan mereka, sambil tersenyum. Ia kemudian diantar Mama menuju gerbang, tetapi di ruang makan, Emma menemukan Little Bunny–boneka kesayangan Conny–masih berada di sana. Bersama Norman, ia kemudian melintasi lapangan untuk menyusul Conny. Namun sesampainya di sana, ia tidak menemukan Conny, dan saat ia hendak menaruh boneka tersebut di dalam sebuah mobil truk, ia menemukan Conny yang sudah mati dengan kondisi sudah pucat dan mata terbelalak.
Mendengar suara yang dihasilkan oleh Emma dan Norman, dua monster pun muncul dan menyelidiki sumber suara tersebut. Beruntungnya mereka tidak berhasil menemukan Emma dan Norman, mereka lalu memasukkan tubuh pucat Conny ke dalam sebuah tabung yang kemudian akan dikirim ke suatu tempat. Emma dan Norman yang sudah berhasil kabur sekarang menyadari kebenaran dari panti tersebut yang sejatinya adalah peternakan manusia. Dengan menelan kenyataan pahit tersebut, Emma, Norman, dan Ray, mencari cara agar dapat melarikan diri dari panti tersebut dengan anak-anak lain dan bertahan hidup.
The Promised Neverland menyajikan alur cerita yang begitu menarik, cepat, dan padat pada setiap episodenya. Cerita dari anak-anak panti ini cukup tajam, memiliki banyak hint tersembunyi dan berbagai plot twist yang bertebaran di sepanjang episode, sehingga menuntut konsentrasi lebih untuk menonton. Kualitas anime ini dibuktikan dengan didapatkannya skor 8.65 dari penilaian 500,074 pengguna di situs My Anime List dan berhasil menduduki peringkat ke-53 dari seluruh anime sepanjang sejarah (My Anime List, 20 Oktober 2020).
Dilema moral juga dirasakan seiring dengan serial ini berlangsung. Awalnya mungkin kita mengutuk Mama Isabella karena sudah membohongi semua anak-anaknya dan membiarkan mereka mati menjadi santapan. Namun, dari keberadaan panti yang merupakan peternakan dan fakta bahwa monster yang tampil di awal episode hanyalah kurir, menunjukkan bahwa yang menanti mereka di luar panti adalah masyarakat monster yang berakal dan terorganisasi. Walaupun hanya kurang dari 12 tahun, setidaknya anak-anak tersebut telah mengalami kehidupan yang bahagia, karena di luar sana, tidak ada tempat untuk manusia.
Meski dengan berbagai respon positif yang telah dipaparkan, anime ini dinilai memiliki satu plot hole yang banyak mendapat sorotan, yaitu mengenai cara Emma dan Norman melarikan diri dari gerbang. Respons audiens pun beragam, ada yang tidak terlalu mempermasalahkannya karena sisa cerita pada musim pertama dieksekusi dengan baik, tetapi terdapat pula audiens yang mengkritik keras plot hole ini.
Fakta unik dalam serial ini terlihat dari pencantuman angka enam digit pada setiap awal episode yang menandakan latar waktu anime tersebut dengan format DDMMYY. Dengan memperhatikan tanggal ini, kita dapat dibantu untuk memahami dan menganalisis korelasi alur cerita yang terhubung dari satu episode dengan episode sebelumnya.
Selain plot, fitur menarik lain dari anime ini adalah bagaimana pihak CloverWorks membawakan kesan horror dan thriller dengan cara berbeda. Kengerian dan ketegangan pada film bergenre horror dan thriller umumnya didapat dari adegan pembunuhan yang melibatkan banyak darah. Akan tetapi, tidak banyak adegan pembunuhan sepanjang serial ini. Ketegangan justru didapat dari adegan-adegan sederhana seperti makan dan bermain kejar-kejaran. Hal ini dapat terjadi karena animasi, efek suara, dan pemilihan angle yang sangat mendukung, sehingga dapat menciptakan suasana menegangkan bahkan di situasi yang sebenarnya biasa saja sekali pun.
Dua lagu penutup yang dibawakan oleh Cö shu Nie juga patut mendapat apresiasi lebih. Menutup setiap episode pada anime ini dan dilengkapi dengan visual yang mendukung, dua lagu yang dibawakan baik “Zettai Zetsumei” (Episode 1-8) maupun “Lamp” (Episode 9-12), menguatkan kesan perjuangan anak-anak ini dalam menghadapi keputusasaan.
Secara keseluruhan, anime ini adalah tontonan yang cocok bagi yang menyukai cerita misteri yang menegangkan dan beralur cepat. Sebagai tambahan, lebih disarankan menonton anime ini ketika kita sedang memiliki waktu luang yang cukup lapang, yakni dengan fokus tanpa menyambi makan dan lainnya, sehingga bisa menikmati alur cerita dengan lebih mendalam.
Teks: Dimas Andriansyah
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M
Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas dan Berkualitas!
Kontributor