
Judul Film : The Shape of Water
Sutradara : Guillermo del Toro
Produser : Guillermo del Toro, J. Miles Dale, Callum Greene
Genre : Romansa, Fantasi
Tanggal Rilis : 13 Maret 2018
Durasi : 1 jam 57 menit
Pemain : Sally Hawkins, Doug Jones, Octavia Spencer, Richard Jenkins, Michael Shannon, Michael Stuhlbarg, Lauren Lee Smith
Sinopsis
Sesuai dengan judulnya, film ini dimulai dengan menampilkan kondisi ruangan yang dipenuhi air dengan visual gelap dramatis dan diiringi narasi puitis. Kemudian scene beralih menampilkan seorang perempuan yang baru terbangun dari tidur dan memulai aktivitasnya. Diketahui bahwa perempuan tersebut bernama Elisa yang merupakan gadis yatim piatu dan bisu. Elisa bekerja sebagai petugas kebersihan yang selalu bekerja shift malam di sebuah laboratorium rahasia milik pemerintah.
Kehidupan Elisa terlihat cukup kesepian karena kemampuan komunikasinya yang terbatas sehingga membuatnya kurang bisa bersosialisasi. Sebagai penyandang tunawicara, ia juga terkadang mendapat perlakuan yang semena-mena. Ia hanya memiliki seorang teman yang merupakan tetangganya bernama Giles. Hubungan antara Gilles dan Elisa sudah seperti hubungan ayah dan anak karena Gilles juga memiliki latar kehidupan yang sama kesepiannya seperti Elisa.
Di tempatnya bekerja, Elisa hanya memiliki seorang teman dekat bernama Zelda yang merupakan rekan kerjanya. Tak hanya sebagai teman, Zelda juga merupakan penerjemah bahasa isyarat bagi Elisa. Hanya Zelda yang mengerti mengenai Bahasa Isyarat Amerika yang digunakan oleh Elisa.
Suatu hari, fasilitas laboratorium tersebut kedatangan tamu baru. Lebih tepatnya kedatangan sebuah makhluk amfibi-humanoid yang baru ditangkap oleh seorang Kolonel bernama Richard dari sungai Amerika Selatan. Makhluk tersebut sepertinya tidak senang berada di sana, ditambah Richard membawanya dengan cukup kejam. Tak ayal, makhluk itu menerkam jari Richard hingga darah bercipratan di lantai.
Sebagai petugas kebersihan, Elisa yang melihat ada darah di lantai pun segera membersihkannya. Di sanalah Elisa bertemu dengan makhluk itu yang disebut sebagai “aset” oleh Richard. Merasa tertarik dengan aset tersebut, Elisa mencoba melihat lebih dekat dan terlihat bahwa makhluk itu diborgol dengan rantai logam yang berat.
Semenjak itu, ia mulai sering mengunjungi makhluk tersebut. Entah sekadar berbagi telur rebus kesukaannya ataupun mendengarkan musik bersama melalui fonograf portabel. Perawakannya yang humanoid (seperti manusia) membuat Elisa menganggap makhluk tersebut sebagai temannya. Kemampuannya untuk menggunakan bahasa isyarat juga turut mempermudah komunikasi diantara mereka. Lambat laun Elisa dan makhluk tersebut saling jatuh cinta
Sebagai sebuah “aset”, makhluk tersebut akan dibedah untuk dipelajari anatominya. Elisa mendengar hal tersebut dan tidak ingin “kekasih”-nya tersebut mati. Ia mencuri makhluk tersebut dan membawanya ke apartemen dengan bantuan Zelda dan Gilles. Hal ini tentu menimbulkan kericuhan di laboratorium yang mengakibatkan Elisa dicari-cari sebagai dalang dari hilangnya aset di laboratorium tersebut. Namun pada akhirnya Elisa terpaksa harus membebaskan makhluk tersebut ke sungai karena makhluk tersebut terlihat makin lemah dengan air yang tidak memadai dari apartemennya.
Elisa tertangkap oleh orang-orang dari laboratoriumnya ketika hendak melepaskan makhluk tersebut dan makhluk itu menarik Elisa untuk mengikutinya ke dalam air. Makhluk tersebut mengubah bekas luka di leher Elisa menjadi insang dan membuatnya memiliki kemampuan untuk bernapas di dalam air. Hal ini mengakibatkan mereka dapat melarikan diri dari tangkapan orang-orang laboratorium dan film pun berakhir.
Realita Perjuangan Manusia Mengisi Kekosongan dalam Diri Mereka
Dengan berlatar tahun 1960-an dan di masa perang dingin Amerika dengan Uni Soviet, film ini menyajikan permasalahan yang cukup umum bagi beberapa orang beberapa tahun terakhir ini. Karakter utamanya merupakan “putri tanpa suara” dengan sifatnya yang ceria di dunianya sendiri. Namun saat berkaitan dengan dunia asli, ia akan merasa dirinya bukanlah siapa-siapa. Orang yang tidak bisa bicara sama terasingnya dengan orang-orang kulit hitam pada tahun 60-an itu.
Ketiadaan dialog yang dilontarkan oleh karakter utamanya membuat film ini seolah ingin menyampaikan pesan bahwa ada bagian terdalam dari diri manusia yang masih kosong dan perlu diisi. Elisa mengisi kekosongan hatinya dengan menghabiskan waktu dengan makhluk tersebut. Dengan komunikasi bahasa isyarat, makhluk tersebut tidak mengerti bahwa Elisa berbeda di mata sesama manusia. Hal inilah yang membuat Elisa merasa tidak lagi mempunyai kekurangan ketika bersama dengan makhluk tersebut. Perasaan ini juga tergambar dari dialog Elisa yang mengatakan “When he looks at me … he sees me for what I am”.
Kekosongan juga dirasakan oleh karakter lain yakni Richard. Meski digambarkan sebagai sosok yang keji, tetapi pada beberapa kesempatan film ini mengajak penonton untuk mengerti bahwa Richard juga sama berjuangnya untuk mengisi kekosongan di dalam dirinya. Bedanya, bagi Richard, kekosongan dalam dirinya digambarkan berupa kehebatan yang ia dambakan dari keberhasilannya membedah makhluk tersebut.
Terlepas dari genre fantasinya, plot konflik personal yang disuguhkan film ini nyatanya erat kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Perlakuan terhadap minoritas pada tahun 60-an masih dapat dijumpai hingga kini. Bahkan, konflik personal Richard pun tak ayal sering pula terlihat sebagai fenomena sosial pada zaman kini.
Kelebihan dan Kekurangan
Sebagai ahlinya makhluk-makhluk rekaan, Guillermo del Toro selalu menggarap karyanya dengan penuh totalitas. Hal ini juga tercermin dari penyajian makhluk imajinatif dengan visual yang sangat detail dalam film ini. Alih-alih membuat makhluk seram dengan sifat brutal seperti pada karya-karyanya kebanyakan, pada film ini ia justru menuangkan rasa kemanusiaan dan pemikiran cerdas pada makhluknya.
Sinematografi sepanjang film yang dibuat dengan nuansa gelap namun indah membuat efek magis dan dreamy menjadi lebih terasa. Selain itu, karakter utamanya yang dibuat bisu menambah kesan film zaman dahulu. Dengan latar waktu di perang dingin Amerika dan Uni Soviet dan musik-musik yang menggambarkan perasaan karakter utama membuat penonton seperti mendengarkan dongeng dari del Toro.
Dengan berbagai kelebihan pada film ini, tak heran jika The Shape of Water terpilih sebagai “Top 10 Film of the Year” oleh American Film Institute. Selain itu, film ini juga mampu menyabet beberapa penghargaan lain seperti Golden Lion di Venice Film Festival ke-74 dan meraih penghargaan di Golden Globe Award 2018 dengan tujuh nominasi yakni best supporting actor, best supporting actress, best actress, best director, best motion picture, best original score, dan best screenplay.
Namun demikian, berbagai penghargaan yang diraih tak membuatnya luput dari kekurangan. Jika penonton cukup teliti, alur cerita pada film ini sebenarnya cukup klasik. Kisah cinta antara dua makhluk berbeda sebenarnya lumayan sering dijadikan plot dalam cerita, Beauty and the Beast misalnya. Namun jika kamu mengharapkan ending romantis seperti Beauty and the Beast, sayangnya film ini tidak menyuguhkannya dalam bentuk seperti itu. Tapi kalau kamu suka dengan kisah cinta antimainstream yang disuguhkan dengan cara yang antimainstream pula, film ini layak untuk kamu tonton.
Teks: Alifya Awalia Dhiva
Editor: Dimas Rama S.W.
Foto: Istimewa
Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor