Logo Suma

UI Kembangkan Model Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas Melalui Kolaborasi Indonesia - Korea Selatan

Redaksi Suara Mahasiswa · 11 Juli 2026
5 menit · - kali dibaca
UI Kembangkan Model Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas Melalui Kolaborasi Indonesia - Korea Selatan

Universitas Indonesia (UI) kembali menunjukkan perannya dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui program pengabdian masyarakat bertaraf internasional. Melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS), UI menginisiasi program kolaborasi Indonesia–Korea Selatan yang berfokus pada pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas di Rusunawa KS Tubun, Jakarta Barat.

Program ini merupakan bagian dari Pengabdian Masyarakat Internasional Universitas Indonesia yang didukung oleh hibah Program Enhancing Quality Education for International Impacts and Recognition (EQUITY). Dalam pelaksanaannya, UI berkolaborasi dengan Korea-Indonesia Connection (KIC) FISIP UI, Ink & Talk Community, Karang Taruna Rusunawa KS Tubun, serta mahasiswa dari sejumlah universitas di Korea Selatan. Kolaborasi itu tidak hanya memperkenalkan praktik pengelolaan sampah yang telah berkembang di Korea Selatan, tetapi juga mengembangkan model yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia lewat pendekatan partisipatif.

Pengelolaan sampah di kawasan hunian vertikal menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi masyarakat perkotaan. Keterbatasan ruang, belum optimalnya sistem pemilihan sampah dari sumber, serta perlunya perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor yang mendorong lahirnya program ini. Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang dengan memadukan edukasi, pertukaran pengetahuan, pelatihan kepemimpinan, hingga praktik pengelolaan sampah secara langsung agar masyarakat tidak hanya memahami konsep, melainkan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi Global Berakar dari Pengalaman Pribadi

Intan Syafira Gustia, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia sekaligus Secretary-General Korea-Indonesia Connection (KIC) FISIP UI, menjelaskan bahwa gagasan program ini lahir dari pengalaman sejumlah akademisi UI yang pernah menempuh studi di Korea Selatan.

“Program ini berangkat dari shared-experience yang dimiliki oleh beberapa dosen yang merupakan lulusan universitas di Korea Selatan. Selama studi di sana, kami beradaptasi dan telah membangun kebiasaan memilah sampah sebagaimana sistem yang telah diwajibkan di sana. Sayangnya habit ini terpaksa pudar setelah balik ke Indonesia karena belum adanya sistem pengolahan sampah yang sepadan, yang mana menjadi salah satu concern atau hal yang menurut kami perlu dibenahi.”

Menurut Intan, pengalaman itu juga dirasakan oleh mahasiswa Korea Selatan yang tinggal di Indonesia. Mereka melihat adanya perbedaan yang cukup signifikan dalam praktik pengelolaan sampah di kedua negara. Kondisi ini kemudian mendorong lahirnya sebuah program yang tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan sistem dari Korea Selatan, tetapi juga membuka ruang pembelajaran bersama untuk mencari solusi yang sesuai dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Ia menambahkan bahwa pemilihan Korea Selatan sebagai mitra bukan tanpa alasan. Negara itu dinilai memiliki sistem pemilahan sampah yang telah berjalan secara konsisten, terutama di kawasan hunian vertikal, sehingga dapat menjadi salah satu referensi dalam mengembangkan praktik serupa di Indonesia.

Mendorong Peran Pemuda sebagai Agen Perubahan

Sebelum program dilaksanakan, tim melakukan asesmen awal terhadap kondisi pengelolaan sampah di Rusunawa KS Tubun. Hasil asesmen menunjukkan bahwa meskipun warga telah memiliki akses terhadap layanan pengangkutan sampah harian, belum terdapat sistem pemilahan sampah rumah tangga maupun aturan komunitas yang mengatur pengelolaan sampah. Meskipun begitu, tingginya partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial menjadi modal penting bagi pengembangan program berbasis komunitas.

Atas dasar itu, Karang Taruna dipilih sebagai mitra utama dalam pelaksanaan program. Menurut Intan, kelompok pemuda memiliki potensi besar untuk menggerakan perubahan perilaku masyarakat sekaligus memastikan keberlanjutan program setelah kegiatan pengabdian selesai.

“Dari proses audiensi dan observasi di KS Tubun, yang dilakukan sebelum berjalannya program ini, intervensi terkait pemilahan sampah yang telah dilakukan biasanya ditargetkan untuk kelompok dewasa, terutama Ibu sebagai penanggung jawab utama rumah tangga. Namun dalam prakteknya, menjalankan sistem pemilahan sampah atau inisiatif lainnya di KS Tubun kerap juga melibatkan Karang Taruna sebagai pelaksana aktif. Inilah yang menjadi alasan mengapa kami melibatkan Karang Taruna dalam program ini.”

Selama pelaksanaan program, anggota karang Taruna mengikuti empat rangkaian kegiatan utama, yaitu talkshow mengenai sistem pengelolaan sampah Korea Selatan, pelatihan bahasa Inggris dan bahasa Korea Dasar, pengembangan jejaring global, serta praktik pengelolaan sampah di lingkungan Rusunawa KS Tubun. Peserta juga memperoleh pelatihan kepemimpinan, komunikasi lintas budaya, dan pengelolaan sampah berkelanjutan untuk mendukung kolaborasi internasional.

Pertukaran Pengetahuan untuk Solusi Lingkungan Perkotaan

Kolaborasi dengan mahasiswa Korea Selatan menjadi salah satu aspek utama dalam program ini. Selain berbagi pengalaman mengenai sistem pemilahan sampah di negaranya, mereka juga belajar memahami kondisi sosial masyarakat Indonesia serta tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah di kawasan hunian vertikal.

Salah satu peserta, Seongjae (Reyhan) Lee, mahasiswa Indonesian and Malaysian Studies, Busan University of Foreign Studies (BUFS), mengatakan keinginannya mengikuti program ini didorong oleh harapan untuk dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat Indonesia melalui pengetahuan yang dimilikinya

“As a student majoring in Indonesian studies, I have always had a goal of making a meaningful contribution to Indonesian society. I didn't want to miss the opportunity to give back to the local community, especially since I could use Korea's familiar recycling system as a reference point.”

Menurut Seongjae, sistem pengelolaan sampah di Korea Selatan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Warga terbiasa memilah sampah ke dalam berbagai kategori, seperti botol plastik, kaca, kaleng, kertas, sampah umum, hingga limbah makanan. Kebiasaan itu membuat proses daur ulang dapat berjalan secara lebih efektif.

“In Korea, we separate everything — bottles, glass, cans, paper, general trash, and more. There are probably around ten different categories. But in Indonesia, everything goes into one bin, including food waste. That is the biggest difference for me.”

Meski melihat adanya perbedaan, Seongjae menilai masyarakat Indonesia memiliki kekuatan yang justru menjadi modal penting dalam membangun pengelolaan sampah berbasis komunitas. Selama mengikuti kegiatan, ia melihat hubungan antarmasyarakat yang erat serta budaya gotong royong masih terjaga dengan baik.

“People seemed to connect with each other regularly, and I think that kind of strong bond can be a really powerful motivation when trying to run community projects.”

Selama berinteraksi dengan warga Rusunawa KS Tubun dan anggota Karang Taruna, Seongjae mengaku memperoleh banyak pelajaran yang tidak didapatkan di ruang perkuliahan. Ia melihat semangat gotong-royong dan keterbukaan masyarakat dalam menerima ide-ide baru menjadi pengalaman yang paling berkesan baginya selama mengikuti kegiatan.

Seongjae berharap kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan dalam bidang pengabdian masyarakat dapat terus berlanjut. Menurutnya, semakin banyak generasi muda dari kedua negara yang terlibat dalam kegiatan kolaboratif, semakin besar pula peluang untuk melahirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan lingkungan di masa depan.

“I hope young people won't stop caring about the environment just because it doesn't seem to affect their lives directly right now. I know everyone is busy, and I'm not saying you have to join every campaign. But if you see something about the environment on the news or on the street, I hope you can give it a little attention. I believe that attention can become public opinion, and public opinion has the power to create real change for the environment.”

Mengubah Kebiasaan, Membangun Sistem yang Berkelanjutan

Sebagai bagian dari implementasi program, masyarakat bersama dengan mahasiswa Korea Selatan juga mengikuti pelatihan pengolahan sampah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF). Kegiatan ini memperkenalkan cara mengolah sampah organik menjadi sumber daya yang bermanfaat sekaligus mendorong masyarakat untuk menerapkan praktik pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Setelah tahap implementasi, tim melanjutkan kegiatan melalui proses monitoring dan evaluasi untuk mengukur perubahan pengetahuan, sikap, perilaku, serta tingkat partisipasi masyarakat terhadap sistem yang telah diperkenalkan.

Intan menyebut tantangan terbesar dalam penerapan sistem ini masih berkaitan dengan karakteristik hunian vertikal yang memiliki ruang terbatas. Oleh karena itu, keberhasilan program memerlukan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari penyediaan fasilitas, sistem pengangkutan sampah yang teratur, hingga komitmen masyarakat untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.

Model Kolaborasi untuk Masa Depan Hunian Vertikal

Project Leader program, Getar Hati, menegaskan program ini tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan praktik pengelolaan sampah dari negara lain, tetapi juga membangun ruang kolaborasi yang mampu menghasilkan solusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

“Program ini menunjukkan bahwa isu lingkungan perkotaan dapat menjadi ruang kolaborasi global yang nyata bagi generasi muda. Melalui keterlibatan mahasiswa Korea dalam kegiatan benchmarking sistem pengelolaan sampah hunian vertikal, kami tidak hanya berbagi praktik baik antarnegara, tetapi juga membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya solusi berbasis komunitas. Yang paling penting, program ini menempatkan Karang Taruna sebagai agen perubahan utama yang mampu menggerakkan partisipasi warga, mengembangkan inovasi lokal, dan mendorong terciptanya lingkungan perkotaan yang berkelanjutan.”

Menurut Getar Hati, keterlibatan Karang Taruna menjadi strategi penting agar program tetap berjalan setelah rangkaian kegiatan selesai. Pemuda diharapkan mampu menjadi penggerak yang menjaga keberlanjutan praktik pengelolaan sampah sekaligus mengajak masyarakat untuk terus berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

Melalui dukungan hibah program EQUITY, UI berharap model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang dikembangkan di Rusunawa KS Tubun dapat menjadi rujukan bagi kawasan hunian vertikal lainnya. Kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas lokal, organisasi kepemudaan, dan mitra internasional ini diharapkan mampu memperkuat inovasi sosial sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan).

Tim Penggarap