Logo Suma

UI Memecahkan Rekor Muri Membatik Kolosal dan Paduan Suara Terbanyak dalam Puncak PKKMB 2022

Redaksi Suara Mahasiswa · 26 Agustus 2022
3 menit · - kali dibaca
UI Memecahkan Rekor Muri Membatik Kolosal dan Paduan Suara Terbanyak dalam Puncak PKKMB 2022

Acara puncak Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Indonesia (PKKMB UI) tahun ini meninggalkan kesan yang sangat membanggakan bagi UI. Menutup rangkaian agenda PKKMB UI yang telah berlangsung sejak awal Agustus, UI berhasil meraih Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Mencanting Batik oleh Mahasiswa Baru Terbanyak” dan “Paduan Suara Mahasiswa Baru Terbanyak”. Pemecahan rekor muri ini dilakukan di Lapangan Rotunda Kampus UI di Depok pada Minggu (28/08). Sebanyak 9.237 mahasiswa memenuhi kawasan Lapangan Rotunda dan Annex Balairung untuk membatik dan bernyanyi.

Acara dibuka dengan sambutan yang diberikan oleh Kepala Direktorat Kemahasiswaan Universitas Indonesia (Ditmawa UI), Badrul Munir dan Rektor UI Prof. Ari Kuncoro. Dalam sambutannya, Prof. Ari Kuncoro mengatakan bahwa pemecahan rekor muri oleh mahasiswa UI dalam bidang budaya kali ini, menunjukan bahwa UI bukan hanya unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga di bidang kebudayaan. Untuk memeriahkan acara, hadir pula berbagai komunitas seni dan budaya yang turut unjuk gigi dalam menampilkan pertunjukkan seni khas Indonesia. Sejak pagi panggung di Rotunda sudah diisi oleh penampilan Marching Band Madah Bahana UI, penampilan tari tradisional oleh Liga Tari Krida Budaya UI, penampilan musik oleh Purwacaraka, Ayu Utami, dan Paragita UI, hingga Fashion Show Wastra Budaya. Berbagai pertunjukan seni tradisional di UI ini menutup bulan kemerdekaan dengan keindahan khas Indonesia. Hal ini dituturkan oleh Koordinator Acara Puncak (22-25 Agustus) dari Tim Mahasiswa, Ahmad Mustafa Muchtar atau yang lebih akrab disapa Amu.

“Karena ini bulan kemerdekaan, masih agustus ya, karena kita ngerayain sebulan. Jadi diisi dengan hal-hal yang meningkatkan nasionalisme dan kebanggaan terhadap budaya Indonesia. Dan batik ini ya dianggap visible untuk dilakukan bersama. Yang diharapkan ya mahasiswa bisa lebih cinta lagi sama budaya Indonesia,” ucap Amu kepada awak Redaksi Suara Mahasiswa UI.

Meski terdapat pengunduran waktu (buffer time) sebanyak tiga puluh menit karena teknis mobilisasi dan absensi peserta, menurut Amu, acara puncak ini terbilang lancar dan berhasil. Menurut keterangan Amu, buffer time ini sebenarnya sudah diprediksi, karena jumlah panitia yang berbeda secara signifikan dengan peserta.

“Sebenarnya itu sudah diprediksi gitu, ada buffer time. Itu ada buffer time, cuma nggak begitu signifikan. Cuma yang dari kondisi ideal tadi itu yang agak beda adalah di absensi. Dikira kita absensi bisa selesai dengan hanya setengah jam, ternyata sembilan ribu mahasiswa ini nggak mencukupi-lah kalau hanya setengah jam. Jadi ya itu yang buat lama absensi. Karena itu yang disetorkan ke rekor MURI,” ujar Amu.

Kendala ini juga dikonfirmasi oleh Raffi Alana, mahasiswa baru UI asal Prodi Sastra Jawa 2022 yang menjadi salah satu peserta pemecahan rekor MURI tahun ini.

“Tadi kan ada perbedaan jadwal, kita dipindah dari yang sebelum membatik jadi dipindah setelah membatik. Kalau dari segi teknis, mungkin dari membatiknya itu, karena kan tempatnya berbeda dari Balairung. Ada yang kena masalah kemiringan (letak wajan dan kompor-Read), itu membuat tinta dan lilinnya tumpah,” terang Raffi.

Meski demikian, Raffi mengatakan bahwa acara puncaknya berjalan lancar dan seru, khususnya pada aktivitas membatik. Selain mahasiswa, kesuksesan acara ini disokong oleh pihak rektorat dan pihak eksternal UI yang sejak awal telah membantu memfasilitasi acara puncak tersebut. Diantaranya adalah Ditmawa UI sebagai inisiator, Unit Pelaksana Teknis Pengamanan Lingkungan Kampus Universitas Indonesia UPT PLK UI yang membantu menjaga keamanan. Dari pihak eksternal, Rolupat adalah komunitas batik yang menjadi mitra UI dalam memecahkan rekor muri bersama pada tahun 2022. Dalam hal ini, Rolupat memfasilitasi penyediaan canting dan tenaga pengajar untuk mengajarkan proses membatik dengan canting kepada mahasiswa-mahasiswa UI.

Pada akhir acara, pendiri MURI, Jaya Suprana memberikan piagam penghargaan secara resmi kepada Prof. Ari Kuncoro sebagai tanda keberhasilan pemecahan rekor MURI kali ini. Dalam pidatonya, Ia mengatakan bahwa capaian yang dilakukan UI merupakan pemecahan rekor yang mengesankan, menakjubkan, sekaligus mengharukan.

Turut bangga dengan momen sejarah pemecahan rekor MURI ini, Amu, mahasiswa FISIP angkatan 2019 mengutarakan harapannya agar dapat menularkan semangat pencapaian ini kepada perguruan tinggi lainnya di Indonesia,

“Iya, harapannya semoga ini bisa berdampak positif, bukan cuma untuk anak UI-nya aja tapi juga untuk universitas-universitas lain, biar kita ya cinta Indonesia bareng-bareng gitu ya,” tutup Amu.


Teks: Dian Amalia Ariani, Intan Eliyun
Editor: Syifa Nadia
Kontributor: Anne Wiratma

Tim Penggarap