
Payung-payung hitam kembali merapatkan barisan untuk mengangkat tuntutan keadilan hak asasi manusia (HAM) dalam memperingati 19 tahun Aksi Kamisan. Melalui tema “Bergerak, Bersolidaritas, Merebut Kedaulatan Rakyat”, aksi ini digelar pada Kamis (15/1) di depan gedung Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Masyarakat adat hingga warga sipil dari berbagai daerah turut menolak bungkam atas luka lama dan ketidakadilan negara.
Suara Penulis dan Aktivis dalam 19 Tahun Aksi Kamisan
Sejak pukul 15.30 WIB, aksi dibuka dengan penampilan teatrikal oleh para penulis dan aktivis. Mereka membacakan cerpen, puisi, dan refleksi sebagai bentuk pengingat akan terjadinya kasus pelanggaran HAM di era 1998, yang mana, hal tersebut masih terjadi hingga saat ini.
Suasana semakin hening ketika Awi Chin, penulis asal Kalimantan Barat, membagikan pengalaman pribadinya sebagai anak yang menjadi korban lemparan batu dalam kerusuhan 1998.
“Kalau berbicara soal [kerusuhan] 1998, saya masih kecil waktu itu. Setiap kali ngomongin [kerusuhan] 1998, saya masih trauma karena saya di Jakarta. Dan ini [di] pelipis saya ada bekas lemparan batu. Sampai sekarang nggak pernah hilang,” ungkap Awi. Ia kemudian membacakan puisi berjudul “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul; sebuah puisi yang memaknai rakyat sebagai “bunga” yang akan terus tumbuh meski diimpit oleh tembok kekuasaan.
Orasi dilanjut oleh perwakilan aktivis dari Greenpeace, Iqbal Damanik, yang menyoroti situasi HAM dan lingkungan hidup dalam satu tahun terakhir. Ia menyinggung berbagai bentuk intimidasi teror berupa pengiriman bangkai hewan, mulai dari tikus dan kepala babi kepada jurnalis, hingga bangkai ayam yang ia terima sendiri.
Di tengah kerumunan, para peserta aksi mengangkat mainan ayam berkokok sebagai simbol perlawanan terhadap teror dan ancaman tersebut. "Kita tidak takut dikirimin [bangkai] ayam-ayam ini. Kita akan tetap bersuara. Kita akan terus berkokok, layaknya ayam yang berkokok setiap pagi," ujar Iqbal dengan suara lantang.
Kesaksian Warga Bandung akan Penggusuran dan Perampasan
Ade Suherman selaku perwakilan warga Dago Elos menjelaskan bahwa apa yang mereka hadapi bukan hanya sengketa perdata, melainkan juga perampasan ruang hidup yang telah berlangsung selama hampir satu dekade. “Kami ini rakyat biasa, bukan orang hukum, bukan orang terpelajar. Tapi kami paham kalau tanah kami sedang dirampas,” ujar Ade tegas.
Kesaksian dilanjutkan oleh Felix, perwakilan warga Sukahaji. Dengan nada bergetar, Felix menceritakan intimidasi yang dialami komunitasnya: mulai dari pembakaran pemukiman hingga serangan fisik yang melibatkan senjata tajam dan senjata api. Ia menjelaskan bahwa ancaman penggusuran berdampak besar dalam aspek sumber penghidupan. “Kalau tanah ini hilang, bukan cuma rumah yang hilang, tapi juga sekolah anak-anak kami, masa depan kami,” tegas Felix.
Suara dari Aceh Menuntut Pengakuan Bencana Nasional
Orasi dilanjut oleh salah satu warga asal Aceh. Ia menyoroti banjir bandang yang melanda wilayah Aceh belum ditetapkan sebagai bencana nasional meskipun dampaknya masih dirasakan oleh masyarakat Aceh hingga kini. “Meskipun banjir di sana sudah tidak ada, fase pemulihan pascabencana itu sangat penting, seperti bagaimana akses pendidikan dan kesehatan mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan bahwa penetapan status bencana nasional merupakan hal yang krusial karena memungkinkan pemerintah mengeluarkan dana besar untuk pemulihan. “Alasan mengapa penetapan bencana nasional itu penting adalah agar pemerintah bisa mengeluarkan dana besar untuk pemulihan pascabencana, seperti trauma healing bagi para korban. Jika tidak ditetapkan, pemerintah tidak bisa mengeluarkan dana secara maksimal."
Kehadiran Musisi sebagai Senjata Seni yang Memeriahkan Aksi
Selain berbagai orasi dan kesaksian korban, Aksi Kamisan ke-19 juga diwarnai oleh kehadiran para musisi yang menjadikan ruang seni sebagai alat perlawanan. Salah satunya adalah Baskara Putra, vokalis grup musik .Feast dan Hindia. Ia menekankan bahwa musisi memiliki peran sebagai pencerita yang meneruskan sejarah agar generasi muda tak lupa. “Keberpihakan bisa dilakukan di ruang-ruang budaya populer,” ujar Baskara.
Aksi dilanjutkan dengan penampilan musik dari Sukatani dan The Brandals. Lagu-lagu bernuansa perlawanan dan solidaritas menggema di depan Istana Merdeka, menyatukan para peserta aksi dalam nyanyian yang menguatkan pesan bahwa perjuangan menuntut keadilan tidak hanya disuarakan lewat orasi.
Maria Sumarsih, Sosok Penting dalam Aksi Kamisan
Di tengah seluruh rangkaian aksi, sosok Ibu Sumarsih tetap menjadi poros ingatan Aksi Kamisan. Dari pengalamannya memperjuangkan keadilan atas kematian putranya, Wawan, ia memandang perjuangan ini bukan sekadar menagih pertanggungjawaban negara, melainkan juga memastikan bahwa generasi penerus bangsa tidak dibangun di atas penghapusan dan kebohongan.
“Saya berharap agar anak-anak muda jangan mau dibohongi oleh para penguasa. Saya berharap anak-anak muda menjunjung tinggi tentang kejujuran. Karena sepanjang penguasa tidak jujur, untuk mencapai Indonesia maju, jangan harap akan terwujud.”
Di antara payung hitam, orasi, lagu perlawanan, dan kesaksian para korban, Aksi Kamisan ke-19 memiliki benang merah bahwa perjuangan menuntut keadilan merupakan persoalan di masa lalu dan penentuan nasib di masa depan yang lebih berperikemanusaan dan berkeadilan.
Teks: Zalfa Izzah Kamila
Editor: Naswa Dwidayanti Khairunnisa
Foto: Dela Srilestari
Desain: Naila Shafa
Pers Suara Mahasiswa UI 2026
Independen, Lugas, dan Berkualitas!